RSS

HIKMAH KEHIDUPAN DALAM RENDANG PADANG

23 Jan

Pembaca yang budiman,

Di balik sebuah nama biasanya tersimpan sejuta makna. Demikian pula halnya dengan “Rendang Padang” masakan asli rakyat Minangkabau, Sumatera Barat. Makna dan pembelajaran apakah yang tersimpan di belakang namanya itu? Mari kita temukan dalam wacana berikut,

SURAT CINTA UNTUK CALON ISTRIKU *)

Calon istriku,

Pernikahan membuka tabir rahasia calon suami yang akan menikahi kamu. Dia tidaklah semulia nabi Muhammad Saw, tidak setakwa nabi Ibrahim, tidak setabah nabi Ayyub tetapi juga tidak segegabah nabi Musa apalagi setampan nabi Yusuf. Calon suamimu hanyalah pria akhir zaman yang bercita-cita membangun keturunan yang saleh,

Calon istriku,

Andai kau tahu siapa sebenarnya diri ini, niscaya akan sirnahlah semua kasih sayangmu padaku. Andai engkau tahu siapa sebenarnya sosok laki- laki yang akan menakhodai lautan cintamu itu, mungkin akan rubuhlah semua pondasi cintamu karena banyak hal mungkin yang membuatmu bimbang untuk meneruskan hubungan suci kita ini. Salah satunya adalah di kala aku menjawab pertanyaanmu tentang masakan kesukaanku. Bukanlah aku mengatakan bahwa kamu tidak akan bisa memberikan itu padaku karena memang dirimu tak terbiasa dengan masakan Padang yang terkesan sangat sensitif dengan kepedasannya di lidah perempuan Sunda yang lembut seperti dirimu,

Calon istriku,

Aku memberikan tamsilan dengan masakan, karena wanita itu identik sekali dengan hal masak memasak dan sangat tau dengan hal itu. “Rendang padang”, ya … itulah dia masakan kesukaanku, Dinda, aku menyukai rendang bukan hanya karena terkenal dengan kelezatannya, tapi di balik nama yang singkat itu tersimpan segudang hikmah kehidupan yang sangat luar biasa yang bisa direnungkan bagi orang yang mau mengambil pelajaran darinya,

Calon istriku,

Andai dinda tahu apa maksud di balik kata-kataku tadi, sangat mungkin akan bertambahlah rasa cinta dan kerinduan dinda pada diriku. Ketahuilah dinda, di balik nama rendang Padang itu ada hikmah, yang kesemuanya itu akan aku jelaskan agar kita sama-sama bisa belajar dari situ. Semua orang (mungkin) mengira bahwa yang paling berjasa dalam pembuatan rendang itu adalah dagingnya. Benarkah begitu? Perlu dinda ketahui bahwa sebenarnya rendang itu tak akan pernah dikenal kalau hanya mengandalkan daging yang dianggap sebagai bahan pokok untuk membuatnya, tanpa kita mengetahui apa sebenarnya support rahasia di belakang itu, dan apa bumbu adonannya sehingga rendang menjadi begitu lezat dan digemari.

Calon istriku,

Dinda mungkin jadi bertanya-tanya, ” Siapa sebenarnya yang paling berjasa di balik penamaan rendang itu, Apakah memang karena dagingnya yang membuat masakan itu jadi enak atau karena ada hal lain?” Ternyata tidak benar, karena banyak orang beranggapan bahwa “kelapa” lah sebenarnya yang paling berhak diberi  nilai A plus atas kontribusinya sehingga membuat rendang menjadi enak dan lezat. Mengapa begitu? Mari kita lihat proses yang dialami kelapa. Pada mulanya kelapa itu diambil dari pohonnya yang tinggi. Setelah itu kulitnya dikupas, dibelah, kemudian dikukur lalu itu diperas untuk mendapatkan santannya. Setelah itu barulah bisa dimasukkan ke kuali untuk diadon dengan bumbu-bumbu lain. Subhanallah, enam langkah yang dilaluinya, baru bisa dimanfaatkan untuk menjadi bumbu pokok membuat rendang. Berbeda dengan bumbu-bumbu dan bahan pokok seperti daging tadi. Akan tetapi setelah rendang itu matang, apa kata orang? “Waaah,dagingnya enak sekali”. Mengapa kelapanya tidak disebut, padahal sebenarnya daging hanyalah sebagai aktor pembantu yang datang terakhir jauh setelah semua bumbu dimasukkan? Mengapa aktor pembantu itu kemudian bisa  menjadi raja diraja ketika semuanya telah selesai.

Calon istriku

Kelapa tidak pernah iri walau namanya tak disebut, kelapa tak pernah berkecil hati ketika amal jariahnya tidak ditulis. Kalaulah kelapa mau, maka dia akan mendapatkan semua itu, tetapi kelapa tidak melakukan itu.

Calon istriku,

Dinda, aku ingin kita sama bisa mengambil pelajaran dari kisah di atas. Ini semua aku kisahkan sebagai bahan renungan bagi kita kala nanti kita sudah berumah tangga. Proses pembuatan rendang memerlukan tim- tim yang satu sama lain tidak pernah merasa dia yang paling berjasa, tapi dia saling melengkapi. Inilah pelajaran yang sangat berharga yang kita dapatkan dari masakan rendang. Kelapa yang aku sebutkan tadi hanyalah sebuah pengibaratan buat kita, karena kita adalah pionner yang akan mengarungi bahtera rumah tangga ini.

Calon istriku,

Dindalah sosok istri yang akan memberikan setetes semangat dan memberi penyejuk dahaga di kala aku kehausan dan randang itu adalah ibarat rumah tangga yang kita tempuh. Baik buruknya rumah tangga kita, bahagia atau tidaknya rumah tangga kita, tergantung kita sebagai nahkoda, dan peran kelapa yang aku sebutkan tadi adalah pengibaratan khusus buat dinda nantinya. Tatkala kelak kita sudah punya anak, keberhasilan sang anak dan kecerdasannya sebenarnya bergantung pada tarbiyatul ula sang anak di rumahnya. Bagaimana didikan sang ibu pada anaknya di waktu kecil mencerminkan bagaimana sang anak kala dewasa. Orang tua adalah hitam putihnya anak, mau diarahkan kemana sang anak, maka kuncinya juga terletak pada tarbiyah orang tua untuk mengontrol pergaulan sang anak di masa masih kecil hingga dewasanya.

Calon istriku,

Di kala anak- anak kita sudah menjadi orang yang berhasil, merasa puaslah sampai di situ. Jangan pernah berkecil hati, dan janganlah pernah mengungkit-ungkit tentang kebaikan kita pada sang anak dan meminta balasan darinya atas kesusahan kita mendidiknya sewaktu kecil. Niatkan itu sebagai ibadah. Hanya Allah lah satu- satunya yang berhak membalasi semua kebaikan kita. Semoga Allah SWT menjadikan setiap tetes peluh kita itu sebagai saksi amal perbuatan yang pernah kita lakukan,

Calon istriku,

Aku bersyukur atas do’amu setiap hari untukku. Demi luasnya tujuh langit dan dalamnya hati. Tak terukurkan kerinduanku padamu. Bukan hanya mahar dan naungan yang kupersiapkan untukmu. Aku bersiap menyambut kelembutan hatimu, kebijaksanaanmu dan ketenangan yang akan kau hadirkan untukku. Di samping itu, aku juga sering bertanya-diri, sudah pantaskah aku menjadi pendampingmu dan menjadi penyejuk hatimu?

Calon istriku,

Saat ini kita mengira seharusnya kita sudah bersama cinta, dan keridaan diantara kita belumlah cukup. Dindaku sayang, keridaan Allah lah yang akan mencukupkan cinta kita.Jika engkau rindu padaku memohonlah kepada Allah karena Dialah yang selalu menghibur dalam kesepianku. Hanya Dia-lah yang mengerti betapa aku ingin berjumpa denganmu, Hidupku takkan pernah seutuhnya tanpa dirimu, duhai cintaku.

Calon istriku,

Di sini aku juga mempersiapkan diri menyongsong hari pertemuan kita Janganlah engkau gundah, Allah sudah mengatur semuanya untuk kebahagian kita yang saling mencinta dan merindukan.

Calon istriku,

Pernikahan mengajarkan kita tentang kewajiban bersama, suami menjadi pelindung dan kamulah penghuninya. Suami adalah nakhoda kapal dan kamu adalah navigatornya. Suami bagai balita yang nakal, kamu adalah penuntun kenakalannya. Saat suami menjadi raja kamu nikmati anggur singgasananya. Ketika suami menjadi “bisa” kamulah obat penawar. Manakala suami menjadi masinis yang lancang maka bersabarlah untuk terus dan terus mengingatkannya.

Calon istriku,

Pernikahan juga mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa untuk belajar meniti sabar dan rida Allah Swt. karena kamu tak memiliki suami yang tak segagah laksamana. Kamu juga akan tersentak dari alpa, karena kamu bukanlah Khadijah yang begitu sempurna di dalam menjaga dan kamupun bukan siti hajar yang begitu setia di dalam sengsara. Walau begitu, di mataku kamu adalah wanita akhir zaman yang berusaha menjadi wanita sholehah.

_____

*) Copas dari http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/01/22/surat-cinta-untuk-calon-istriku-527813.html  dengan sedikit revisi oleh Isna Sulastri.

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 23, 2013 in Uncategorized

 

6 responses to “HIKMAH KEHIDUPAN DALAM RENDANG PADANG

  1. ermayanti

    Januari 25, 2013 at 8:17 am

    subahanalloh, begitu ya….

     
    • uniisna

      Januari 25, 2013 at 11:22 am

      Alhamdulillah, Ermayanti sudah sampai di Rumah Maya Uni.
      Terima kasih Yanti.

       
  2. ermayanti

    Januari 25, 2013 at 8:22 am

    budayakan banyak membaca supaya kita pintar menulis ,gitukan ni…

     
    • uniisna

      Januari 25, 2013 at 11:25 am

      Betul sekali Yanti.
      Iqra’ inilah perintah pertama Tuhan kepada kita selaku hamba-Nya, bukan?
      Nah … setelah membaca, kita pun dituntut berbagi melalui tulisan.
      Heheee … semoga Yanti pun sesegeranya membuat “rumah” alias blog.
      Kalau sudah ada, segera kabari Uni ya.
      Bersemangat!

       
  3. Terry Evikah FKIP B.arab-C

    Mei 3, 2013 at 2:54 pm

    Subhanalloh…ternyata sebuah kelapa pun bisa menjadi filosofi kehidupan bagi kita,yaitu berbuat baik dengan tidak di barengi riya.Terimaksih Ibu untuk tulisannya..

     
  4. M.A Karim Fadlullah

    Mei 6, 2013 at 4:18 pm

    Assalamu Alaikum warohmatullohi wabarokaatuh….
    Subhanalloh…begitu menyentuh artilkel ini. kalaulah semua orang bisa saling menghargai, menghormati dan mengakui kebaikan orang lain, maka akan damai hidup ini. mudah-mudahan kita dapat mengambil pelajaran dari artikel ini. Terima kasih uniisna. semoga bermanfaat. Amiin…..!

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: