RSS

PERAN DAN TANGGUNG JAWAB GURU BAHASA INDONESIA DALAM BIDANG FONOLOGI

05 Jan

oleh: Isna Sulastri
FKIP Uninus

 

ABSTRAK

Era globalisasi menuntut setiap guru agar senantiasa meningkatkan kompetensi dan performansinya terutama dalam bidang keahlian masing-masing. Salah satu bidang keahlian guru bahasa Indonesia adalah yang terkait dengan fonologi. Kompetensi dan performansi dalam bidang ini sangat diperlukan oleh guru bahasa Indonesia yakni sebagai fondasi baginya dalam mempelajari tatabahasa Indonesia. Wacana ini menyajikan ulasan singkat berkaitan dengan fonologi dan peran serta tanggung jawab guru bahasa Indonesia terkait dengannya.

Kata kunci: guru, fonologi, bahasa Indonesia

 

PENGANTAR

Fonologi atau  ilmu bunyi merupakan satu bidang ilmu yang  mempelajari bunyi-bunyi bahasa dari suatu bahasa pada umumnya. Para pengguna bahasa terutama guru dan atau calon guru bahasa sangat perlu   mempelajari ilmu bunyi ini karena  bahasa pertama-tama bersifat bunyi. Bagi pengguna bahasa, pengetahuan tentang bunyi-bunyi bahasa ini sangat diperlukan sebagai fondasi utama dalam mempelajari tata bahasa, dalam hal ini morfologi dan sintaksis bahasa tertentu.

Dengan pengetahuan yang memadai tentang fonologi itu, diharapkan setiap pengguna bahasa akan memiliki fondasi yang kokoh di bidang ilmu bunyi. Hal ini penting artinya bagi guru bahasa, karena menurut profesor kita, Fuad Abdul Hamied (2009),   “ … guru bahasa, seperti halnya guru mata pelajaran lainnya berada dalam  dunia pendidikan yang saat ini ditandai dengan basis kokoh pada ilmu pengetahuan”. Menurut beliau, guru yang kokoh dalam ilmu pengetahuan yang dimilikinya akan mampu berkompetisi dengan baik dalam pertarungan dunia pendidikan di abad 21  ini.

Jika para guru dan pengguna bahasa sudah membekali dirinya dengan kompetensi dan performansi di bidang fonologi itu, diharapkan mereka akan terhindar dari kesulitan dalam mempelajari tatabahasa. Dengan fondasi yang kokoh dalam bidang fonologi, para pengguna bahasa akan dapat meminimalkan kekeliruan dan atau kesalahan dalam melafalkan dan atau menuliskan fonem-fonem bahasa tertentu.

Kekeliruan dalam melafalkan dan menuliskan bunyi bahasa, adakalanya  akan mengakibatkan makna kata yang dibangun oleh bunyi bahasa tersebut akan berubah. Dalam hubungan ini, Miftahul Khairah (2009) mengatakan bahwa,  “Dengan mengubah satu bunyi, kita dapat mengubah kata dan maknanya”. Untuk membuktikan pandangannya ini, beliau mengangkat contoh meat dan beat di dalam bahasa Inggris. Hanya dengan mengganti satu bunyi /m/ dalam meat dengan bunyi /b/ dalam beat menjadikan makna kedua kata itu langsung berubah. Beat bermakna “rute, dentuman gendrang, denyut” sedangkan kata benda meat  berarti “daging” (Echols dan Shadily, 1982: 52 dan 376). Berdasakan contoh tersebut, kita mengetahui bahwa kekeliruan dalam mengucapkan dan atau menuliskan satu bunyi saja ternyata membuat makna kata yang dibangun oleh bunyi-bunyi itu menjadi jauh berbeda, bukan? Oleh karenanya, guru harus mampu membimbing murid agar selalu cermat dalam mengucapkan dan menuliskan kata tertentu.

Dalam bahasa Indonesia, dapat pula diangkat beberapa contoh sejenis itu, misalnya kata “fonemik” dan “fonetik”. Kekeliruan dalam mengucapkan dan atau menuliskan satu bunyi, yakni dari bunyi /m/ dalam istilah “fonemik” menjadi bunyi /t/,  dalam “fonetik” akan mengakibatkan maksud yang ingin disampaikan oleh pembicara dan atau penulisnya akan sampai kepada pendengar atau pembaca dengan makna yang berbeda sekali. Sajian singkat mengenai  “fonetik” dan “fonemik”  ini antara lain dapat  dilihat pada https://uniisna.wordpress.com/2011/07/13/467/.

Kekeliruan-kekeliruan seperti  itulah yang tidak boleh terjadi. Guru bahasa harus  mampu menumbuhkan kesadaran di hati siswa akan akibat yang ditimbulkan oleh kekeliruan itu. Dengan demikian diharapkan murid-murid kita akan berusaha untuk selalu berhati-hati dalam melafalkan dan atau menuliskan setiap lambang bunyi yang membangun kata.

Untuk keberhasilan para pembelajar bahasa Indonesia, tentu saja tuntutan seperti itu terutama dibebankan ke pundak guru, terutama guru bahasa Indonesia. Mengapa harus guru? Karena dalam reformasi pendidikan, menurut Dede (2006) yang dikutip oleh Hamied (2009:329) “kunci perbaikan pendidikan itu ada pada guru”. Oleh karena pembicaraan sebelumnya menyangkut pembelajar bahasa Indonesia, tentu saja tanggung jawab itu berada  di pundak guru bahasa Indonesia. Karenanya guru bahasa Indonesia berkewajiban membimbing murid mengenal bunyi-bunyi bahasa Indonesia dan melatih mereka melafalkan dan atau menuliskan bunyi-bunyi tersebut dengan tepat.

Untuk itu, menurut Hamied, “ … guru perlu secara terus menerus memperoleh pendidikan dan pelatihan”. Nah, Anda yang kini membaca wacana ini, sebenarnya secara tidak langsung tengah menjalani salah satu bentuk pendidikan dan pelatihan dimaksud, bukan? Oleh karena itu, wahai para guru bahasa Indonesia, mari membaca, mari kita belajar menjadi penggali dan pencinta ilmu, terutama ilmu bunyi. Mari kita jadikan fonologi ini sebagai fondasi yang kokoh bagi keberhasilan kita dalam belajar dan mengajar bahasa Indonesia. Jika ilmu bunyi sudah menjadi milik kita, selanjutnya marilah kita –dengan ikhlas– membagikan ilmu tersebut kepada murid-murid, sebagai wujud infak kita kepada insan-insan penerus yang sangat kita cintai. Dengan begitu insya-Allah –pelan tapi pasti– dunia pendidikan dan pengajaran bahasa Indonesia di masa mendatang akan lebih berkualitas dan siap bersaing di era globalisasi ini.

REALITA BAHASA DI BIDANG FONOLOGI

Kalau kita lihat kenyataan di lapangan, rupanya masih ada pengguna bahasa yang belum melafalkan dan menuliskan bunyi-bunyi bahasa tertentu sesuai pelafalan dan penulisan yang seharusnya. Di antara bunyi dimaksud adalah bunyi /f/ dalam kata  “fakir”. Kata “fakir” ini terdiri atas bunyi: /f/, /a/, /k/, /i/, dan /r/. Kata tersebut  oleh sebagian pengguna bahasa Indonesia sering diucapkan dan dituliskan menjadi “pakir” yang dibangun oleh bunyi-bunyi /p/, /a/, /k/, /i/, dan /r/, seperti dalam “pakir miskin”. Begitu pula dengan bunyi /f/ dalam kata “sifat” sering diucapkan atau dituliskan menjadi “sipat”. . Lagi-lagi, bunyi /f/ mereka ubah menjadi bunyi /p/. Hal yang sama juga terjadi pada saat pengguna bahasa melafalkan dan menuliskan kata “lafal” yang sering diubah menjadi “lapal”. Walau kekeliruan ini tidak mengubah makna kata, tetapi seyogianya tetap menjadi perhatian guru.

Tidak hanya itu.  Kalau kita dengarkan tuturan saudara-saudara kita yang berasal dari tanah Jawa, mereka sering pula mengubah bunyi /a/ menjadi bunyi /e/, misalnya dalam kata jadian “mengucapkan” yang terdiri atas bunyi /m/, /e/, /n/, /g/, /u/, /c/, /a/, /p/, /k/, /a/, /n/ seringkali mereka ucapkan menjadi “mengucapken” yang terdiri atas bunyi-bunyi “/m/, /e/, /n/, /g/, /u/, /c/, /a/, /p/, /k/, /e/, /n/”. Hal yang sama juga mereka lakukan pada sederetan kata lainnya.

Contoh:

mengharapkan menjadi mengharapken

mendengarkan menjadi mendengarken

menerangkan menjadi menerangken

Sehubungan dengan contoh di atas, professor kita,  J.S. Badudu, (1979) selaku salah seorang pakar bahasa Indonesia, mengingatkan bahwa “… tidak ada huruf dalam bahasa Indonesia yang boleh dilafalkan dua macam”. Kalau kita rajin mencermati kenyataan di lapangan, mungkin saja Anda selaku pembaca wacana ini akan menemukan banyak sekali penyimpangan jenis lainnya yang dilakukan oleh para pengguna bahasa di seantero negeri ini. Tentu saja tidak terkecuali di kalangan para guru dan murid-murid kita di sekolah, bukan? Untuk meyakinkan pembaca, silakan lakukan survei kecil-kecilan tentang ini. Setelah itu … tindaklanjutilah.

Jika realita seperti itu memang banyak ditemukan di lapangan maka selaku guru bahasa Indonesia seharusnya kita segera mengambil sikap, sebab kebiasaan seperti itu tidak boleh dibiarkan tumbuh subur di kalangan  murid-murid, apalagi di kalangan para guru. Kebiasaan seperti itu seharusnya dikurangi dan jika mungkin dihilangkan sedini mungkin, mulai dari jenjang Sekolah Dasar ( SD ).

Mengapa harus mulai dari SD? Karena Sekolah Dasar merupakan fondasi / peletak dasar segala ilmu pengetahuan yang harus dipelajari murid, termasuk ilmu bunyi sebagai bagian dari isi pelajaran bahasa Indonesia. Agar murid-murid kita memiliki kemampuan melafalkan dan menuliskan lambang bunyi dengan tepat maka pembenahan untuk ini haruslah dimulai dari kalangan para guru di jenjang yang paling dasar pula, yakni guru-guru SD.

Guru-guru pada jenjang Sekolah Dasar harus betul-betul berupaya dengan segala cara untuk membekali dirinya dengan kompetensi dan performansi tentang bunyi-bunyi bahasa. Ini sangatlah penting, guna membangun fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan dan keterampilan murid-murid di bidang bahasa Indonesia, khususnya fonologi. Inilah satu dari sekian banyak “peer” yang seharusnya diselesaikan sesegera mungkin oleh para guru bahasa Indonesia.

Jika upaya itu dilakukan, insya-Allah mutu pendidikan bahasa Indonesia di masa yang akan datang tidak akan terus terpuruk, seperti yang sering didengungkan dewasa ini. Andai kita (baca:guru bahasa Indonesia) mampu mewujudkan harapan ini, sangat mungkin di masa yang akan datang  murid-murid kita akan  siap dan mampu berkompetisi dengan siswa dari kawasan lain di era globalisasi ini.   Benarkah demikian? Jawabannya tentu saja “ya”, terutama  jika kita percaya pada pandangan Samsuri (1994:91) yang mengatakan bahwa “Orang yang sudah terlatih dalam ilmu bunyi biasanya mempunyai pengetahuan dan kemahiran menganalisis dan menghasilkan setiap bunyi bahasa, karena ia telah tahu tentang struktur dan fungsi peralatan ujar…”

Selanjutnya, kalau kita cermati tuntutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 mata pelajaran bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar, di dalamnya akan ditemukan Kompetensi Dasar (KD) yang menuntut murid-murid SD mampu melafalkan dengan tepat bunyi-bunyi bahasa Indonesia. Kompetensi dasar ini tentu harus dapat dicapai oleh murid-murid, sebab pembelajar yang sukses adalah pembelajar yang mampu mencapai kompetensi dasar yang terdapat di dalam kurikulum. Sudahkah kita membimbing murid sesuai tuntutan KD tersebut?

Persoalannya sekarang, siapakah yang seharusnya membimbing para murid di Sekolah Dasar mencapai tuntutan itu? Tanggung jawab utamanya tentulah berada di pundak guru-guru  bahasa Indonesia yang mengajar di SD bukan? Di antara guru dan atau calon guru dimaksud, termasuk Anda yang kini mempelajari fonologi melalui wacana ini. Anda setuju? Jika ya, marilah kita berpacu untuk mencerdasi diri masing-masing, dalam rangka membangun citra guru bahasa Indonesia di era kesejagatan ini.

Setelah itu mari berlomba pula membekali murid-murid kita dengan kompetensi dan performansi berbahasa melalui bimbingan dan latihan-latihan ringan di bidang fonologi ini. Dengan begitu kita dapat berharap kiranya mereka kelak akan mampu melafalkan dan menuliskan bunyi-bunyi bahasa Indonesia sesuai pelafalan dan penulisan baku yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Jika dikaitkan dengan kepentingan penelitian, khususnya penelitian tentang bahasa. Samsuri (1994:91)  pun mengatakan bahwa “Penyelidik bahasa yang ingin memperoleh hasil yang sebaik-baiknya, perlu menguasai ilmu bunyi dan pemakaiannya. Tanpa menguasai ilmu bunyi, ia akan kandas pada hasil yang tidak sempurna dan tidak memuaskan, karena bahasa pertama-tama bersifat bunyi.” Jadi, sebelum seseorang meneliti bahasa, seharusnya mereka mendalami ilmu bunyi ini terlebih dahulu, sampai dia mampu membedakan bunyi-bunyi bahasa yang terdapat dalam bahasa yang ditelitinya. Tidak hanya itu, dia harus mampu pula  mengucapkan dan menuliskannya sesuai bunyi yang didengarnya. Dengan begitu, diharapkan dia akan berhasil melaksanakan tugasnya sebagai penyelidik bahasa yang sukses. Insya-Allah.

BAS Bandung, 6 Januari 2012

______

Pembaca yang budiman,

Komentar dan kritik Anda saya tunggu dengan senang hati. Terima kasih sebelumnya.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 5, 2012 in Uncategorized

 

One response to “PERAN DAN TANGGUNG JAWAB GURU BAHASA INDONESIA DALAM BIDANG FONOLOGI

  1. Ai Fitri Padilah

    Desember 4, 2013 at 2:24 pm

    Ini menambah wawasan saya sebagai guru yang masih dalam tahap belajar, terima kasih.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: