RSS

FONOLOGI BAHASA INDONESIA ( Bagian 1 )

13 Jul

oleh: Isna Sulastri

          

PENGERTIAN FONOLOGI: Uraian dan contoh

Istilah “fonologi” berpadanan dengan  phonology di dalam bahasa Inggris. Ia merupakan satu bidang khusus dalam linguistik. Fonologi ini dulu di Amerika lebih dikenal dengan  sebutan phonemics tetapi belakangan mereka sering menggunakan istilah phonology (J.W.M. Verhaar: 1984:36). Jika kita lihat kesepakatan tim penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1988:244), fonologi dimaknai sebagai  ilmu tentang bunyi bahasa, terutama yang mencakup sejarah dan teori perubahan bunyi.

Menurut Abdul Chaer (2003:102), secara etimologi istilah “fonologi” ini dibentuk dari kata “fon” yang bermakna “bunyi” dan “logi”  yang berarti “ilmu”. Jadi, secara sederhana dapat dikatakan bahwa fonologi merupakan ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa pada umumnya. Objek kajiannya adalah “fon” atau bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.

Berdasarkan uraian sebelumnya dapat dikatakan bahwa fonologi sesungguhnya merupakan satu sub disiplin linguistik yang membicarakan tentang bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan teori-teori perubahan bunyi itu. Fonologi juga membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa dan cara menganalisnya. Dengan demikian, kegiatan mempelajari bunyi bahasa idealnya tidak hanya sebatas upaya pengenalan bunyi-bunyi itu, tetapi juga harus diiringi dengan latihan menganalisis bunyi-bunyi bahasa tersebut dari segala segi.

Sejalan dengan pandangan sebelumnya,  Verhaar (1984:36) mengatakan bahwa fonologi  merupakan bidang khusus dalam linguistik yang mengamati bunyi-bunyi suatu bahasa tertentu sesuai dengan  fungsinya untuk membedakan makna leksikal dalam suatu bahasa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, leksikal artinya bersangkutan dengan kata (Depdikbud, 1988:510). Jadi bunyi bahasa yang dimaksud oleh Verhaar di sini adalah bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi membedakan makna kata.

Perbedaan tersebut menurut Verhaar selalu terdapat dalam kata sebagai konstituen, yakni unsur bahasa yang merupakan bagian dari unsur yang lebih besar.  Oleh karena itu fonologi dipandangnya  sebagai satu cabang ilmu yang menyelidiki tentang “perbedaan minimal / minimal differences /  pasangan minimal antara ujaran-ujaran. Selanjutnya  Verhaar ( 1984:36) menjelaskan pula bahwa, “Pasangan minimal adalah seperangkat kata yang sama, kecuali dalam satu bunyi”. Pakar lainnya menyebut pasangan minimal ini dengan istilah “kata berkontras”, yaitu dua kata mirip yang memiliki satu bunyi yang berbeda dan menghasilkan makna yang berbeda pula. Bunyi yang berfungsi membedakan makna ini disebut “fonem” dan bunyi yang tidak berfungsi sebagai pembeda makna dinamai “fon”.

Untuk membuktikan apakah sebuah bunyi bahasa tergolong fonem  atau fon, terlebih dahulu harus dicari pasangan minimalnya.

Contoh pasangan minimal:

  • lupa dan rupa
  • fonemik dan fonetik
  •  putra dan putri

Dalam contoh tersebut, /l/ dan /r/ pada kata “lupa” dan “rupa”  berbeda secara fungsional. Artinya, /l/ dan /r/ merupakan fonem-fonem yang berbeda. Kata “lupa” terdiri atas bunyi /l/, /u/, /p/, dan /a/, sedangkan kata “rupa” dibangun oleh bunyi /r/, /u/, /p/, dan /a/. Kalau kita cermati kedua kata tersebut, ternyata yang berbeda hanyalah bunyi /l/ dalam kata “lupa” dengan bunyi /r/ dalam kata “rupa”. Dengan begitu,  /l/ dan /r/ di dalam bahasa Indonesia dipandang sebagai fonem, yaitu lambang bunyi yang berfungsi sebagai pembeda makna. Begitu pula dengan /m/ dan /t/ dalam kata “fonemik” dan “fonetik” serta /a/ dan /i/ dalam kata “putra” dan “putri”.  Sehubungan dengan ini, Verhaar dan Chaer menegaskan bahwa sejauh dapat dibuktikan bahwa suatu bunyi mempunyai fungsi untuk membedakan kata yang satu dari kata yang lainnya  maka lambang bunyi tersebut disebut fonem.

Perlu diketahui bahwa setiap bahasa memiliki khasanah fonem.Yang dimaksud dengan khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam suatu bahasa. Fonem yang dimiliki satu bahasa dengan bahasa yang lain tidak sama jumlahnya. Dalam hubungan ini Samsuri (1994:93) menegaskan bahwa “ … tidak ada dua bahasa yang memakai bunyi-bunyi yang sama benar”. Kalau begitu, berapakah jumlah fonem dalam bahasa Indonesia?  Silakan diskusikan dengan teman-teman Anda, dan berlatihlah menghitung serta mencari contoh-contohnya.

BIDANG KAJIAN FONOLOGI: Uraian dan contoh

Berdasarkan hierarki satuan bunyi, fonologi mencakup fonetik dan fonemik. Berkaitan dengan  ini, Verhaar (1984) mengatakan bahwa banyak ahli linguistik dewasa ini yang menganggap bahwa fonetik termasuk dalam fonologi. Walau Verhaar mengakui ini tetapi dalam bukunya yang berjudul Pengantar Linguistik Umum,  beliau  justru memberi penjelasan yang terkesan menganggap fonetik berbeda dari fonologi. Menurutnya, fonetik menyelidiki bunyi sebagaimana terdapat dalam parole sebagai objek kongkret untuk para ahli linguistik. Bagaimana dengan artikel ini? Di sini fonetik dan fonemik dibicarakan sebagai dua bidang kajian yang sama-sama berada dalam payung fonologi seperti dijelaskan dalam bagan awal tulisan ini.

SEKILAS TENTANG FONETIK

Sependek yang penulis ketahui, fonetik merupakan studi tentang bunyi-bunyi ujar. Maksudnya,  fonetik yang merupakan cabang studi fonologi  ini mempelajari bunyi bahasa tanpa menghiraukan apakah bunyi-bunyi tersebut berfungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Dalam fonetik, bunyi bahasa dipelajari menurut perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Objek kajiannya adalah  “fon “ yakni bunyi bahasa pada umumnya.

Menurut Samsuri (1994:91), “Sebagai ilmu, fonetik berusaha menemukan kebenaran-kebenaran umum dan memformulasikan hukum-hukum tentang bunyi-bunyi itu dan pengucapannya; sebagai kemahiran fonetik memakai data deskriptif daripada fonetik ilmiah guna memberi kemungkinan pengenalan dan produksi (pengucapan) bunyi-bunyi ujar itu”

SEKILAS TENTANG FONEMIK

Berbeda dengan fonetik maka fonemik sebagai cabang studi fonologi mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna. Objek kajiannya terbatas pada fonem/ bunyi bahasa yang berfungsi membedakan makna kata.

Dalam uraian sebelumnya  sudah dicontohkan bahwa  /l/ dan  /r/ dalam kata “lupa” dan “rupa” berbeda secara fungsional. Kata “lupa” terdiri atas bunyi /l/, /u/, /p/, dan /a/ selanjutnya kata “rupa” dibangun oleh bunyi /r/, /u/, /p/, dan /a/. Kalau kita cermati kedua kata tersebut ternyata yang berbeda hanyalah bunyi /l/ dalam kata “lupa” dengan bunyi /r/ dalam kata “rupa”. Oleh karena itu,  bunyi /l/ dan /r/ di dalam bahasa Indonesia, dapat dipandang sebagai fonem yaitu lambang bunyi yang berfungsi membedakan makna.

Oleh karena itu orang Indonesia – bahkan juga orang asing – yang mengerti ilmu bunyi dalam bahasa Indonesia, tidak akan pernah mengacaukan penggunaan kedua lambang bunyi itu. Mengapa? Tentu saja  karena mereka mengetahui bahwa kedua lambang bunyi itu berbeda secara fungsional.

Lain halnya dengan bahasa Jepang. Menurut Verhaar (1984: 8) “ … dalam bahasa Jepang perbedaan  [l] dan [r] tidak fungsional, karena tidak ada pasangan kata yang mengandung kedua bunyi itu yang dapat dipertentangkan”. Sehubungan dengan ini, Verhaar pun menegaskan pula bahwa “ … dalam bahasa Jepang, perbedaan antara [l] dan [r] adalah perbedaan fonetis saja”. Ini berarti bahwa dalam bahasa Jepang, [l] dan [r] bukanlah fonem, tetapi hanya merupakan lambang bunyi atau fon.

Terima kasih, semoga bermanfaat. Komentar, kritik dan saran dari pembaca sangat penulis nantikan untuk penyempurnaan isi dan bahasa wacana ini.

BAS Bandung, 13 Juli 2011

 
18 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 13, 2011 in Uncategorized

 

18 responses to “FONOLOGI BAHASA INDONESIA ( Bagian 1 )

  1. uniisna

    Juli 15, 2011 at 1:23 pm

    Pembaca yang budiman,

    Saya senang sekali jika setiap pengunjung berkenan menulis komentar, kritik dan saran penyempurnaan atas tulisan sederhana ini. Terima kasih sebelumnya.

    Wassalam,
    Isna

     
  2. Deni

    Desember 29, 2012 at 3:09 am

    membantu nih buat tugas akhir perkuliahan. Izin copy ya kakaknya!

     
    • uniisna

      Desember 29, 2012 at 1:28 pm

      Alhamdulillah. Silakan Deni, semoga bermanfaat.

       
  3. muhammad saleh

    April 24, 2013 at 1:29 pm

    makasih ya,ka.izin ane copy ya.so lg pusing nyelesain tugas.

     
    • uniisna

      April 25, 2013 at 12:11 am

      Ya sama-sama Bung Muhammad. Terima kasih pula atas kunjungan Anda ke blog Ibu semoga bermanfaat. Andai akan dipakai untuk kepentingan penulisan karya ilmiah, jangan lupa mencantumkan wacana ini sebagai sumber bahan sesuai etika penulisan karya ilmiah. Dengan demikian tentu Anda tidak akan dicap sebagai “Plagiatot”.

       
      • muhammad saleh

        Mei 6, 2013 at 6:19 pm

        iya,bu pasti di cantumkan ko.he he,sekali lagi makasih ya.

         
  4. Lacaqr@yahoo.com

    September 18, 2013 at 9:58 am

    Ibu,,tulisannya sudah di baca.,,
    makasih bu,,insyaAllah tulisannya bermanfaat.,
    by.lela lisnawati

     
    • uniisna

      September 19, 2013 at 11:20 pm

      Alhamdulillah semoga bermanfaat.
      Terima kasih atas kunjungan Lela.

       
  5. Lacaqr@yahoo.com

    September 24, 2013 at 10:56 am

    Iya sama2 ibu..:)

     
  6. Linda Nur Fahmi

    Oktober 17, 2013 at 11:12 am

    assalamualaikumm
    ibu , tulisannya sudah saya baca , semoga saya dapat menyelesaikan tugas dari ibu setelah membaca blog ini …

     
  7. Puspa Adiyuka Nurzanah

    Oktober 26, 2013 at 3:31 am

    assalamuallaikum ibu..
    ibu, tulisannya sudah saya baca.
    terima kasih untuk tulisannya ya bu.

     
  8. Ai Fitri Padilah

    Desember 20, 2013 at 4:18 pm

    Assalamu’alaikum…
    Alhamdulillah…tulisan Ibu tentang Fonologi ini menambah pengetahuan saya, Insya Allah akan terus saya kaji agar lebih mengerti. Terima kasih.

     
  9. iki

    Februari 27, 2014 at 12:28 pm

    izin mengopy ya bu,untuk tugas

     
  10. masria atib

    Mei 28, 2015 at 3:27 pm

    assalamualaikum,,alhamdulillah tulisan ibu tentang fonologi sangat membantu dlam membuat tugas”ku…terima kasih bunda….

     
  11. Jaka Budiman

    Januari 6, 2016 at 9:25 pm

    Maaf kak, saya sedikit memberi komentar. Mengenai fonemik bahasa jepang yg telah dijelaskan diatas, saya kurang setuju dengan itu. Karena saya baca dalam buku Nihongo Onseigaku karya Amanuma Yasushi, Ootsuba kazuo dan Mizutani Osamu tahun 1981, terbitan tokyo, di halaman 76, di situ dikemukakan おおざっぱりに一般化すると、それは、語頭のラ行の子音は [L] で、語中のラ行の子音は、[r] であることによる違いである。ただし、語中の場合でも『あんらくいす』『かんろ』などは、[- n : l – ] のように、[L] を使う。

    Dengan kata lain, berarti L dan R termasuk fonem kak, bukan lambang bunyi.
    Bagaimana mnrt kakak?

     
    • uniisna

      Januari 11, 2016 at 9:59 am

      Dik Jaka Budiman yang baik,

      Maaf, komentar Anda baru terbaca.
      Perlu diakui bahwa sesungguhnya Kakak tidak paham bahasa Jepang.
      Kalaulah ada info seperti yang adik pertanyakan, itu merupakan pandangan Verhaar
      yang sengaja Kakak kutip.

      Selengkapnya kutipan tersebut berbunyi, “Menurut Verhaar (1984: 8) “ … dalam bahasa Jepang perbedaan [l] dan [r] tidak fungsional, karena tidak ada pasangan kata yang mengandung kedua bunyi itu yang dapat dipertentangkan”. Sehubungan dengan ini, Verhaar pun menegaskan pula bahwa “ … dalam bahasa Jepang, perbedaan antara [l] dan [r] adalah perbedaan fonetis saja”. Ini berarti bahwa dalam bahasa Jepang, [l] dan [r] bukanlah fonem, tetapi hanya merupakan lambang bunyi atau fon ( Silakan lihat kembali keabsahannya ).

      Terima kasih sudah berkenan mampir dan mengkritisi tulisan Kakak.
      Sampai jumpa dalam diskusi selanjutnya.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: