RSS

GURU MASA DEPAN: Antara Asa dan Isu

06 Jun

oleh: Isna Sulastri

ABSTRAK

Pendidikan merupakan jantung peradaban dan denyut nadi kemajuan suatu bangsa. Banyak ilmuwan dan pemimpin  mengakui bahwa peradaban suatu bangsa berada di tangan anak bangsanya.  Merekalah yang diharapkan akan menjadi pejuang nasib bangsa kita kelak. Oleh karenanya para pelaku pendidikan –antara lain guru– tentu berkewajiban membangun karakter bangsa ini, melalui pembinaan karakter anak bangsanya. Tulisan sederhana ini dimaksudkan untuk berbagi pemikiran tentang asa dan isu seputar pendidikan serta profil guru masa depan yang didambakan bangsa kita. Ini penting karena guru merupakan ujung tombak pembangunan anak bangsa dalam rangka menyongsong “Indonesia Emas 2025”

Kata kunci: asa dan isu

   

PENGANTAR

PENDIDIKAN, apakah yang diharapkan darinya?  Agaknya  banyak yang akan menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan, “Kami menginginkan perubahan”.  Ya … inilah esensi pendidikan, yakni terwujudnya “perubahan”, tentu saja perubahan ke arah yang lebih baik. Apakah dunia pendidikan kita di Indonesia sudah mampu menghadirkan perubahan? Apakah pendidikan kita sudah berhasil membangun anak bangsa yang unggul dan berkarakter sehingga mereka siap bersaing dengan teman-teman sejagat di abad 21 ini?.

Kita tentu sudah sama-sama menyadari bahwa abad 21 dikenal dengan era globalisasinya, yang  ditandai dengan perkembangan sangat pesat di bidang teknologi dan informatika. Menurut profesor kita, Mulyasa (2003:v) “Dalam era globalisasi dan pasar bebas, manusia dihadapkan pada perubahan-perubahan yang tidak menentu. Ibarat nelayan di “lautan lepas” yang dapat menyesatkan, jika tidak memiliki “kompas” sebagai pedoman untuk bertindak dan mengarunginya”. Sudah siapkah kita  mengahadapi perubahan yang tidak menentu itu?

Pertanyaan-pertanyaan sebelumnya sempat mengusik hati penulis selaku guru. Apalagi setelah mendengar dan membaca kemajuan yang diraih negara lain seperti tetangga kita Singapura. Mereka konon selalu unggul –antara lain—dalam lomba debat sedunia. Demikian pula halnya dengan Finlandia, yang dikenal unggul dalam bidang pendidikan. Hasil survei Program for International Student Assesment (PISA) 2006 mengungkapkan bahwa kemampuan membaca siswa Finlandia tertinggi di seluruh negara maju. Tidak hanya itu, PISA 2007 juga menyebutkan bahwa kemampuan membaca siswa Finlandia tergolong kelompok atas dari 60 negara yang dinilai dalam survei itu ( http:// www. papantulisku.com/2010/11/ pendidikan-di-new-zealand-adalah-yang-html ). Kapan Indonesia bisa seperti ini?

Survei tiga tahunan itu dilakukan oleh Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dan sudah berlangsung selama 15 tahun.  Khusus untuk anak usia dini, ternyata anak-anak Finlandia menduduki peringkat kedua dalam hal memahami bacaan. Kecuali itu Finlandia juga mampu membuat semua anak menjadi “cerdas”, termasuk anak yang berkelainan khusus sekali pun.

Bagaimana realitanya dengan dunia pendidikan di  Indonesia kini? Sudah mampukah kita mengukir prestasi seperti dua negara yang dicontohkan sebelumnya? Jika belum, apakah gerangan yang salah dalam sistem pendidikan kita? Bertemali dengan ini, penulis mencoba mempertanyakannya di sini, dengan harapan dapat kiranya berbagi pandangan dan beradu nalar tentang hal-hal yang terkait dengan pertanyaan-pertanyaan tadi. Dengan membahas problema pendidikan, insya-Allah kita akan mampu menghasilkan blue-print tentang profil guru masa depan,  dalam rangka menyongsong “Indonesia Emas 2025” yang sudah lama didengungkan. Bagaimanakah caranya?

Penulis meyakini bahwa keunggulan pendidikan suatu negara pada dasarnya merupakan cerminan dari hasil sepak terjang  pemerintahnya, terutama pihak-pihak yang terkait dengan urusan pendidikan –dalam hal ini tidak terkecuali para guru–. Tentu demikian pula halnya di “negara-negara kecil” (baca! lembaga pendidikan mulai dari jenjang Pendidikan Usia Dini sampai ke Perguruan Tinggi). Jika demikian, apakah yang seyogianya  dilakukan, agar Indonesia unggul terutama dalam bidang pendidikannya?

Untuk memajukan pendidikan di negara kita, menurut penulis seyogianya diawali dengan memotret “profil pendidikan” kita –dulu dan kini–. Mengapa begitu? Antara lain karena peradaban bangsa merupakan cerminan karakter anak bangsa, sementara  karakter manusia biasanya terbentuk secara alami melalui proses pendidikan.

Berkaitan dengan itu, jika ingin melihat keberhasilan pendidikan di suatu negara, tentunya tidak dapat dilihat hanya dari realita terkini. Sejarah panjang yang dilalui pemerintah dan anak bangsa dalam memperjuangkan citra bangsanya selama ini, sangat patut untuk dikaji-ulang. Kita seyogianya bercermin pada “guru sejati”. di zaman dulu dan membandingkannya dengan profil kita selaku guru di masa kini. Artinya, kita perlu mengintrospeksi dan mengevaluasi diri masing-masing, untuk kemudian menyikapinya dengan sikap terbaik yang mampu dilakukan.

PENDIDIKAN DI INDONESIA: Seperti apakah profilnya kini?

Laporan yang diluncurkan International Institute of Management Development (IIMD) tahun 2000 mengungkapkan bahwa dari 48 negara yang diukur pada waktu itu ternyata daya saing SDM Indonesia hanya menempati urutan ke-47 (http://blogbahrul. wordpress com/2007/11/28/wajah-pendidikan-Indonesia/). Berarti urutan kedua dari bawah. Ini tentu merupakan pil pahit bagi bangsa dan  dunia pendidikan kita, bukan? Bagaimana perkembangan sesudah itu?

Laporan Forum Ekonomi Dunia mengungkapkan bahwa “indeks daya saing global” ( Global Competitiveness Index / GCI ) Indonesia mulai meningkat (Lihat! The Global Competitiveness Report 2010). Mana buktinya? Menurut catatan Kompas.com. ( dalam (http:// masa-depan. blogspot. com/ daya saing pendidikan dasar dan tinggi Indonesia 2010 secara global meningkat ).  GCI Indonesia 2010 kini berada pada posisi ke-44 dari 139 negara. Sebelumnya kita berada pada peringkat ke-54 dari 133 negara. Ini suatu peningkatan yang patut disyukuri, bukan.

Jika tingkat keberhasilan pendidikan itu kita nilai dengan menjadikan data sebelumnya sebagai komparator, menurut penulis dunia pendidikan kita (Indonesia) dapat dipandang berhasil mengukir prestasi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir (2000 s.d. 2010). Pil pahit yang terpaksa kita telan pada 2000, kini mulai terasa manis walaupun di sana-sini masih terlihat ketimpangan. Bagaimana menurut pembaca?

Informasi tentang keberhasilan tadi patut dijadikan bahan diskusi, terutama di kalangan akademikus. Menurut penulis, ini penting dilakukan minimal sebagai bahan renungan kita –guru dan atau calon guru yang membaca makalah ini–. Bertemali dengan ini, setidaknya ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan pada diri  sendiri, yaitu, “Apakah sumbangsih dan kontribusi saya pada negara atas  prestasi itu?”. Mari kita jawab saja di dalam hati masing-masing! Biasanya “Ibu Nurani” selalu menjawab dengan jujur, terutama ketika dia menyadari adanya “kontrol Malaikat”.

MENGUBAH WAJAH PENDIDIKAN: Bagaimana caranya?

Harus disadari bahwa untuk sampai pada tangga teratas, jarang ada orang yang tidak melalui anak tangga pertama, kecuali para “peloncat indah”. Demikian pula halnya ketika dunia pendidikan ingin mencapai puncak kejayaannya. Semua pelaku pendidikan perlu merenung dan melakukan evaluasi diri untuk kemudian membuat pengakuan jujur. Al hamdu lillaahi rabbil alamin, ini rupanya sudah dilakukan oleh sebagian kalangan. Bagaimana hasil renungan mereka?

Banyak pihak mengakui bahwa dunia  pendidikan di Indonesia  masih sangat mendambakan  langkah-langkah pembenahan. Pil pahit yang terpaksa ditelan pada tahun 2000, ternyata membuat Indonesia mulai merasakan nikmatnya “sehat”. Oleh karenanya sejak sembilan tahun lalu, –tepatnya sejak 2 Mei 2002–, pemerintah dalam hal ini Mendiknas  saat itu, mencanangkan “Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan”.  Upaya seperti ini menurut E. Mulyasa (2003) dipandang sebagai  momentum yang tepat  dalam rangka mengantisipasi era kesejagatan, khususnya era globalisasi  pasar bebas di lingkungan  negara-negara  ASEAN  seperti halnya AFTA (Asean Free Trade Area)  dan  AFLA  (Asean Free Labour Area).

Gerakan peningkatan mutu pendidikan yang dicanangkan Mendiknas itu tentunya dimaksudkan untuk membangun masa depan yang kini semakin menantang. Berkaitan dengan upaya ini, M. Eddy Wibowo (dalam Dadang Dally, 2005:1) mengungkapkan bahwa,

“… masa depan sering diidentikkan dengan generasi penerus yang memiliki  kualitas dan tanggung jawab  terhadap kelangsungan hidup bangsa dan negara. Oleh karena itu, untuk menjawab tantangan tersebut, yang diperlukan adalah generasi  terdidik yang dibekali  keahlian melalui pendidikan. Dengan demikian pendidikan harus menjadi kata kunci yang paling penting dalam menyiapkan generasi  mendatang yang bermutu”.

Bertemali dengan cerita tentang keberhasilan Indonesia seperti diungkapkan sebelumnya, Menteri Pendidikan Nasional Indonesia,  M. Nuh (17 September 2010) menghimbau agar   kita –terutama guru– tidak terlalu bersenang-senang dulu atas prestasi itu. Semua pihak yang terlibat dalam urusan pendidikan seharusnya tetap bekerja keras demi kemajuan pendidikan. Ini penting, karena disadari atau tidak, sesungguhnya bangsa kita kini masih dilanda “krisis multidimensi” dalam berbagai aspek kehidupan.

Berkaitan dengan itu Djatmiko (2010)  menegaskan bahwa  “Penyelenggaraan pendidikan perlu direformasi sehingga dapat mewujudkan pendidikan terpadu yang mencakup:  jalur, sistem, tujuan, kurikulum, proses pembelajaran, lokasi/wilayah, dan manajemen” (http://blog.uny.ac.id/istantowd/files/2010/10 /Pendidikan-vokasi-berciri- keunggulan-lokal.pdf). Jika ini akan diwujudkan, tentu menuntut perhatian dan sepak terjang semua pihak terkait. Dalam hubungan ini, tentulah menjadi sebuah keniscayaan jika penanggulangan krisis ini sebagian dibebankan kepada para pelaku pendidikan di negara yang kita cintai ini, terutama “guru”.

Mengapa harus guru? Menurut Moh. Natsir (dalam Adian Husaini, 2010:6), “Jika ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan disegani di dunia, wujudkanlah guru-guru yang mencintai pengorbanan dan bisa menjadi teladan bagi bangsanya”. Kutipan ini sebenarnya merupakan ungkapan yang meluncur dari mulut orang asing yakni Dr. G.J. Nieuwenhuis. Menurut pandangan Husaini tampaknya ungkapan itu sangat dipercaya oleh Natsir, pahlawan nasional kita ini.

Bertemali dengan itu, Natsir menegaskan bahwa yang dibutuhkan bangsa kita adalah “guru sejati” dan Husaini menulis nama Natsir sebagai salah satu contoh figur guru sejati. Hasil sepak terjang beliau –sebagai guru yang patut digugu dan ditiru–, kini masih terdengar di seantero negeri ini ( bacalah kisah-kisah tentang Moh. Natsir).

Guru sejati menurut Natsir bukanlah guru yang tugasnya hanya mengajar di kelas-kelas fomal, tetapi lebih dari itu. Guru sejati adalah semua orang ( orang tua, pendidik, pemimpin bangsa, ulama, dan apa pun lagi namanya ) yang siap berkorban demi membangun bangsa dan anak-anak bangsanya.

Mereka itu biasanya memiliki pribadi yang utuh, sehingga layak mendapatkan prediket “Teladan”.  Mereka itu adalah insan-insan yang hadir di kancah pendidikan atas “panggilan jiwanya”. Guru seperti inilah (mungkin) yang disebut-sebut oleh para pakar sebagai guru yang berkarakter dan juga beradab. Kalau kita mau menengoknya ke  “Universitas Kehidupan” (UK) sebenarnya di sini banyak guru-guru sejati, tetapi para petinggi di negeri ini (mungkin) belum sempat melirik mereka.

Bagaimanakah bentuk penghargaan yang layak untuk para guru sejati itu? Berupa selembar “sertifikat” sertifikasikah? Menurut penulis, –jika dasar penilaian sertifikasi masih seperti isu yang beredar selama ini–, tentulah itu sangat tidak tepat diberikan sebagai penghargaan untuk guru-guru sejati tadi. Mengapa? Karena mereka guru yang berkarakter dan beradab. Guru seperti ini biasanya tidak mau berebut untuk “membeli” sertifikat. Mereka umumnya lebih memilih “hidup nyaman”  walaupun tanpa sertifikat sertifikasi. Anak muda kita, kini ternyata banyak yang berpendirian seperti ini. Benarkah? Ini sebuah pertanyaan yang layak diwujudkan menjadi sebuah penelitian ilmiah, terutama oleh kalangan akademikus.

Contoh guru sejati dalam bidang bahasa di UK, antara lain adalah Ayib Rosidi ( putra Majalengka, Jawa Barat), seorang tokoh sastra. Beliau tercatat sebagai siswa yang konon tidak menamatkan pendidikan Taman Siswanya di Jakarta (1956) , tetapi sejak 1981  beliau dipercaya menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka). Di samping sebagai guru besar di Osaka, beliau juga dipercaya mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daigaku (1982-1994) (http://sentrablog.blogspot. com/2010/12/tokoh-tokoh-yang-meraih …).

Begitulah dunia menghargai guru sejati, tidak selalu hanya “berbasis ijazah” atau sertifikat. Apakah Indonesia berani melakukan hal serupa itu, minimal di dunia pendidikan? Entahlah. Konon, untuk mendapatkan sertifikat sertifikasi saja guru harus pusing tujuh keliling, padahal katanya itu sebagai “penghargaan” untuk guru yang berdedikasi. Akibatnya demi memenuhi persyaratan, sebagian guru “menghalalkan segala cara” hanya demi selembar kertas sakti itu. Jadi nyaman atau jadi susahkah guru karena penghargaan yang diberikan oleh pemerintah kepadanya? Apalagi untuk dosen, disyaratkan harus memiliki ijazah Magister terlebih dahulu. Bagaimana dengan guru-guru dan dosen-dosen yang sudah terlanjur tua sebelum aturan sertifikasi itu ada? Apakah pemerintah juga berupaya memikirkan nasib mereka?

Realita itu sepatutnya dijadikan bahan renungan, terutama oleh para pengambil kebijakan di negara kita yang hingga kini ternyata masih “berbasis ijazah”. Ini berbeda dengan tuntutan kurikulum kita. Kurikulum menuntut guru agar mengajar dan menilai siswa dengan “berbasis kompetensi dan performansi” seperti tersurat dan tersirat di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Mengapa penilaian untuk guru masih harus (hanya) berbasis ijazah, tidak berbasis kompetensi dan performansi?

Itulah (mungkin) perbedaan kita dengan negara lain yang sudah lebih maju, dalam bidang pendidikan. Mereka kelihatannya lebih mengutamakan kompetensi dan performansi gurunya. Buktinya, warga negara kita yang tidak memiliki ijazah Taman Siswa –seperti Ayib Rosidi– tadi pun tetap   diakui oleh dunia sebagai tokoh yang sukses sehingga diakui sebagai “guru besar” di negara mereka.  

Kalau demikian, apakah di masa yang akan datang kita (baca: pemerintah dan para pemimpin di lembaga pendidikan) akan menjadikan “guru sejati” sebagai syarat “pengakuan” ataukah mungkin justru lebih memilih guru yang memiliki setumpuk ijazah dan segudang sertifikat?. Atau mungkinkah kita akan mampu belajar berani melakukan terobosan seperti yang dilakukan orang asing terhadap bapak kita Ayib Rosidi dan sederetan tokoh dunia lainnya? Entahlah. Kita tunggu saja, semoga para petinggi di negara yang kita cintai ini akan belajar untuk “melangkah dengan hati” sesuai tuntutan sila-sila terkait dalam Pancasila.

MENUJU PENDIDIKAN UNGGUL: Bagaimana caranya?     

Sajian sebelumnya sudah menjelaskan bahwa keinginan untuk memajukan pendidikan seyogianya diawali dengan melihat secara seksama sejarah panjang percaturan pendidikan kita. Dengan begitu mudah-mudahan “profil pendidikan” akan terlihat dengan lebih nyata. Oleh karenanya pelaku pendidikan dan semua pihak terkait, idealnya siap bersinergi untuk membangun anak-anak bangsa di negara yang sangat kita cintai ini yakni “Indonesia cerdas yang berkarakter dan beradab”.

Mengapa kita harus bersinergi? Dasar pemikirannya sederhana. Terlepas dari pro-kontra terhadap Presiden kita, Susilo Bambang Yudoyono (SBY) penulis masih meyakini ucapan beliau yang antara lain berbunyi “Bersama kita bisa”. Prinsip ini sudah terlebih dahulu dibuktikan oleh saudara-saudara kita dari Minangkabau dengan “Gebu Minangnya”, walaupun itu terutama untuk pembangun fisik.

Bagaimana dengan urusan pembangunan pendididikan? Untuk ini penulis meyakini pula pandangan yang mengatakan bahwa sesungguhnya  “Tidak seorang pun yang mengetahui segala sesuatu, tapi setiap orang tentulah mengetahui tentang sesuatu”.  Prinsip seperti  ini juga sudah sejak dulu membudaya di dalam masyarakat Minangkabau. Ini terlihat dalam pepatah mereka yang berbunyi, “Bagaikan tungku nan tigo sajarangan”. Dalam masyarakat Minang, tungku nan tigo sajarangan ini biasanya berupaya meluangkan waktunya untuk “duduk bersama” merancang segala sesuatu demi kemaslahatan umat. Ketika duduk bersama ini, mereka menghimpun ide-ide cemerlang dari semua pihak yang peduli. Ide-ide yang dihimpun ternyata berhasil membangun “menara ide” yang kemudian mereka olah menjadi sebuah blue-print.

Jika blue-print sudah ada, mereka pun memonitor implementasinya sesuai adat yang berlaku di sana. Ini terlihat antara lain melalui ungkapan mereka yang berbunyi Adat basandi sarak, sarak basandi Kitabullah. Jadi, ketika tanda-tanda akan ada penyimpangan mulai terdengar dan terbaca,  mereka segera bekerja sesuai perintah Allah, “Katakanlah walaupun pahit sekali pun”. Bertemali dengan ini maka semua pihak dituntut berjiwa besar manakala ada yang “disapa” oleh Tim Monitoring.

Mungkin karena sifat dan kebiasaan “siap menyapa” itu pulalah makanya banyak orang mengatakan bahwa “Rendang Padang itu pedas”. Akan tetapi, jika ada yang mau mengunyahnya sampai tiga puluh tiga kali, insya-Allah dia akan merasakan bahwa Rendang Padang itu ternyata hampir semanis gula jawa, he heee. Tidak percaya? Cobalah! Bertemali dengan ini menurut penulis monitoring itu penting artinya. Bagaimana pun bagusnya sebuah perencanaan, jika tidak diimplementasikan dengan sebaik dan setepat mungkin, hasilnya akan mengecewakan hati pihak-pihak tertentu.

Kembali kepada upaya mengubah wajah pendidikan, kini mari kita lihat dulu faktor penentu keberhasilan pendidikan. Seperti sudah disinggung sebelumnya, ada beberapa komponen yang seharusnya diperhatikan. Di antara komponen ini adalah: (1) falsafah pendidikan yang harus jelas, (2) kurikulum yang baik, (3) guru yang profesional, (4) fasilitas pendidikan yang memadai,  (5) lingkungan yang kondusif dan (6) biaya pendidikan yang murah tentunya. Kecuali yang enam ini, (7) adanya murid yang memiliki keinginan untuk berubah merupakan faktor penentu yang tidak kalah pentingnya.

Hal-hal yang berkaitan dengan itulah yang seyogianya dipertanyakan dalam bagian  selanjutnya. Mengingat keterbatasan ruang yang disediakan, tidak semua faktor itu diulas tuntas di sini. Sajian selanjutnya akah lebih banyak menyinggung perihal guru profesional dan hal-hal yang terkait dengannya.

SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA: Seperti apakah?

Untuk mengulas tentang guru masa depan tentu tidak dapat dipisahkan dengan pembicaraan tentang sistem pendidikan. Pertanyaan yang muncul kini adalah, sistem pendidikan seperti apakah yang sedang dan akan diterapkan di Indonesia guna menjawab tantangan zaman, seperti yang dideskripsikan sebelumnya? Jawaban untuk pertanyaan ini tentulah sangat bertemali dengan dasar falsafah pendidikan yang kita anut.  Jika kita akan mengacu kepada falsafah pendidikan Islam, tentu saja tujuan pendidikan yang seharusnya dicapai haruslah sejalan dengan tujuan ajaran Islam  itu. Tujuan pendidikan Islam secara lengkap dan jelas dapat kita baca dalam rumusan hasil kongres se-Dunia ke-2 yang diadakan tahun 1980 di Islamabad. Inilah antara lain isi rumusan tujuan pendidikan Islam itu.

Tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia secara menyeluruh…. Karena itu, pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik: aspek spritual, intelektual, imanajinasi, fisik, ilmiah dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif;  dan mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah, baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia. (http://anan-nur.blogspot. com/2010/08/filsafat-pendidikan-islam-mengem- bangkan_03.html).

Bagaimana dengan sistem pendidikan di Indonesia? Jika penulis tidak keliru memaknainya, Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) kita ternyata sangat sejalan dengan tujuan pendidikan Islam itu.  Kita sudah mengetahui bahwa pendidikan di Indonesia bertujuan untuk  mencerdaskan bangsa dan mengembangkan manusia lndonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan. Bukankah ini yang dimaksud dengan “ketundukan yang sempurna kepada Allah, baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia” dalam kutipan di atas?

Pendidikan juga diharapkan mampu menghasilkan pembelajar yang memiliki kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap masyarakat, bangsa, negara, dan terhadap dirinya sendiri. Siswa yang bertanggung jawab terhadap dirinya diharapkan berkeinginan untuk terus maju dan berkiprah di kancah dunia. Inilah antara lain ciri insan yang berkarakter (lihat: Arief Rachman, 2010).

Andai memang begitu, mengapa kita belum mampu mengungguli negara lain di bidang pendidikan? Menurut penulis, sangat mungkin –satu di antaranya– karena “kita kalah pada tataran implementasi”. Jika kita mengintip sistem pendidikan di negara tetangga seperti Singapura, tenyata mereka sejak 1965 sudah menjadikan pendidikan sebagai kata kunci. Keunggulan mereka, antara lain karena mereka mengimplementaskan rancangan yang sudah dibuat dengan susah payah dan dengan modal yang tidak sedikit, sementara masyarakat Indonesia konon tergolong sangat “berbakat melanggar aturan yang dibuat sendiri”. Bahkan terkadang kita melaggar aturan secara berjamaah melalui sebuah “kesepakan yang belum tentu disepakati”.

Tentang itu Adian Husaini (2010:5) pun dengan tegas mengungkapkan bahwa     “ … orang Indonesia dikenal piawai dalam menyiasati kebijakan dan peraturan …”. Ketua Program Studi Pendidikan Islam, Program Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun, Bogor ini mengangkat “Kebijakan Sertifikasi Guru” sebagai salah satu contohnya. Menurut beliau kebijakan ini bagus, tetapi pada tataran implementasi ternyata muncul tradisi berburu sertifikat. Waooow! Guru yang seperti inikah yang diberi pengakuan sebagai “guru profesional” selama ini?

Kembali kepada keunggulan yang diraih Singapura, konon kabarnya selama bertahun-tahun mereka berkembang dari satu sistem pendidikan ala Inggris yang tradisional menjadi sistem pendidikan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan individual guna mengembangkan bakat siswanya. Hasilnya seperti yang kita dengar sekarang. Sekolah-sekolah di Singapura kini terkenal dengan standarnya yang tinggi dalam kegiatan belajar mengajar.

Oleh karena itu sangatlah wajar  jika pendidikan di Singapura memperoleh penghargaan dari hampir seluruh dunia. Tidak hanya itu, lulusan sekolah Singapura diakui terbaik oleh negara Timur maupun negara Barat. Benarkah demikian adanya? (Silakan lihat antara lain di http://edukasi.kompas.com read/2010/09/17/22040792/Daya.Saing.Pendidikan. Indonesia Naik.) Ini pun merupakan satu lahan empuk yang tentunya layak diteliti. Apa pun hasilnya, penulis yakin akan ada manfaatnya untuk pengembangan pendidikan di Indonesia.

GURU PROFESIONAL: Bagaimanakah kiat membangunnya?

Dalam reformasi pendidikan, menurut Dede yang dikutip oleh Fuad Abdul Hamied (2009:329) “kunci perbaikan pendidikan itu ada pada guru”. Para gurulah yang berkewajiban membimbing murid-murid mereka menjadi insan terdidik seperti yang dikatakan Wibowo sebelumnya. Untuk dapat melaksanakan tugas mulia ini secara lebih profesional, Hamied menegaskan bahwa ,  “ … guru perlu secara terus menerus memperoleh pendidikan dan pelatihan”. Ini penting dan harus dilakukan, demi peningkatan profesionalitas diri guru-guru kita di masa mendatang. Dunia pendidikan kita kini sangat memerlukan sentuhan tangan-tangan halus dari para guru profesional ini.

Berkaitan dengan itu, Unifah (2010, dalam http://masa-depan.blogspot.com/ ) mencontohkan kebijakan yang diambil oleh Singapura yang mengharuskan guru mendapat pelatihan 100 jam per tahun. Para guru mendapat pelatihan mendasar agar mereka bisa mengembangkan metodologi dan bahan ajar untuk mendorong prestasi siswa-siswa mereka. Apakah Indonesia sudah melakukan ini?

Ternyata juga sudah. Penulis pernah mengikuti kegiatan sejenis ini sebanyak tiga kali. Pertama, dalam Penataran-Lokakarya Proyek Pengembangan Pendidikan Guru (Penlok P3G), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang diselenggarakan di senter Jakarta, 8 September s.d. 4 Oktober 1980. Dalam kegiatan ini dosen-dosen utusan dari berbagai perguruan tinggi di tanah air kita dibimbing dan dilatih sambil diberi kesempatan menikmati hidup nyaman di Hotel Kemang, Jakarta. Saat itu, penulis tercatat sebagai peserta termuda. Kedua, dalam Penlok P3G Tahap II Gelombang IV di BPG Padang. yang diselenggarakan 30 November s.d. 19 Desember 1981. Ketiga pada Program Tahap II Penataran-Lokakarya Latihan Dalam Negeri, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (Penlok P2LPTK). Yang terakhir ini diselenggarakan di Wisma Harapan, Bandung. Mulai 27 September s.d. 15 Oktober 1983.

Pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan selama lebih kurang satu bulan untuk setiap kegiatan itu menurut penulis sangatlah bermanfaat. Apakah kegiatan seperti ini masih dilanjutkan kini untuk dosen? Penulis kurang mengetahuinya karena memang tidak pernah mengikutinya lagi. Demi kokohnya fondasi ilmu tentu saja kegiatan seperti ini masih diperlukan oleh dosen-dosen, terutama dosen-dosen muda.

Bekaitan dengan itu Hamied menegaskan bahwa guru di semua bidang studi,  saat ini berada dalam  dunia pendidikan yang  ditandai dengan “basis kokoh” pada ilmu pengetahuan. Dengan tegas beliau mengungkapkan bahwa guru yang kokoh dalam ilmu pengetahuan yang dimilikinya akan mampu berkompetisi dengan baik dalam pertarungan dunia pendidikan dewasa ini. Kalau kita melihat kunci sukses pendidikan di Finlandia ternyata guru yang kokoh ini memang sangat mempengaruhi keberhasilan pendidikan di sana. Ini terlihat dari pernyataan yang berbunyi,  kunci sukses Finlandia adalah pada “gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi” (http:// http://www.papantulisku.com/2010/11/pendidikan-di-newzealand-adalah-yang-html).

 

GURU MASA DEPAN: Apakah yang diharapkan darinya?

 Guru yang  berkarakter, inilah dambaan dunia pendidikan kita dewasa ini.  Selain berkarakter, guru tentu perlu memiliki fondasi yang kokoh dalam ilmu.  Dalam Seminar Nasional yang mengusung tema Menggagas Profil Guru Masa depan” (2011), Didin merinci ciri guru masa depan sebagaimana dimaksudkan dalam tema tersebut. Menurutnya guru masa depan merupakan idealisasi postur guru modern yang mampu berperan sebagai planner, innovator, motivator, dan curriculum developer. Kecuali ciri yang dituliskan Didin ini, tentu saja ciri lain yang sudah dikedepankan sebelumnya, sangat patut diperhatikan, terutama (1) panggilan jiwa dan (2) keikhlasan untuk berkorban demi bangsa dan negara.

Sebagai planner, guru masa depan seyogianya memiliki perencanaan kerja yang jelas, sehingga setiap proses pembelajaran (learning process) yang dilakukan diharapkan akan berhasil maksimal. Guru masa depan seyogianya memiliki keyakinan diri bahwa rencana yang dibuatnya dapat diimplementasikan dengan baik dan tepat- sasaran. Untuk ini tentu saja program alternatif haruslah tersedia lengkap dalam perencanaan itu.

Selanjunya Didin pun menegaskan bahwa “Sebagai inovator, guru masa depan mesti memiliki kemauan (will) untuk melakukan pembaharuan terkait dengan pola pembelajaran, metode mengajar, media pembelajaran, sistem dan alat evaluasi, serta nurturant effect lainnya.” Guru masa depan harus mampu membelajarkan murid dalam suasana yang menyenangkan. Di sinilah peran utama panggilan jiwa tadi. Guru yang hadir di kancah pendidikan atas dasar panggilan jiwa, biasanya akan melayani murid dengan hati. Mereka akan melakukan segala cara dengan ikhlas, demi lahirnya insan-insan yang cerdas dan berkarakter. Sudahkah kita mampu menghadirkan diri seperti ini?

Selanjutnya “Sebagai motivator, guru masa depan harus memiliki motivasi untuk terus belajar dan belajar karena sejatinya setiap orang termasuk guru, bukan sesuatu yang sudah jadi tetapi proses untuk terus menjadi (process of becoming). Atas dasar pemikiran seperti inilah mungkin munculnya motto yang berisi himbauan agar kita terus  “Belajar sepanjang hayat”. Sebagai motivator, guru juga harus mampu memotivasi siswa untuk belajar dan terus belajar agar cita-cita serta harapan mereka dapat tercapai melalui proses belajar yang efektif dan produktif.

Terakhir, guru masa depan seyogianya juga sebagai curriculum developer, Artinya, guru masa depan dituntut mampu berperan sebagai agen perubahan atas kurikulum pembelajaran yang ternyata sudah tidak mampu lagi merespons tantangan zamannya,” ungkap Didin. Sudah sama-sama kita ketahui bahwa di era globalisasi ini, jarak tidak lagi menjadi penghambat bagi terlaksananya pembelajaran. Oleh karena itu kini kita dapat saling membalajarkan, di dunia nyata atau pun di alam maya. Fasilitas sudah lumayan memadai. Mengapa kita belum memanfaatkannya secara maksimal?

Jika kita mampu menghadirkan diri sesuai tuntutan yang dikedepankan sebelumnya, insya-Allah profil guru dan dosen masa depan yang diamanatkan oleh UU Guru dan Dosen No. 14/2005 dapat diwujudkan. Ada empat ciri guru dan dosen masa depan yang diharapkan, yaitu (1) professional, (2) sejahtera, (3) terlindungi, dan  (4) bermartabat. Semoga suatu saat kelak guru dan dosen di Indonesia mampu sampai ke sana. Amin ya rabbil alamin.

BAS Bandung, 6 Juni 2011

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 6, 2011 in Uncategorized

 

4 responses to “GURU MASA DEPAN: Antara Asa dan Isu

  1. uniisna

    Juli 15, 2011 at 1:25 pm

    Pembaca yang budiman,

    Saya senang sekali jika setiap pengunjung berkenan menulis komentar, kritik dan saran penyempurnaan atas wacana sederhana ini. Terima kasih sebelumnya.

    Wassalam,
    Isna

     
  2. Diana Tanjung

    Juli 20, 2011 at 5:26 pm

    main pointnya,ide tulisan ini sejalan dengan artikel diana yang sudah dipublikasikan : ),artikel yang padat : ),menurut diana ,yang namanya “Guru”bukan hanya “A person secara Akademik saja” tapi juga”Guru” dari envirotmental,experience,nature,religion,norma,Habit etc

     
  3. Mustikaratri Antariksa

    April 12, 2012 at 4:30 am

    Sesungguhnya yang saya takutkan hanya masa depan akherat anak-anak. Saya menghimbau kepada penyusun kurikulum pendidikan di Indonesia fokusnya harusnya untuk masa depan kehidupan setelah mati. Seperti pesan Nabi SAW, jika kita mengejar akhirat maka kebutuhan duniawi akan mengikuti/mengabdi.
    Saat ini terlalu mengejar materi agar bisa ‘kaya’/ banyak uang bisa beli ini-itu, piknik ke luar negeri ini-itu..ampyuuunnn dah….akhirnya menghalalkan demi target itu…..

     
    • uniisna

      April 12, 2012 at 12:45 pm

      Betul Bu Mus. Masalah karakter anak bangsa memang membuat kita risau. Ini merupakan tanggung jawab semua pihak. Oleh karena itu mari kita mulai dari diri dan keluarga sendiri.
      Terima kasih atas atensi Ibu.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: