RSS

AYAH: Nyanyian hati sang petualang cinta *)

01 Apr

Karya: Isna Sulastri


Ayah, seumur hidupmu …

hanya sekali kumelihatmu menghapus air mata

Itu pun dari kejauhan … di saatku akan berlayar

Ada apa Ayah, adakah yang membuatmu merasa getun?


Ayah, seumur hidupmu  …

hanya sekali kumelihatmu mengapus air mata

Itu pun dari kejauhan … di saatku akan berlayar

Ada apa ayah, apakah kau merisaukan keselamatanku?


Ayah, seumur hidupmu  …

hanya sekali kumelihatmu mengapus air mata

Itu pun dari kejauhan … di saatku akan berlayar

Ada apa ayah, apakah kau tahu banyak onak dan duri di seberang sana?


Ayah, seumur hidupmu  …

hanya sekali kumelihatmu mengapus air mata

Kini … la tahzan, Ayah …  la tahzan …. Ikhlaskan kepergianku, Ayah

Bukankah  kau sudah membekaliku dengan fondasi yang kokoh?


Ayah, seumur hidupmu  …

hanya sekali kumelihatmu mengapus air mata

Kini … la tahzan, Ayah … La tahzan … . Ikhlaskan kepergianku, Ayah

Bukankah pemimpin yang saleh telah kau minta tuk selalu mendampingiku?


Ayah … setelah berpuluh tahun kemudian … kini kusemakin menyadari …

Ridamu … ya … ridamu telah menjadi bibit bagiku tuk mendapatkan rida Allah

Walau onak dan duri begitu tajam di sini, al hamdu lillah … kumampu melewatinya

Kendati sering  terasa ada luka-luka kecil yang menyayat hati, tapi itu tak mengapa


Ayah … setelah berpuluh tahun kemudian … kini kusemakin menyadari …

Ridamu … ya … ridamu telah menjadi bibit bagiku tuk mendapatkan rida Allah

Walau onak dan duri begitu tajam di sini, al hamdu lillah … kumampu melewatinya

Berkat didikanmu, hingga kini kumasih mampu memanfatkan ranjau  itu sebagai guruku


Ayah … ranjau-ranjau itu sudah menjadi guru terhebat dalam hidupku

Mereka telah berjasa membuatku menjadi kuat dan tegar, Ayah

Mereka telah mendidikku  tuk selalu melakukan yang terbaik, Ayah

Karena itu … la tahzan, Ayah … tapi … tersenyumlah dalam pelukan cinta-Nya



BAS Bandung, 01 April 2011

_____

*) Terima kasih dan salam rinduku untumu guru. Ku selalu berharap dan berdoa

semoga di alam sana kau senantiasa  berada dalam pelukan cinta Sang Khalik.

Amin yaa rabbil alamin.


 
8 Komentar

Ditulis oleh pada April 1, 2011 in Uncategorized

 

8 responses to “AYAH: Nyanyian hati sang petualang cinta *)

  1. uniisna

    April 1, 2011 at 3:50 am

    Yaa Allah Yang Maha Rahim … Yang Maha Rahman
    Mohon berikan tempat terbaik, terindah, dan ternyaman untuk ayahku
    Izinkan beliau untuk selalu berada dalam kehangatan cinta-Mu yaa Allah
    Amin yaa rabbil alamin.

     
  2. ed sujai

    April 21, 2011 at 11:44 am

    wahai petualang cinta, rupanya petualanganmu tak sia-sia, semoga….

     
    • uniisna

      April 22, 2011 at 12:15 pm

      Terima kasih sudah berkunjung lagi manis. Ranjau-ranjau cinta ternyata memang bersahabat dengan goresan penuh makna. Karenanya perlu kita lalui dengan sentuhan cinta pula. Al hamdu lillahi rabbil alamain, walau … tapi kakakmu bertekad untuk tetap tersenyum dan berbagi.

       
  3. suatmo martapawira

    Mei 15, 2011 at 6:52 am

    Seseorang yang mampu menjadikan “ranjau” sebagai “guru” berarti dia telah menjalani kehidupan ini sebagai mana diisyaratkan oleh pepatah Minangkabau yang berbunyi “Alam takambang jadi guru”. Selamat! Mari kita tetap memanfaatkan UKI sebagai tempat terbaik untuk berguru.

     
  4. Crank

    Juli 15, 2011 at 1:36 pm

    Ku tumpangklan jualah rinduku pada ayahku lewat sajak dahsyat ini,
    barangkali karena rinduku tak bisa bernyanyi,
    barangkali jua karena rinduku cuma bisa bergumam.
    tapi, dalam setiap diam aku selalu merindu.
    “Selalu, Ayah”

     
  5. uniisna

    Agustus 8, 2011 at 3:59 am

    Crank yang baik hati,

    Mari kita saling menumpangkan rindu untuk sang ayah …
    walau dalam diam … bergumam … bernyanyi …
    dan … sesekali … mari kita berkicau.

    Terima kasih untuk kunjungan pertama ini.
    Sampai jumpa lagi kawan.
    Bersemangat!!!

     
  6. Eka Susilawati

    Oktober 24, 2013 at 12:03 pm

    Waw, pandai juga merangkai kata dalam puisi bundaku ini…hemm, keren

     
    • Isna

      Oktober 25, 2013 at 1:06 pm

      Idiiih …, Bunda malu ei … tapi … ya terima kasih atas apresiasi Eka.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: