RSS

MENANAM BAMBU*)

18 Mar


Anak-anak kelas XI tertawa melihat adik-adiknya disuruh menanam bambu di area taman sekolah. Ada dua hal yang membuat mereka tertawa. Pertama, mereka teringat ketika harus menanam bambu setahun yang lalu saat mereka masih duduk di kelas X. Kedua, mereka merasa bahwa adik-adiknya akan mengalami apa yang mereka alami sekarang yaitu “kebingungan”. Sudah setahun yang lalu mereka disuruh merawat bambu, namun bambu tak kunjung tumbuh. Ini sudah tahun kedua dan mereka belum juga melihat pertanda bahwa bambu yang mereka tanam akan tumbuh menjulang tinggi. Mereka merasa dibodohi dan kelak, adik-adik mereka (mungkin) juga akan merasa demikian.

Tahun berganti … dan … lagi-lagi pihak sekolah menyuruh seluruh anak-anak kelas X untuk menanam bambu. Siswa akhir yang telah menanam bambu dua tahun lalu, kembali tertawa. Menjelang kelulusan beberapa bulan lagi, mereka belum juga mendapatkan hasil tanaman mereka. Hanya bambu kecil yang tak tampak dari jauh. Hanya itu. Itukah yang mereka hasilkan selama dua tahun?

Di hari terakhir mereka menjadi murid sekolah tersebut, mereka pun dikumpulkan di sebuah ruangan. Kepala sekolah masuk dan berdiri di depan mereka dengan sesungging senyuman. Ia berbicara sebentar dan ditutupnya dengan sebuah permintaan, “Bapak minta kalian untuk berkumpul lagi di sekolah ini setahun yang akan datang. Bapak ingin memberi sesuatu untuk kalian!” ujarnya.

Ternyata benar, setahun kemudian sebagian besar alumni sekolah menengah atas tersebut telah berkumpul, dengan beragam corak budaya dan gaya. Di antara mereka ada yang telah bekerja di luar kota sehingga gaya ala perkotaan tempat ia bekerja terbawa-bawa saat berkumpul. Ada pula yang kuliah di luar negeri sehingga budaya luar negeri pun tampak jelas di dirinya. Namun yang tetap seperti dulu juga banyak. Salah satunya adalah gaya bapak kepala sekolah yang meminta mereka untuk berkumpul setahun yang lalu.

Setelah menunggu lama di ruang perkumpulan, bapak kepala sekolah yang di tunggu-tunggu akhirnya datang menghampiri . Setelah menyalami mereka semua satu per satu, bapak kepala sekolah itu pun mengajak semua yang hadir untuk berkumpul di taman sekolah. “Ayo, ikut bapak ke taman sekolah. Bapak ingin menunjukkan sesuatu!”, katanya.

Para alumni itu akhirnya mengikuti ajakan bapak kepala sekolah dan pergi ke taman sekolah tempat mereka menanam bambu ketika masih duduk di kelas X dulu. Al hamdu lillah, ternyata kini ada yang berbeda, ucap mereka. Ada banyak bambu di sana. Tidak seperti ketika mereka meninggalkan sekolah ini, hanya bambu-bambu kecil yang ada. Itu pun hanya tampak ketika didekati. Seseorang tidak akan tahu bahwa taman sekolah  memiliki banyak bambu jika mereka hanya melihat dari jauh. Namun sekarang, bambu-bambu yang menjulang tinggi telah mereka lihat.

“Anak-anak ga’ disuruh menanam bambu lagi ya Pak”, komentar salah seorang dari mereka.  “Ko’ yang ini sudah besar? Langsung dibeli dari tukang taman ya Pak?” tanya seorang alumni kepada bapak kepala sekolah. “Tidak anak-anakku. Ini adalah bambu yang kalian tanam tiga tahun yang lalu. Bapak hanya ingin menunjukkan bahwa inilah hasil jerih payah kalian. Bapak mengharapkan kalian tumbuh seperti bambu-bambu ini. Tiga tahun memperkuat akar agar kelak dapat tumbuh pada tahun keempat dengan cepat dan menjulang tinggi. Tiga tahun pula kalian belajar di sini untuk memperkuat akar, setelah itu dapat menjulang setinggi-tingginya dengan tetap berpegang pada akar!”, ujar bapak kepala sekolah.

Para alumni itu pun terdiam. Tidak ada yang berkomentar apa-apa! Rasa kagum dan ungkapan syukur terukir di hati mereka karena ternyata jika mau menanam dan merawatnya dengan ikhlas, insya-Allah pada masa panen banyak pihak yang dapat menikmati.

*) Sumber:  Radinal Muchtar dalam pembelajar.com/menanam-bambu ( dengan sedikit modifikasi dari penulis. )

 

BAS Bandung, 17 Mart 2011

Isna Sulastri, FKIP Uninus

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 18, 2011 in Uncategorized

 

2 responses to “MENANAM BAMBU*)

  1. Rina Kusumahati

    Maret 23, 2011 at 12:23 pm

    keren bu ,,🙂

     
    • Isna Sulastri

      Maret 30, 2011 at 12:36 pm

      Rina, apanya yang keren?

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: