RSS

KARAKTER: Sudahkah kita memiliki keempat indikatornya? *)

28 Jul

oleh: Isna Sulastri

FKIP Uninus


1. KARAKTER: apakah itu?

Karakter merupakan istilah yang lebih populer dari “akhlak mulia”. Dia merupakan mandat atau pesan, yang merupakan program dari Allah Swt. dalam menciptakan manusia. Karakter seseorang sebenarnya sulit untuk disembunyikan walaupun dia sudah bertopeng. Mengapa demikian? Karena karakter ini melekat dalam kepribadiannya yang utuh.

2. KARAKTER YANG BAIK; seperti apakah dia?

Dia mencerminkan sifat manusia. Sifat manusia dengan empat indikator penting.        Empat indikator penting? Apa sajakah itu?

Pertama, manusia berkarakter adalah yang berakhlak  kepada Allah Swt. Siapakah mereka? Mereka adalah orang yang hanya takut kepada Allah. Mereka adalah insan yang tidak takut pada uang dan tidak pernah  khawatir akan kehilangan kedudukan.

Kedua adalah manusia yang berakhlak kepada pribadinya sendiri. Ada beberapa ciri yang melekat kepada indikator kedua ini, di antaranya adalah (1) memiliki kepribadian yang stabil, (2) tenggang rasa dan (3) memiliki daya koreksi dan pengendalian diri.

Ketiga, yaitu mereka yang berakhlak  kepada orang lain. Mereka ini biasanya  memiliki daya toleransi yang  tinggi. Mereka biasanya sangat toleran terhadap perbedaan pendapat, toleran terhadap beragam keadaan, toleran kepada kegagalan (baca: meyakini bahwa manusia itu tidak selalu bisa sukses dalam segala bidang), dan toleran terhadap ketidakpastian.

Kecuali itu, indikator ketiga ini juga ditandai dengan adanya keinginan yang bersangkutan untuk terus meningkatkan kemampuannya dalam  berkomunikasi, terutama yang berkaitan dengan kesiapannya mendengarkan apa yang disampaikan orang lain, kendati penyampainya adalah anak kecil sekali pun.

Keempat adalah yang berakhlak kepada sesama umat, yaitu mereka yang berakhlak kepada tanaman, air, hutan, gunung, laut, dan seisi jagat ini.

Waduuuhhh keempat indikator itu ternyata mangandung nilai filsafat yang sangat tinggi. Kapankah kita dapat menghadirkan diri menjadi insan yang seperti itu? Kita harus selalu optimis, kawan. Kalau  mau terus berusaha, insya-Allah Tuhan pun akan membimbing kita. Bukankah Sang Khalik itu adalah sebaik-baiknya Pembimbing?

3. KARAKTER: Siapakah yang berperan menanamkannya?

Ada tiga pihak yang sangat berperan penting dalam hal ini, yaitu (1) keluarga, (2) sekolah dan (3) masyarakat. Ketiga pihak ini harus bersinergi. Demi menghadirkan insan-insan yang berkarakter, mari kita berpartisipasi sesuai peran masing-masing, sekecil apa pun partispasi dan upaya yang dapat kita lakukan. Tentu saja, sebelum membina orang lain kita wajib membina diri sendiri terlebih dahulu. Untuk ini, tidak usah memikirkan yang sangat muluk-muluk, yang tidak mungkin kita jangkau dalam waktu dekat. Mari kita mulai dari yang ringan-ringan saja. Misalnya, mari kita mulai membuat hari ini lebih baik dari hari kemarin dan mari kita upayakan pula membuat hari esok lebih baik lagi dari hari ini.

Bagaimana caranya? Antara lain dengan berkarya nyata seperti dikatakan oleh mantan Presiden kita, Prof. Dr. B.J. Habibie. Jadi tidak hanya sebatas berwacana dan menuntut. Contoh sederhana untuk guru antara lain adalah kalau kemarin kita membiarkan sampah berserakan di ruang kelas, kini mari kita belajar memungutnya dengan ikhlas. Inilah kerja nyata kita. Ketika guru melakukan ini, secara tidak langsung kita sudah memberi teladan pada murid di kelas itu. Inilah contoh kongkret pembinaan karakter dalam wujudnya yang paling sederhana tetapi sekaligus paling utama, yakni keteladanan.

Tidak sulit bukan?

4. MEMBINA KARAKTER: Bagaimana caranya?

Untuk menjawab pertanyaan terakhir ini, mari kita simak pandangan Arief Rachman yang penulis angkat dari bagian akhir makalah beliau. Bunyinya kurang lebih sebagai berikut.

Upaya pembinaan karakter ini tidak bisa kita lakukan seperti membalikkan telapak tangan. Oleh karena itu, beliau membekali kita ( baca: pihak-pihak yang berwenang ) dengan tip 3K, yakni (1) konsisten, (2) kontinyu, dan (3) konsekuan. Ini beliau tegaskan ulang melalui pernyataan berikut.  Sekali lagi, harus konsisten terus menerus, kontinyu dan konsekuen. Hal inilah yang bisa membuat kejujuran dan tanggung jawab menjadi mahkota manusia, bukan sebuah kebohongan dan kepalsuan. Tetapi, hal-hal yang sifatnya bisa memperkokoh dunia … sehingga menjadi bangsa dan negara yang berharkat dan bermartabat”.

Inilah kawan, oleh-oleh dari arena seminar yang dapat penulis bagikan hari ini. Barangkali isinya dapat kita manfaatkan sebagai bahan renungan. Untuk lebih jelasnya, teman-teman dapat melihat makalah beliau, setelah itu marilah kita sama-sama melakukan introspeksi diri. “Sudahkah kita memiliki keempat indikator yang beliau kedepankan itu?”    Sudahkah kita mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata, sehingga dapat diteladani minimal oleh murid-murid kita?  Terima kasih, semoga bermanfaat.

Isna Sulastri

BAS, 28 Juli 2010

_______

*)  Tulisan ini diadaptasi dari makalah Prof. Dr. Arief Rachman, M. Pd. yang dibagikan kepada peserta “Seminar Nasional Pendidikan Nilai-Karakter” yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Umum/Nilai SPs UPI bekerja sama dengan Dewan Dakwah Islamiah Indonesia, Rabu, 28 Juli 2010.

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 28, 2010 in Uncategorized

 

8 responses to “KARAKTER: Sudahkah kita memiliki keempat indikatornya? *)

  1. suatmo martapawira

    Agustus 14, 2010 at 5:14 pm

    Bagus, semoga Allah swt berkenan terus menerus membimbing kita agar dapat memiliki ke-4 ciri manusia berkarater seperti di atas.

     
    • uniisna

      Agustus 15, 2010 at 5:49 am

      @Pak Atmo. Terima kasih. Amin. Mari bersama-sama kita mengupayakannya.

       
  2. ed sujai

    Februari 16, 2011 at 12:51 pm

    Great read! tulisan-tulisan uni sangat menyentuh kalbu. Ed tunggu karya uni yang lainnya.

     
    • Isna Sulastri

      Februari 18, 2011 at 5:20 am

      Terima kasih Bu Ed … tapi komennya jangan selalu menyanjung dong. Uni menunggu kritik dan saran untuk perbaikan di masa mendatang. Kalau Bu Ed sudah membuat blok beri tahu Uni ya. Trims manis.

       
      • ed sujai

        Februari 24, 2011 at 10:35 am

        ini alamat web nya ni, sujaiz. co.cc.

         
  3. Isna Sulastri

    Maret 17, 2011 at 12:25 pm

    Al hamdu lillahi rabbil alamin …

    Ternyata kau seperti lebah, manisku …
    Walau tubuhmu kecil … tapi tak rela terhimpit
    Walau punya bisa … kau tak mau menggigit
    Dalam diammu kau memilih tetap produktif

    Selamat manisku
    Maju terus … pantang mundur

    BAS Bandung, 17032011
    Haryati

     
  4. ai maryati

    Juli 2, 2012 at 3:59 am

    Sungguh menyentuh kalbu tulisan ibu. memiliki ke empat karakter tersebut secara bersamaan memang sangat sulit sekali, tapi saya ingin sekali memiliki keempat karakter itu. terimakasih ibu, aku akan mencoba menanamkan hali itu dalam diri.

     
    • Isna Sulastri

      Juli 3, 2012 at 10:32 am

      Al hamdu lillah rabbil alamin.
      Ibu senang sekali membaca niat Bu Ai,
      semoga Tuhan meridai dan membekali kita
      dengan keempat indikator itu. Amin ya rabbil alamin.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: