RSS

MENGGUGAT FILOSOFI: Benarkah Penampilan Mencerminkan Kepribadian? *)

25 Jul

“Penampilan Mencerminkan Kepribadian”, siapakah yang tidak kenal ungkapan ini. Kita pernah mendengarnya, bahkan sebagian dari kita mungkin sering mengucapkan atau pun menganutnya. Di lingkungan keluarga, di tempat-tempat pengajian, di sekolah, di kampus, di forum-forum dan di tempat-tempat lainnya, ungkapan ini sering dikedepankan. Tuntutan untuk terus dan terus memperbaiki penampilan ini selalu dipersyaratkan, jika ingin dinilai baik oleh masyarakat di lingkungan kita.

Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, kita selalu dituntut untuk berpenampilan rapi dengan seragam sekolah. Khusus untuk siswa lelaki, kaki baju harus dimasukkan ke dalam celana dan harus memakai ikat pinggang, he hee… barangkali agar celana tidak melorot. Demikian pula halnya dengan pelajar perempuan, terdapat pula sejumlah aturan berpenampilan yang harus diikuti. Ketika beranjak ke SMP, SMA, hingga ke Perguruan Tinggi, aturan atas nama kedisiplinan dan kesopanan ini pun masih kita temukan. Salah satu contohnya yang diberlakukan di beberapa perguruan tinggi adalah mahasiswa tidak diizinkan mengikuti kuliah jika dia memakai kaos oblong. Sesampai di dunia kerja pun, setumpuk aturan disodorkan untuk dimplementasikan.

Semua aturan itu  tentu  bagus, asal saja si pembuat aturan juga melakukan hal yang sama, tidak hanya menuntut. Bagaimana realitanya? Hampir di semua lini, aturan dibuat untuk dilanggar secara berjamaah, termasuk oleh pembuat aturan itu sendiri. Jika begini…, lalu … siapakah sebenarnya yang salah??? Siapakah yang harus disalahkan???. Sekedar contoh terbaru, lihat saja aturan tentang sertifikasi guru dan dosen. Aturannya (mungkin) bagus. Visi dan missinya (mungkin) juga bagus. Tetapi… lihatlah pada tahap  implementasinya. Waow…?????. Hampir semua orang ( yang… ) menghalalkan segala cara.

Doktrin penampilan mencerminkan kepribadian ini di beberapa tempat, seakan-akan menjadi sebuah kebenaran yang tak dapat diganggu gugat. Orang-orang yang tampil dengan “baju lusuh” dan profil seakan tak berdaya,  seringkali hanya dipandang dengan sebelah mata. Mereka dinilai lebih rendah dibandingkan orang-orang yang kemejanya licin karena setrikaan, sepatunya mengkilap karena semiran, rambutnya tertata karena sisiran, dan …. ketika duduk pun oleh sebagian orang dia selalu kelihatan …??? karena berada di kursi empuk.

Dalam kajian Ilmu Komunikasi memang diyakini bahwa segala yang melekat di tubuh kita merupakan simbol. Simbol-simbol itu biasanya merepresentasikan si pengguna simbol. Oleh karena itu tentulah sebuah kekeliruan –jika tidak layak dianggap sebagai kesalahan– ketika kita dengan serta merta membuat konklusi atas penggunaan simbol itu, sebab adakalanya hal itu merupakan sebuah misinterpretasi. Interpretasi atas makna yang disimpulkan oleh komunikan terkadang berbeda dengan apa yang dimaksudkan oleh komunikatornya.

Salah satu cara untuk menghindari terjadinya misinterpretasi seperti itu (barangkali) dengan melakukan cross check dan pengamatan yang lebih fokus dan lebih mendalam terhadap simbol tersebut sebelum kita  memutuskannya menjadi sebuah konklusi. Di sinilah (mungkin) Monev ( Monitoring dan Evaluasi) menunjukkan perannya. Sudah adakah tim untuk ini di setiap lembaga? Jika sudah, apakah anggota tim sudah bekerja demi rida Allah ataukah masih terbelenggu oleh “konflik kepentingan”? Andaikan setiap kita, terutama mereka yang dipercaya sebagai Tim Monev tadi sudah bekerja demi mencari rida Allah, saya yakin –pelan tapi pasti– kita semua akan sama-sama nyaman dan sejahtera. Insya-Allah dan semoga terwujud. Amin yaa Rabb.

Sebagai insan berpendidikan –atau meminjam istilah Bung Hatta, sebagai intelegensia– selayaknya kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis mulai kini, minimal untuk dijawab sendiri. Benarkah penampilan itu mencerminkan kepribadian? Tepatkah jika  indikator-indikator kesopanan dan kemuliaan hati seseorang  dinilai hanya dari penampilan fisik yang mungkin bisa saja menipu seperti terbaca dalam pepatah Inggris yang mengatakan Look can be deceiving? Lihatlah, betapa banyak orang yang kelihatannya sangat “Islami” tetapi ternyata mereka menjadi “otak” dari beragam aktivitas yang kurang terpuji. Bertemali dengan  ini … marilah kita bersama-sama melakukan introspeksi diri dan bertanya diri, “Apakah kita sudah berpenampilan apa adanya ??? (Baca: tidak menipu)”.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentu saja harus didasarkan pada empirisme kita. Mulai hari ini mari melirik realitas di  sekeliling kita. Apakah kita dapat menemukan bahwa pengejawantahan filosofi penampilan senantiasa berbanding lurus dengan kepribadian seseorang? Valid atau justru kian absurdkah? Berapa banyakkah penjahat, penipu-penipu ulung yang berjas dan berdasi rapi berkeliaran di sekitar kita? Berapa banyak pulakah orang dengan penampilan bersih setiap saat yang ternyata tidak punya hati, angkuh dan tak punya jiwa altruistis sama sekali? Jawablah kawan. Jawablah pertanyaan-pertanyaan itu dengan menggunakan hati nurani yang diberikan Allah untuk kita. Jawablah sebagai wujud syukur kita kepada-Nya.

Setelah itu, lihat pulalah… berapa banyakkah orang yang penampilannya urakan, amburadul, dekil, bahkan compang-camping, tapi justru lebih mulia hatinya, lebih santun tutur bahasanya, lebih menghargai sesamanya, lebih mempunyai sikap empati dan… ternyata lebih indah akhlaknya dibandingkan dengan mereka yang dipandang berkepribadian baik karena penampilannya? Ternyata masih banyak, kawan.  Mereka rupanya lebih mempunyai hati nurani. Mereka lebih mensyukuri karunia Allah, walaupun untuk sementara mereka harus siap “hidup miskin” di dunia yang fana ini.  Maha besar Engkau ya Allah, … Yang Maha Mengatur seisi jagat ini, dan Yang Maha Menentukan segala-galanya. Alhamdulillahi rabbil alamin…, kawan-kawan kami ini  ternyata tidak kelaparan yaa Rabb.

Kawan…, menyikapi realitas faktual tersebut, kini kita harus belajar berani untuk  jujur pada diri sendiri dan mengakui bahwa penampilan ternyata tak selamanya mencerminkan keperibadian seseorang, sebab Look can be deceiving. Penampilan kini banyak dijadikan sebagai “topeng” oleh mereka-mereka yang tidak mempunyai hati nurani. Tengoklah para koruptor yang bersembunyi di balik penampilan bersihnya. Bersih di luar namun busuk di dalam. Kini… koruptor dalam aneka jenis dan targetnya  ternyata juga ada yang berkeliaran di sekitar kita. Oleh karena itu, So do not judge a book by the cover becouse look can be deceiving. Marilah kita belajar untuk tidak terbiasa  memvonis kepribadian seseorang hanya dari penampilannya karena kini ternyata banyak orang bertopeng.

Bertemali dengan itu maka selaku guru, kita perlu mulai pula melihat realitanya di sekitar kita, di dunia pendidikan, tempat kita hidup dan saling menghidupi. Sudahkah kita dan teman-teman kita berperilaku sesuai penampilan? Sudahkah kata-kata yang diucapkan sejalan dengan perbuatan kita? Sudahkah nasihat-nasihat yang disampaikan kepada murid juga diimplementasikan dalam kehidupan kita? Sudahkah disiplin yang diterapkan mampu kita taati kapan pun, dimana pun, dan dalam kondisi yang bagaimana pun? Mari kawan, mari  kita sama-sama belajar menjawab semua pertanyaan ini sejujur mungkin, dalam rangka melakukan introspeksi diri guna  menyongsong … Indonesia Emas 2025.

Sambil melakukan itu, marilah kita belajar pula menjawab dengan jujur pertanyaan berikut, “Fa bi ayyi alla i rabbikuma tukazziban?” (QS,  55). Kalau saya tidak keliru, pertanyaan ini diulang sampai tiga puluh satu kali dalam surat Ar-Rahman. Apakah gerangan maksudnya itu? Tentu para ustadlah yang mampu dan lebih layak untuk menjelaskannya. Mari kita tunggu dengan senang hati penjelasan beliau tentang ini.

Terima kasih, semoga bermanfaat.

Isna Sulastri

______

*) Tulisan ini diadaptasi dari http://politikana.com/baca/2010/02/16/menggugat-filosofi-benarkah-penampilan-mencerminkan-kepribadian.html.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 25, 2010 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: