RSS

MENULIS: Silabus

Isna Sulastri
FKIP Uninus

DESKRIPSI MATA KULIAH
Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki oleh setiap mahasiswa. Melalui perkuliahan ini mahasiswa dibimbing agar mereka memiliki kompetensi dan performansi  yang memadai dalam menulis karangan ilmiah. Untuk ini, mereka harus mengetahui: tujuan dan manfaat menulis karangan ilmiah, proses penulisan karangan ilmiah, peran sumber bahan dalam karangan ilmiah dan kaidah bahasa dalam karangan ilmiah. Setelah memahami teori terkait keempat hal tersebut secara rinci dan mendalam, diharapkan mereka pun mampu mengimplementasikan teori-teori yang dipelajarinya dalam menulis karangan ilmiah, Dengan demikian insya-Allah mereka pun dapat menghadirkan dirinya sebagai “Guru Bahasa Indonesia yang Profesional” kelak.

KOMPETENSI DASAR
Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan: (1) tujuan dan manfaat menulis karangan ilmiah, (2)  proses penulisan karangan ilmiah, ( 3) peran sumber bahan dalam karangan ilmiah, dan (4)  kaidah-kaidah penggunaan bahasa dalam karangan ilmiah ( terkait dengan ejaan, diksi, kalimat dan paragraf ). Berbekal pencapaian keempat tujuan itu, mahasiswa diharapkan (5) mampu membuat karya ilmiah sederhana, dalam rangka berlatih menerapkan teori yang sudah dipelajari. Setelah itu mahasiswa pun diharapkan (6) mampu menyunting naskah sendiri, sehingga menghasilkan karya ilmiah yang lebih baik.

INDIKATOR
Sesuai tuntutan kompetensi dasar di atas, diharapkan  mahasiswa mampu mencapai indikator berikut:
1)    menjelaskan hakikat karangan ilmiah;
2)    menjelaskan tujuan menulis karya ilmiah;
3)    menyebutkan tiga langkah pokok penulisan karangan ilmiah;
4)    menjelaskan langkah-langkah merancang karya ilmiah;
5)    berlatih merancang karangan karangan ilmiah;
6)    menjelaskan peranan sumber bahan dalam penulisan karya ilmiah;
7)    menjelaskan aturan dalam mengutip sumber bahan;
8)    menerapkan kaidah pengutipan dalam penulisan karya ilmiah;
9)    menjelaskan kaidah bahasa dalam karangan ilmiah;
10)    berlatih menerapkan kaidah bahasa Indonesia dalam karya ilmiah sendiri;
11)    menjelaskan hakikat menyuting karya ilmiah;
12)    menjelaskan tujuan menyunting karya ilmiah;
13)    berlatih menyunting karya ilmiah sendiri;
14)    berlatih menyunting kesalahan ejaan pada karya ilmiah sendiri;
15)    berlatih menyuntingnya kesalahan diksi pada karya ilmiah sendiri;
16)    berlatih menyuntingnya kesalahan kalimat pada karya ilmiah sendiri;
17)    berlatih menyuntingnya kesalahan paragraf pada karya ilmiah sendiri;
18)    menghasilkan karya ilmiah yan baik.

MATERI PERKULIAHAN
Agar mahasiswa memperoleh pengetahuan yang memadai tentang tulis-menulis karangan ilmiah, mereka perlu mempelajari  materi berikut.

1.    Tujuan Perkuliahan  Menulis di Perguruan Tinggi
2.    Proses Penulisan Karangan Ilmiah
2.1  Merancang
2.2  Mendraf
2.3  Menyunting
3.    Merancang Karya Ilmiah
3.1  Pengertian Merancang
3.2  Langkah Merancang
3.3  Hasil Akhir Kegiatan Merancang
3.4  Latihan Membuat Rancangan
3.5  Manfaat Kegiatan Merancang

4.    Ihwal Sumber Bahan dalam Penulisan Karya Ilmiah
4.1  Peran Sumber Bahan dalam Penulisan Karangan Ilmiah

  • Pengertian Sumber Bahan
  • Jenis Sumber Bahan
  • Manfaat Sumber Bahan
  • Hubungan Sumber Bahan dengan Daftar Pustaka

4.2  Kiat Memanfaatkan Sumber Bahan
4.3  Mengutip Bahan

  • Pengertian mengutip
  • Jenis kutipan
  • Kaidah Pengutipan
  • Latihan Memanfaatkan Kutipan dalam Karya Ilmiah

5.    Kaidah Bahasa dalam Karangan Ilmiah
5.1  Ihwal Paragraf

  • Pengertian paragraf
  • Jenis paragraf
  • Ciri paragraf yang baik

5.2  Ihwal Kalimat Efektif

  • Pengertian kalimat efektif
  • Syarat kalimat efektif
  • Contoh kalimat efektif

5.3  Ihwal Diksi

  • Pengertian diksi
  • Ketepatan dan kesesuaian diksi

5.4  Ihwal Ejaan

  • Kaidah pemakaian dan penulisan huruf
  • Kaidah penulisan kata
  • Kaidah penulisan unsur serapan
  • Kaidah tanda baca

6.    Menulis Karya Ilmiah
6.1  Sikap Ilmiah yang Perlu Dimiliki Penulis Karya Ilmiah
6.2  Latihan Menulis Karya Ilmiah sesuai Kaidah

7.    Menyunting Karangan Ilmiah
7.1  Pengertian Menyunting
7.2  Proses Menyunting
7.3  Latihan Menyunting
7.4  Manfaat Menyunting

8.     Manfaat Menulis Karya Ilmiah

PENILAIAN
Nilai akhir untuk mata kuliah Menulis ini akan diberikan jika mahasiswa sudah memenuhi semua komponen penilaian yang disajikan di bawah ini:
1)    kehadiran, minimal 75 %;
2)    tugas/latihan/kuis;
3)    Ujian Tengah Semester (UTS);
4)    Ujian Akhir Semester (UAS).
5)    Partisipasi dan kontribusi selama kegiatan tatap muka
Selain keempat komponen di atas, partisipasi dan kontribusi mahasiswa selama kegiatan tatap muka berlangsung akan diberi penghargaan dengan bobot paling tinggi.

RUJUKAN
Semua buku yang memuat materi yang tersaji dalam silabus ini, dapat digunakan sebagai rujukan. Semakin banyak dan semakin beragam buku yang dibaca oleh mahasiswa, tentunya akan semakin luas dan semakin dalam pula wawasan mereka tentang hal-hal yang terkait dengan tulis-menulis karangan ilmiah. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut siap berburu buku, terutama buku baru baru yang bermutu.
Sekedar pegangan awal, mahasiswa dapat memanfaatkan buku-buku di bawah ini. Silakan cari! Sebaiknya mahasiswa mencari buku terbitan terbaru.

* Akhadiah, S., dkk. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga
* Efendi S. Panduan Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar. Bandung: Remaja Rosdakarya
* Keraf, G.. Komposisi. Ende-Flores: Nusa Indah
* Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta: Balai Pustaka

Selamat, semoga bermanfaat

BAS, Bandung, Pebruari 2012

 
1 Komentar

Posted by pada Februari 18, 2012 in Uncategorized

 

PERAN DAN TANGGUNG JAWAB GURU BAHASA INDONESIA DALAM BIDANG FONOLOGI

oleh: Isna Sulastri
FKIP Uninus

 

ABSTRAK

Era globalisasi menuntut setiap guru agar senantiasa meningkatkan kompetensi dan performansinya terutama dalam bidang keahlian masing-masing. Salah satu bidang keahlian guru bahasa Indonesia adalah yang terkait dengan fonologi. Kompetensi dan performansi dalam bidang ini sangat diperlukan oleh guru bahasa Indonesia yakni sebagai fondasi baginya dalam mempelajari tatabahasa Indonesia. Wacana ini menyajikan ulasan singkat berkaitan dengan fonologi dan peran serta tanggung jawab guru bahasa Indonesia terkait dengannya.

Kata kunci: guru, fonologi, bahasa Indonesia

 

PENGANTAR

Fonologi atau  ilmu bunyi merupakan satu bidang ilmu yang  mempelajari bunyi-bunyi bahasa dari suatu bahasa pada umumnya. Para pengguna bahasa terutama guru dan atau calon guru bahasa sangat perlu   mempelajari ilmu bunyi ini karena  bahasa pertama-tama bersifat bunyi. Bagi pengguna bahasa, pengetahuan tentang bunyi-bunyi bahasa ini sangat diperlukan sebagai fondasi utama dalam mempelajari tata bahasa, dalam hal ini morfologi dan sintaksis bahasa tertentu.

Dengan pengetahuan yang memadai tentang fonologi itu, diharapkan setiap pengguna bahasa akan memiliki fondasi yang kokoh di bidang ilmu bunyi. Hal ini penting artinya bagi guru bahasa, karena menurut profesor kita, Fuad Abdul Hamied (2009),   “ … guru bahasa, seperti halnya guru mata pelajaran lainnya berada dalam  dunia pendidikan yang saat ini ditandai dengan basis kokoh pada ilmu pengetahuan”. Menurut beliau, guru yang kokoh dalam ilmu pengetahuan yang dimilikinya akan mampu berkompetisi dengan baik dalam pertarungan dunia pendidikan di abad 21  ini.

Jika para guru dan pengguna bahasa sudah membekali dirinya dengan kompetensi dan performansi di bidang fonologi itu, diharapkan mereka akan terhindar dari kesulitan dalam mempelajari tatabahasa. Dengan fondasi yang kokoh dalam bidang fonologi, para pengguna bahasa akan dapat meminimalkan kekeliruan dan atau kesalahan dalam melafalkan dan atau menuliskan fonem-fonem bahasa tertentu.

Kekeliruan dalam melafalkan dan menuliskan bunyi bahasa, adakalanya  akan mengakibatkan makna kata yang dibangun oleh bunyi bahasa tersebut akan berubah. Dalam hubungan ini, Miftahul Khairah (2009) mengatakan bahwa,  “Dengan mengubah satu bunyi, kita dapat mengubah kata dan maknanya”. Untuk membuktikan pandangannya ini, beliau mengangkat contoh meat dan beat di dalam bahasa Inggris. Hanya dengan mengganti satu bunyi /m/ dalam meat dengan bunyi /b/ dalam beat menjadikan makna kedua kata itu langsung berubah. Beat bermakna “rute, dentuman gendrang, denyut” sedangkan kata benda meat  berarti “daging” (Echols dan Shadily, 1982: 52 dan 376). Berdasakan contoh tersebut, kita mengetahui bahwa kekeliruan dalam mengucapkan dan atau menuliskan satu bunyi saja ternyata membuat makna kata yang dibangun oleh bunyi-bunyi itu menjadi jauh berbeda, bukan? Oleh karenanya, guru harus mampu membimbing murid agar selalu cermat dalam mengucapkan dan menuliskan kata tertentu.

Dalam bahasa Indonesia, dapat pula diangkat beberapa contoh sejenis itu, misalnya kata “fonemik” dan “fonetik”. Kekeliruan dalam mengucapkan dan atau menuliskan satu bunyi, yakni dari bunyi /m/ dalam istilah “fonemik” menjadi bunyi /t/,  dalam “fonetik” akan mengakibatkan maksud yang ingin disampaikan oleh pembicara dan atau penulisnya akan sampai kepada pendengar atau pembaca dengan makna yang berbeda sekali. Sajian singkat mengenai  “fonetik” dan “fonemik”  ini antara lain dapat  dilihat pada http://uniisna.wordpress.com/2011/07/13/467/.

Kekeliruan-kekeliruan seperti  itulah yang tidak boleh terjadi. Guru bahasa harus  mampu menumbuhkan kesadaran di hati siswa akan akibat yang ditimbulkan oleh kekeliruan itu. Dengan demikian diharapkan murid-murid kita akan berusaha untuk selalu berhati-hati dalam melafalkan dan atau menuliskan setiap lambang bunyi yang membangun kata.

Untuk keberhasilan para pembelajar bahasa Indonesia, tentu saja tuntutan seperti itu terutama dibebankan ke pundak guru, terutama guru bahasa Indonesia. Mengapa harus guru? Karena dalam reformasi pendidikan, menurut Dede (2006) yang dikutip oleh Hamied (2009:329) “kunci perbaikan pendidikan itu ada pada guru”. Oleh karena pembicaraan sebelumnya menyangkut pembelajar bahasa Indonesia, tentu saja tanggung jawab itu berada  di pundak guru bahasa Indonesia. Karenanya guru bahasa Indonesia berkewajiban membimbing murid mengenal bunyi-bunyi bahasa Indonesia dan melatih mereka melafalkan dan atau menuliskan bunyi-bunyi tersebut dengan tepat.

Untuk itu, menurut Hamied, “ … guru perlu secara terus menerus memperoleh pendidikan dan pelatihan”. Nah, Anda yang kini membaca wacana ini, sebenarnya secara tidak langsung tengah menjalani salah satu bentuk pendidikan dan pelatihan dimaksud, bukan? Oleh karena itu, wahai para guru bahasa Indonesia, mari membaca, mari kita belajar menjadi penggali dan pencinta ilmu, terutama ilmu bunyi. Mari kita jadikan fonologi ini sebagai fondasi yang kokoh bagi keberhasilan kita dalam belajar dan mengajar bahasa Indonesia. Jika ilmu bunyi sudah menjadi milik kita, selanjutnya marilah kita –dengan ikhlas– membagikan ilmu tersebut kepada murid-murid, sebagai wujud infak kita kepada insan-insan penerus yang sangat kita cintai. Dengan begitu insya-Allah –pelan tapi pasti– dunia pendidikan dan pengajaran bahasa Indonesia di masa mendatang akan lebih berkualitas dan siap bersaing di era globalisasi ini.

REALITA BAHASA DI BIDANG FONOLOGI

Kalau kita lihat kenyataan di lapangan, rupanya masih ada pengguna bahasa yang belum melafalkan dan menuliskan bunyi-bunyi bahasa tertentu sesuai pelafalan dan penulisan yang seharusnya. Di antara bunyi dimaksud adalah bunyi /f/ dalam kata  “fakir”. Kata “fakir” ini terdiri atas bunyi: /f/, /a/, /k/, /i/, dan /r/. Kata tersebut  oleh sebagian pengguna bahasa Indonesia sering diucapkan dan dituliskan menjadi “pakir” yang dibangun oleh bunyi-bunyi /p/, /a/, /k/, /i/, dan /r/, seperti dalam “pakir miskin”. Begitu pula dengan bunyi /f/ dalam kata “sifat” sering diucapkan atau dituliskan menjadi “sipat”. . Lagi-lagi, bunyi /f/ mereka ubah menjadi bunyi /p/. Hal yang sama juga terjadi pada saat pengguna bahasa melafalkan dan menuliskan kata “lafal” yang sering diubah menjadi “lapal”. Walau kekeliruan ini tidak mengubah makna kata, tetapi seyogianya tetap menjadi perhatian guru.

Tidak hanya itu.  Kalau kita dengarkan tuturan saudara-saudara kita yang berasal dari tanah Jawa, mereka sering pula mengubah bunyi /a/ menjadi bunyi /e/, misalnya dalam kata jadian “mengucapkan” yang terdiri atas bunyi /m/, /e/, /n/, /g/, /u/, /c/, /a/, /p/, /k/, /a/, /n/ seringkali mereka ucapkan menjadi “mengucapken” yang terdiri atas bunyi-bunyi “/m/, /e/, /n/, /g/, /u/, /c/, /a/, /p/, /k/, /e/, /n/”. Hal yang sama juga mereka lakukan pada sederetan kata lainnya.

Contoh:

mengharapkan menjadi mengharapken

mendengarkan menjadi mendengarken

menerangkan menjadi menerangken

Sehubungan dengan contoh di atas, professor kita,  J.S. Badudu, (1979) selaku salah seorang pakar bahasa Indonesia, mengingatkan bahwa “… tidak ada huruf dalam bahasa Indonesia yang boleh dilafalkan dua macam”. Kalau kita rajin mencermati kenyataan di lapangan, mungkin saja Anda selaku pembaca wacana ini akan menemukan banyak sekali penyimpangan jenis lainnya yang dilakukan oleh para pengguna bahasa di seantero negeri ini. Tentu saja tidak terkecuali di kalangan para guru dan murid-murid kita di sekolah, bukan? Untuk meyakinkan pembaca, silakan lakukan survei kecil-kecilan tentang ini. Setelah itu … tindaklanjutilah.

Jika realita seperti itu memang banyak ditemukan di lapangan maka selaku guru bahasa Indonesia seharusnya kita segera mengambil sikap, sebab kebiasaan seperti itu tidak boleh dibiarkan tumbuh subur di kalangan  murid-murid, apalagi di kalangan para guru. Kebiasaan seperti itu seharusnya dikurangi dan jika mungkin dihilangkan sedini mungkin, mulai dari jenjang Sekolah Dasar ( SD ).

Mengapa harus mulai dari SD? Karena Sekolah Dasar merupakan fondasi / peletak dasar segala ilmu pengetahuan yang harus dipelajari murid, termasuk ilmu bunyi sebagai bagian dari isi pelajaran bahasa Indonesia. Agar murid-murid kita memiliki kemampuan melafalkan dan menuliskan lambang bunyi dengan tepat maka pembenahan untuk ini haruslah dimulai dari kalangan para guru di jenjang yang paling dasar pula, yakni guru-guru SD.

Guru-guru pada jenjang Sekolah Dasar harus betul-betul berupaya dengan segala cara untuk membekali dirinya dengan kompetensi dan performansi tentang bunyi-bunyi bahasa. Ini sangatlah penting, guna membangun fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan dan keterampilan murid-murid di bidang bahasa Indonesia, khususnya fonologi. Inilah satu dari sekian banyak “peer” yang seharusnya diselesaikan sesegera mungkin oleh para guru bahasa Indonesia.

Jika upaya itu dilakukan, insya-Allah mutu pendidikan bahasa Indonesia di masa yang akan datang tidak akan terus terpuruk, seperti yang sering didengungkan dewasa ini. Andai kita (baca:guru bahasa Indonesia) mampu mewujudkan harapan ini, sangat mungkin di masa yang akan datang  murid-murid kita akan  siap dan mampu berkompetisi dengan siswa dari kawasan lain di era globalisasi ini.   Benarkah demikian? Jawabannya tentu saja “ya”, terutama  jika kita percaya pada pandangan Samsuri (1994:91) yang mengatakan bahwa “Orang yang sudah terlatih dalam ilmu bunyi biasanya mempunyai pengetahuan dan kemahiran menganalisis dan menghasilkan setiap bunyi bahasa, karena ia telah tahu tentang struktur dan fungsi peralatan ujar…”

Selanjutnya, kalau kita cermati tuntutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 mata pelajaran bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar, di dalamnya akan ditemukan Kompetensi Dasar (KD) yang menuntut murid-murid SD mampu melafalkan dengan tepat bunyi-bunyi bahasa Indonesia. Kompetensi dasar ini tentu harus dapat dicapai oleh murid-murid, sebab pembelajar yang sukses adalah pembelajar yang mampu mencapai kompetensi dasar yang terdapat di dalam kurikulum. Sudahkah kita membimbing murid sesuai tuntutan KD tersebut?

Persoalannya sekarang, siapakah yang seharusnya membimbing para murid di Sekolah Dasar mencapai tuntutan itu? Tanggung jawab utamanya tentulah berada di pundak guru-guru  bahasa Indonesia yang mengajar di SD bukan? Di antara guru dan atau calon guru dimaksud, termasuk Anda yang kini mempelajari fonologi melalui wacana ini. Anda setuju? Jika ya, marilah kita berpacu untuk mencerdasi diri masing-masing, dalam rangka membangun citra guru bahasa Indonesia di era kesejagatan ini.

Setelah itu mari berlomba pula membekali murid-murid kita dengan kompetensi dan performansi berbahasa melalui bimbingan dan latihan-latihan ringan di bidang fonologi ini. Dengan begitu kita dapat berharap kiranya mereka kelak akan mampu melafalkan dan menuliskan bunyi-bunyi bahasa Indonesia sesuai pelafalan dan penulisan baku yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Jika dikaitkan dengan kepentingan penelitian, khususnya penelitian tentang bahasa. Samsuri (1994:91)  pun mengatakan bahwa “Penyelidik bahasa yang ingin memperoleh hasil yang sebaik-baiknya, perlu menguasai ilmu bunyi dan pemakaiannya. Tanpa menguasai ilmu bunyi, ia akan kandas pada hasil yang tidak sempurna dan tidak memuaskan, karena bahasa pertama-tama bersifat bunyi.” Jadi, sebelum seseorang meneliti bahasa, seharusnya mereka mendalami ilmu bunyi ini terlebih dahulu, sampai dia mampu membedakan bunyi-bunyi bahasa yang terdapat dalam bahasa yang ditelitinya. Tidak hanya itu, dia harus mampu pula  mengucapkan dan menuliskannya sesuai bunyi yang didengarnya. Dengan begitu, diharapkan dia akan berhasil melaksanakan tugasnya sebagai penyelidik bahasa yang sukses. Insya-Allah.

BAS Bandung, 6 Januari 2012

______

Pembaca yang budiman,

Komentar dan kritik Anda saya tunggu dengan senang hati. Terima kasih sebelumnya.

 
1 Komentar

Posted by pada Januari 5, 2012 in Uncategorized

 

PSIKOLINGUISTIK: Silabus

oleh: Isna Sulastri

DESKRIPSI MATA KULIAH

Mata kuliah Psikolinguistik ini membahas hubungan  bahasa dengan faktor kejiwaan seseorang ( Pedoman FKIP Uninus, 2010:77 ). Materi perkuliahan  mencakup ihwal pemerolehan dan pemelajaran bahasa, khususnya bahasa Indonesia. Bertemali dengan ini maka mahasiswa selaku calon guru bahasa Indonesia perlu berusaha semaksimal mungkin untuk menguasai teori sesuai tuntutan kompetensi dasar dan indikator yang ditetapkan. Setelah itu diharapkan mahasiswa pun mampu mengimlementasikan teori yang dipelajarinya.

KOMPETENSI DASAR

Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan dapat memperoleh wawasan yang memadai tentang hal-hal berikut:

1)      bahasa, berpikir dan berbahasa;

2)      posisi psikolinguistik dalam kajian bahasa;

3)      konsep dasar psikolinguistik;

4)      pemerolehan bahasa dan seluk beluknya;

5)      pemelajaran bahasa dan seluk beluknya;

6)      hubungan bahasa dengan faktor kejiwaan;

7)      manfaat mempelajari psikolinguistik.

 

MATERI PERKULIAHAN

Untuk pencapaian tujuan sesuai tuntutan indikator di atas, seyogianya mahasiswa mempelajari dan memahami materi di bawah ini.

1.    Posisi Psikolinguistik dalam Kajian Bahasa

1.1  Hakikat Bahasa, Berpikir dan Berbahasa

1.2  Bahasa dalam Kajian Internal

1.3  Bahasa dalam Kajian Eksternal

2.   Konsep Dasar Psikolinguistik

2.1   Pengertian Psikolinguistik

2.2   Sejarah Lahirnya Psikolinguistik

2.3   Tujuan Mempelajari Psikolinguistik

2.4   Tujuh Subdisiplin Psikolinguistik

2.5   Dua Bidang Kajian Utama Psikolinguistik

3.   Ihwal Pemerolehan Bahasa

3.1  Pengertian Pemerolehan Bahasa

3.2  Proses Pemerolehan Bahasa

3.3  Perbedaan Pemerolehan Bahasa dengan Pemelajaran Bahasa

3.4  Beberapa Hipotesis tentang Pemerolehan Bahasa

3.5  Beberapa Jenis Gangguan Berbahasa

4.   Ihwal Pemelajaran Bahasa

4.1  Hakikat pemelajaran Bahasa

4.2  Sejarah Pemelajaran Bahasa

4.3  Dua Tipe Pemelajaran Bahasa

4.4  Beberapa Teori tentang Pemelajaran Bahasa

4.5  Faktor-faktor  yang Mempengaruhi Keberhasilan Pemelajaran Bahasa

4.6  Pengaruh Faktor Kejiwaan terhadap Bahasa Seseorang

 5.   Manfaat Mempelajari Psikolinguistik

5.1  Manfaat bagi pengguna bahasa pada umumnya

5.2  Manfaat bagi guru dan atau calon guru bahasa Indonesia

MODEL PERKULIAHAN

Selama mengikuti perkuliahan ini  setiap mahasiswa seyogianya  melakukan upaya maksimal untuk mendalami materi perkuliahan melalui kegiatan mandiri dan diskusi kelompok, dengan mengacu kepada buku sumber utama yang disepakati. Dengan cara seperti ini diharapkan mahasiswa dapat saling asah dan saling asuh. Setelah itu,– untuk meningkatkan penguasaan materi– maka dalam forum tatap muka akan dilakukan tanya jawab, presentasi individual/kelompok, debat, ceramah terbatas dan aneka jenis kegiatan lainnya yang memberi peluang kepada mahasiswa untuk menunjukkan kompetnsi dan performansinya.

 

PENILAIAN

Sesuai ketentuan yang tertuang dalam buku Pedoman FKIP Uninus Bandung (2010:42) maka nilai akhir untuk mata kuliah ini hanya akan diberikan jika mahasiswa sudah memenuhi semua komponen penilaian berikut:

1)      kehadiran;

2)      tugas/latihan/kuis;

3)      Ujian Tengah Semester (UTS);

4)      Ujian Akhir Semester (UAS).

Dalam penentuan nilai akhir, selain keempat komponen di atas partisipasi dan kontribusi mahasiswa selama kegiatan tatap muka berlangsung akan mendapat penghargaan paling besar dengan bobot paling tinggi di dalam mata kuliah ini.

BUKU PEGANGAN

Buku pegangan utama yang dipakai dalam mata kuliah ini adalah Psikolinguistik karangan Abdul Chaer yang diterbitkan oleh Rineka Cipta. Untuk memperluas wawasan mahasiswa maka semua buku yang memuat materi yang tersaji dalam Silabus ini juga dapat dipergunakan. Semakin banyak dan semakin beragam buku yang dibaca mahasiswa, tentunya akan semakin luas dan semakin dalam pula wawasan mereka tentang psikolinguistik dan seluk beluknya, bukan?. Oleh karena itu, seyogianya setiap  mahasiswa rajin berburu buku, terutama buku baru yang bermutu.

Selamat, semoga sukses dan bermanfaat!

CATATAN

Silabus ini masih berifat tentatif. Oleh karena itu masukan dan usul dari mahasiswa untuk penyempurnaan silabus ini sangat ditunggu. Terima kasih.

BAS Bandung,   Agustus 2011

Isna Sulastri

Tugas 1: ( dikerjakan secara berkelompok, satu kelompok maksimal lima orang )

Baca dan pahamilah isi bab satu dan dua buku Psikolinguistik karagan Abdul Chaer. Setelah itu, tulislah rangkuman isi kedua bab itu dengan ketentuan sebagai berikut. (1) Tugas ini diketik rapi di atas kertas HVS ukuran A-4 dengan jarak dua spasi. (2) Hasilnya diserahkan langsung kepada dosen Anda pada pertemuan kedua. (3) Sistematika isi rangkuman sebagai berikut.

  1. Pengertian Psikolinguistik
  2. Tujuan Mempelajari Psikolinguistik
  3. Sejarah Kelahiran Psikolinguistik
  4. Posisi Psikolinguistik dalam Kajian Linguistik
  5. Pentingnya Psikolinguistik  dalam Studi Linguistik
  6. Tujuh Subdisiplin Psikolinguistik
  7. Fokus Kajian Psikolinguistik pada Fakultas Pendidikan
  8. Pokok Bahasan Psikolinguistik
  9. Manfaat Mempelajari Psikolinguistik bagi Guru dan atau Calon Guru Bahasa Indonesia

Selamat, semoga bermanfaat.

BAS Bandung,  Agustus 2011

Isna Sulastri

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada September 17, 2011 in Uncategorized

 

Taman Hati 244343*)

 

Ada satu taman, yang jika ia indah,
keseluruhan hidup kita akan indah.

Taman itu bernama “taman hati”.                                                                                                          Taman hati yang indah itu
berisikan bunga yang namanya syukur,                                                                                                      yang dipupuk dengan tanggung-jawab,

dan … disirami dengan pengakuan
bahwa semua hasil adalah pemberian Tuhan,                                                                                 Taman hati itu seyogianya                                                                                                                            kita siangi dengan kejujuran

dan … kita pagari serta kita gerbangi pula …
dengan keikhlasan menerima apa pun
sebagai keadaan yang terbaik yang masih bisa diperbaiki.

maka,                                                                                                                                                 Janganlah kita menanami hati
dengan ilalang kemarahan.                                                                                                                     Agar hati kita bisa bersatu dalam damai

Sahabatku yang baik hati …                                                                                                             Terimalah aku apa adanya                                                                                                                           Itulah harapan sang hati

 

 

 

 

 

 

 

—–

*) Karya Mario Teguh dengan sedikit modifikasi oleh Isna Sulastri

Gambar: From http://mustoni.blogdetik.com/files/2012/03/hati-748940.jpg

 
7 Komentar

Posted by pada September 9, 2011 in Uncategorized

 

FONOLOGI BAHASA INDONESIA ( Bagian 1 )

oleh: Isna Sulastri

          

PENGERTIAN FONOLOGI: Uraian dan contoh

Istilah “fonologi” berpadanan dengan  phonology di dalam bahasa Inggris. Ia merupakan satu bidang khusus dalam linguistik. Fonologi ini dulu di Amerika lebih dikenal dengan  sebutan phonemics tetapi belakangan mereka sering menggunakan istilah phonology (J.W.M. Verhaar: 1984:36). Jika kita lihat kesepakatan tim penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1988:244), fonologi dimaknai sebagai  ilmu tentang bunyi bahasa, terutama yang mencakup sejarah dan teori perubahan bunyi.

Menurut Abdul Chaer (2003:102), secara etimologi istilah “fonologi” ini dibentuk dari kata “fon” yang bermakna “bunyi” dan “logi”  yang berarti “ilmu”. Jadi, secara sederhana dapat dikatakan bahwa fonologi merupakan ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa pada umumnya. Objek kajiannya adalah “fon” atau bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.

Berdasarkan uraian sebelumnya dapat dikatakan bahwa fonologi sesungguhnya merupakan satu sub disiplin linguistik yang membicarakan tentang bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan teori-teori perubahan bunyi itu. Fonologi juga membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa dan cara menganalisnya. Dengan demikian, kegiatan mempelajari bunyi bahasa idealnya tidak hanya sebatas upaya pengenalan bunyi-bunyi itu, tetapi juga harus diiringi dengan latihan menganalisis bunyi-bunyi bahasa tersebut dari segala segi.

Sejalan dengan pandangan sebelumnya,  Verhaar (1984:36) mengatakan bahwa fonologi  merupakan bidang khusus dalam linguistik yang mengamati bunyi-bunyi suatu bahasa tertentu sesuai dengan  fungsinya untuk membedakan makna leksikal dalam suatu bahasa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, leksikal artinya bersangkutan dengan kata (Depdikbud, 1988:510). Jadi bunyi bahasa yang dimaksud oleh Verhaar di sini adalah bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi membedakan makna kata.

Perbedaan tersebut menurut Verhaar selalu terdapat dalam kata sebagai konstituen, yakni unsur bahasa yang merupakan bagian dari unsur yang lebih besar.  Oleh karena itu fonologi dipandangnya  sebagai satu cabang ilmu yang menyelidiki tentang “perbedaan minimal / minimal differences /  pasangan minimal antara ujaran-ujaran. Selanjutnya  Verhaar ( 1984:36) menjelaskan pula bahwa, “Pasangan minimal adalah seperangkat kata yang sama, kecuali dalam satu bunyi”. Pakar lainnya menyebut pasangan minimal ini dengan istilah “kata berkontras”, yaitu dua kata mirip yang memiliki satu bunyi yang berbeda dan menghasilkan makna yang berbeda pula. Bunyi yang berfungsi membedakan makna ini disebut “fonem” dan bunyi yang tidak berfungsi sebagai pembeda makna dinamai “fon”.

Untuk membuktikan apakah sebuah bunyi bahasa tergolong fonem  atau fon, terlebih dahulu harus dicari pasangan minimalnya.

Contoh pasangan minimal:

  • lupa dan rupa
  • fonemik dan fonetik
  •  putra dan putri

Dalam contoh tersebut, /l/ dan /r/ pada kata “lupa” dan “rupa”  berbeda secara fungsional. Artinya, /l/ dan /r/ merupakan fonem-fonem yang berbeda. Kata “lupa” terdiri atas bunyi /l/, /u/, /p/, dan /a/, sedangkan kata “rupa” dibangun oleh bunyi /r/, /u/, /p/, dan /a/. Kalau kita cermati kedua kata tersebut, ternyata yang berbeda hanyalah bunyi /l/ dalam kata “lupa” dengan bunyi /r/ dalam kata “rupa”. Dengan begitu,  /l/ dan /r/ di dalam bahasa Indonesia dipandang sebagai fonem, yaitu lambang bunyi yang berfungsi sebagai pembeda makna. Begitu pula dengan /m/ dan /t/ dalam kata “fonemik” dan “fonetik” serta /a/ dan /i/ dalam kata “putra” dan “putri”.  Sehubungan dengan ini, Verhaar dan Chaer menegaskan bahwa sejauh dapat dibuktikan bahwa suatu bunyi mempunyai fungsi untuk membedakan kata yang satu dari kata yang lainnya  maka lambang bunyi tersebut disebut fonem.

Perlu diketahui bahwa setiap bahasa memiliki khasanah fonem.Yang dimaksud dengan khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam suatu bahasa. Fonem yang dimiliki satu bahasa dengan bahasa yang lain tidak sama jumlahnya. Dalam hubungan ini Samsuri (1994:93) menegaskan bahwa “ … tidak ada dua bahasa yang memakai bunyi-bunyi yang sama benar”. Kalau begitu, berapakah jumlah fonem dalam bahasa Indonesia?  Silakan diskusikan dengan teman-teman Anda, dan berlatihlah menghitung serta mencari contoh-contohnya.

BIDANG KAJIAN FONOLOGI: Uraian dan contoh

Berdasarkan hierarki satuan bunyi, fonologi mencakup fonetik dan fonemik. Berkaitan dengan  ini, Verhaar (1984) mengatakan bahwa banyak ahli linguistik dewasa ini yang menganggap bahwa fonetik termasuk dalam fonologi. Walau Verhaar mengakui ini tetapi dalam bukunya yang berjudul Pengantar Linguistik Umum,  beliau  justru memberi penjelasan yang terkesan menganggap fonetik berbeda dari fonologi. Menurutnya, fonetik menyelidiki bunyi sebagaimana terdapat dalam parole sebagai objek kongkret untuk para ahli linguistik. Bagaimana dengan artikel ini? Di sini fonetik dan fonemik dibicarakan sebagai dua bidang kajian yang sama-sama berada dalam payung fonologi seperti dijelaskan dalam bagan awal tulisan ini.

SEKILAS TENTANG FONETIK

Sependek yang penulis ketahui, fonetik merupakan studi tentang bunyi-bunyi ujar. Maksudnya,  fonetik yang merupakan cabang studi fonologi  ini mempelajari bunyi bahasa tanpa menghiraukan apakah bunyi-bunyi tersebut berfungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Dalam fonetik, bunyi bahasa dipelajari menurut perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Objek kajiannya adalah  “fon “ yakni bunyi bahasa pada umumnya.

Menurut Samsuri (1994:91), “Sebagai ilmu, fonetik berusaha menemukan kebenaran-kebenaran umum dan memformulasikan hukum-hukum tentang bunyi-bunyi itu dan pengucapannya; sebagai kemahiran fonetik memakai data deskriptif daripada fonetik ilmiah guna memberi kemungkinan pengenalan dan produksi (pengucapan) bunyi-bunyi ujar itu”

SEKILAS TENTANG FONEMIK

Berbeda dengan fonetik maka fonemik sebagai cabang studi fonologi mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna. Objek kajiannya terbatas pada fonem/ bunyi bahasa yang berfungsi membedakan makna kata.

Dalam uraian sebelumnya  sudah dicontohkan bahwa  /l/ dan  /r/ dalam kata “lupa” dan “rupa” berbeda secara fungsional. Kata “lupa” terdiri atas bunyi /l/, /u/, /p/, dan /a/ selanjutnya kata “rupa” dibangun oleh bunyi /r/, /u/, /p/, dan /a/. Kalau kita cermati kedua kata tersebut ternyata yang berbeda hanyalah bunyi /l/ dalam kata “lupa” dengan bunyi /r/ dalam kata “rupa”. Oleh karena itu,  bunyi /l/ dan /r/ di dalam bahasa Indonesia, dapat dipandang sebagai fonem yaitu lambang bunyi yang berfungsi membedakan makna.

Oleh karena itu orang Indonesia – bahkan juga orang asing – yang mengerti ilmu bunyi dalam bahasa Indonesia, tidak akan pernah mengacaukan penggunaan kedua lambang bunyi itu. Mengapa? Tentu saja  karena mereka mengetahui bahwa kedua lambang bunyi itu berbeda secara fungsional.

Lain halnya dengan bahasa Jepang. Menurut Verhaar (1984: 8) “ … dalam bahasa Jepang perbedaan  [l] dan [r] tidak fungsional, karena tidak ada pasangan kata yang mengandung kedua bunyi itu yang dapat dipertentangkan”. Sehubungan dengan ini, Verhaar pun menegaskan pula bahwa “ … dalam bahasa Jepang, perbedaan antara [l] dan [r] adalah perbedaan fonetis saja”. Ini berarti bahwa dalam bahasa Jepang, [l] dan [r] bukanlah fonem, tetapi hanya merupakan lambang bunyi atau fon.

Terima kasih, semoga bermanfaat. Komentar, kritik dan saran dari pembaca sangat penulis nantikan untuk penyempurnaan isi dan bahasa wacana ini.

BAS Bandung, 13 Juli 2011

 
14 Komentar

Posted by pada Juli 13, 2011 in Uncategorized

 

GURU MASA DEPAN: Antara Asa dan Isu

oleh: Isna Sulastri

ABSTRAK

Pendidikan merupakan jantung peradaban dan denyut nadi kemajuan suatu bangsa. Banyak ilmuwan dan pemimpin  mengakui bahwa peradaban suatu bangsa berada di tangan anak bangsanya.  Merekalah yang diharapkan akan menjadi pejuang nasib bangsa kita kelak. Oleh karenanya para pelaku pendidikan –antara lain guru– tentu berkewajiban membangun karakter bangsa ini, melalui pembinaan karakter anak bangsanya. Tulisan sederhana ini dimaksudkan untuk berbagi pemikiran tentang asa dan isu seputar pendidikan serta profil guru masa depan yang didambakan bangsa kita. Ini penting karena guru merupakan ujung tombak pembangunan anak bangsa dalam rangka menyongsong “Indonesia Emas 2025”

Kata kunci: asa dan isu

   

PENGANTAR

PENDIDIKAN, apakah yang diharapkan darinya?  Agaknya  banyak yang akan menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan, “Kami menginginkan perubahan”.  Ya … inilah esensi pendidikan, yakni terwujudnya “perubahan”, tentu saja perubahan ke arah yang lebih baik. Apakah dunia pendidikan kita di Indonesia sudah mampu menghadirkan perubahan? Apakah pendidikan kita sudah berhasil membangun anak bangsa yang unggul dan berkarakter sehingga mereka siap bersaing dengan teman-teman sejagat di abad 21 ini?.

Kita tentu sudah sama-sama menyadari bahwa abad 21 dikenal dengan era globalisasinya, yang  ditandai dengan perkembangan sangat pesat di bidang teknologi dan informatika. Menurut profesor kita, Mulyasa (2003:v) “Dalam era globalisasi dan pasar bebas, manusia dihadapkan pada perubahan-perubahan yang tidak menentu. Ibarat nelayan di “lautan lepas” yang dapat menyesatkan, jika tidak memiliki “kompas” sebagai pedoman untuk bertindak dan mengarunginya”. Sudah siapkah kita  mengahadapi perubahan yang tidak menentu itu?

Pertanyaan-pertanyaan sebelumnya sempat mengusik hati penulis selaku guru. Apalagi setelah mendengar dan membaca kemajuan yang diraih negara lain seperti tetangga kita Singapura. Mereka konon selalu unggul –antara lain—dalam lomba debat sedunia. Demikian pula halnya dengan Finlandia, yang dikenal unggul dalam bidang pendidikan. Hasil survei Program for International Student Assesment (PISA) 2006 mengungkapkan bahwa kemampuan membaca siswa Finlandia tertinggi di seluruh negara maju. Tidak hanya itu, PISA 2007 juga menyebutkan bahwa kemampuan membaca siswa Finlandia tergolong kelompok atas dari 60 negara yang dinilai dalam survei itu ( http:// www. papantulisku.com/2010/11/ pendidikan-di-new-zealand-adalah-yang-html ). Kapan Indonesia bisa seperti ini?

Survei tiga tahunan itu dilakukan oleh Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dan sudah berlangsung selama 15 tahun.  Khusus untuk anak usia dini, ternyata anak-anak Finlandia menduduki peringkat kedua dalam hal memahami bacaan. Kecuali itu Finlandia juga mampu membuat semua anak menjadi “cerdas”, termasuk anak yang berkelainan khusus sekali pun.

Bagaimana realitanya dengan dunia pendidikan di  Indonesia kini? Sudah mampukah kita mengukir prestasi seperti dua negara yang dicontohkan sebelumnya? Jika belum, apakah gerangan yang salah dalam sistem pendidikan kita? Bertemali dengan ini, penulis mencoba mempertanyakannya di sini, dengan harapan dapat kiranya berbagi pandangan dan beradu nalar tentang hal-hal yang terkait dengan pertanyaan-pertanyaan tadi. Dengan membahas problema pendidikan, insya-Allah kita akan mampu menghasilkan blue-print tentang profil guru masa depan,  dalam rangka menyongsong “Indonesia Emas 2025” yang sudah lama didengungkan. Bagaimanakah caranya?

Penulis meyakini bahwa keunggulan pendidikan suatu negara pada dasarnya merupakan cerminan dari hasil sepak terjang  pemerintahnya, terutama pihak-pihak yang terkait dengan urusan pendidikan –dalam hal ini tidak terkecuali para guru–. Tentu demikian pula halnya di “negara-negara kecil” (baca! lembaga pendidikan mulai dari jenjang Pendidikan Usia Dini sampai ke Perguruan Tinggi). Jika demikian, apakah yang seyogianya  dilakukan, agar Indonesia unggul terutama dalam bidang pendidikannya?

Untuk memajukan pendidikan di negara kita, menurut penulis seyogianya diawali dengan memotret “profil pendidikan” kita –dulu dan kini–. Mengapa begitu? Antara lain karena peradaban bangsa merupakan cerminan karakter anak bangsa, sementara  karakter manusia biasanya terbentuk secara alami melalui proses pendidikan.

Berkaitan dengan itu, jika ingin melihat keberhasilan pendidikan di suatu negara, tentunya tidak dapat dilihat hanya dari realita terkini. Sejarah panjang yang dilalui pemerintah dan anak bangsa dalam memperjuangkan citra bangsanya selama ini, sangat patut untuk dikaji-ulang. Kita seyogianya bercermin pada “guru sejati”. di zaman dulu dan membandingkannya dengan profil kita selaku guru di masa kini. Artinya, kita perlu mengintrospeksi dan mengevaluasi diri masing-masing, untuk kemudian menyikapinya dengan sikap terbaik yang mampu dilakukan.

PENDIDIKAN DI INDONESIA: Seperti apakah profilnya kini?

Laporan yang diluncurkan International Institute of Management Development (IIMD) tahun 2000 mengungkapkan bahwa dari 48 negara yang diukur pada waktu itu ternyata daya saing SDM Indonesia hanya menempati urutan ke-47 (http://blogbahrul. wordpress com/2007/11/28/wajah-pendidikan-Indonesia/). Berarti urutan kedua dari bawah. Ini tentu merupakan pil pahit bagi bangsa dan  dunia pendidikan kita, bukan? Bagaimana perkembangan sesudah itu?

Laporan Forum Ekonomi Dunia mengungkapkan bahwa “indeks daya saing global” ( Global Competitiveness Index / GCI ) Indonesia mulai meningkat (Lihat! The Global Competitiveness Report 2010). Mana buktinya? Menurut catatan Kompas.com. ( dalam (http:// masa-depan. blogspot. com/ daya saing pendidikan dasar dan tinggi Indonesia 2010 secara global meningkat ).  GCI Indonesia 2010 kini berada pada posisi ke-44 dari 139 negara. Sebelumnya kita berada pada peringkat ke-54 dari 133 negara. Ini suatu peningkatan yang patut disyukuri, bukan.

Jika tingkat keberhasilan pendidikan itu kita nilai dengan menjadikan data sebelumnya sebagai komparator, menurut penulis dunia pendidikan kita (Indonesia) dapat dipandang berhasil mengukir prestasi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir (2000 s.d. 2010). Pil pahit yang terpaksa kita telan pada 2000, kini mulai terasa manis walaupun di sana-sini masih terlihat ketimpangan. Bagaimana menurut pembaca?

Informasi tentang keberhasilan tadi patut dijadikan bahan diskusi, terutama di kalangan akademikus. Menurut penulis, ini penting dilakukan minimal sebagai bahan renungan kita –guru dan atau calon guru yang membaca makalah ini–. Bertemali dengan ini, setidaknya ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan pada diri  sendiri, yaitu, “Apakah sumbangsih dan kontribusi saya pada negara atas  prestasi itu?”. Mari kita jawab saja di dalam hati masing-masing! Biasanya “Ibu Nurani” selalu menjawab dengan jujur, terutama ketika dia menyadari adanya “kontrol Malaikat”.

MENGUBAH WAJAH PENDIDIKAN: Bagaimana caranya?

Harus disadari bahwa untuk sampai pada tangga teratas, jarang ada orang yang tidak melalui anak tangga pertama, kecuali para “peloncat indah”. Demikian pula halnya ketika dunia pendidikan ingin mencapai puncak kejayaannya. Semua pelaku pendidikan perlu merenung dan melakukan evaluasi diri untuk kemudian membuat pengakuan jujur. Al hamdu lillaahi rabbil alamin, ini rupanya sudah dilakukan oleh sebagian kalangan. Bagaimana hasil renungan mereka?

Banyak pihak mengakui bahwa dunia  pendidikan di Indonesia  masih sangat mendambakan  langkah-langkah pembenahan. Pil pahit yang terpaksa ditelan pada tahun 2000, ternyata membuat Indonesia mulai merasakan nikmatnya “sehat”. Oleh karenanya sejak sembilan tahun lalu, –tepatnya sejak 2 Mei 2002–, pemerintah dalam hal ini Mendiknas  saat itu, mencanangkan “Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan”.  Upaya seperti ini menurut E. Mulyasa (2003) dipandang sebagai  momentum yang tepat  dalam rangka mengantisipasi era kesejagatan, khususnya era globalisasi  pasar bebas di lingkungan  negara-negara  ASEAN  seperti halnya AFTA (Asean Free Trade Area)  dan  AFLA  (Asean Free Labour Area).

Gerakan peningkatan mutu pendidikan yang dicanangkan Mendiknas itu tentunya dimaksudkan untuk membangun masa depan yang kini semakin menantang. Berkaitan dengan upaya ini, M. Eddy Wibowo (dalam Dadang Dally, 2005:1) mengungkapkan bahwa,

“… masa depan sering diidentikkan dengan generasi penerus yang memiliki  kualitas dan tanggung jawab  terhadap kelangsungan hidup bangsa dan negara. Oleh karena itu, untuk menjawab tantangan tersebut, yang diperlukan adalah generasi  terdidik yang dibekali  keahlian melalui pendidikan. Dengan demikian pendidikan harus menjadi kata kunci yang paling penting dalam menyiapkan generasi  mendatang yang bermutu”.

Bertemali dengan cerita tentang keberhasilan Indonesia seperti diungkapkan sebelumnya, Menteri Pendidikan Nasional Indonesia,  M. Nuh (17 September 2010) menghimbau agar   kita –terutama guru– tidak terlalu bersenang-senang dulu atas prestasi itu. Semua pihak yang terlibat dalam urusan pendidikan seharusnya tetap bekerja keras demi kemajuan pendidikan. Ini penting, karena disadari atau tidak, sesungguhnya bangsa kita kini masih dilanda “krisis multidimensi” dalam berbagai aspek kehidupan.

Berkaitan dengan itu Djatmiko (2010)  menegaskan bahwa  “Penyelenggaraan pendidikan perlu direformasi sehingga dapat mewujudkan pendidikan terpadu yang mencakup:  jalur, sistem, tujuan, kurikulum, proses pembelajaran, lokasi/wilayah, dan manajemen” (http://blog.uny.ac.id/istantowd/files/2010/10 /Pendidikan-vokasi-berciri- keunggulan-lokal.pdf). Jika ini akan diwujudkan, tentu menuntut perhatian dan sepak terjang semua pihak terkait. Dalam hubungan ini, tentulah menjadi sebuah keniscayaan jika penanggulangan krisis ini sebagian dibebankan kepada para pelaku pendidikan di negara yang kita cintai ini, terutama “guru”.

Mengapa harus guru? Menurut Moh. Natsir (dalam Adian Husaini, 2010:6), “Jika ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan disegani di dunia, wujudkanlah guru-guru yang mencintai pengorbanan dan bisa menjadi teladan bagi bangsanya”. Kutipan ini sebenarnya merupakan ungkapan yang meluncur dari mulut orang asing yakni Dr. G.J. Nieuwenhuis. Menurut pandangan Husaini tampaknya ungkapan itu sangat dipercaya oleh Natsir, pahlawan nasional kita ini.

Bertemali dengan itu, Natsir menegaskan bahwa yang dibutuhkan bangsa kita adalah “guru sejati” dan Husaini menulis nama Natsir sebagai salah satu contoh figur guru sejati. Hasil sepak terjang beliau –sebagai guru yang patut digugu dan ditiru–, kini masih terdengar di seantero negeri ini ( bacalah kisah-kisah tentang Moh. Natsir).

Guru sejati menurut Natsir bukanlah guru yang tugasnya hanya mengajar di kelas-kelas fomal, tetapi lebih dari itu. Guru sejati adalah semua orang ( orang tua, pendidik, pemimpin bangsa, ulama, dan apa pun lagi namanya ) yang siap berkorban demi membangun bangsa dan anak-anak bangsanya.

Mereka itu biasanya memiliki pribadi yang utuh, sehingga layak mendapatkan prediket “Teladan”.  Mereka itu adalah insan-insan yang hadir di kancah pendidikan atas “panggilan jiwanya”. Guru seperti inilah (mungkin) yang disebut-sebut oleh para pakar sebagai guru yang berkarakter dan juga beradab. Kalau kita mau menengoknya ke  “Universitas Kehidupan” (UK) sebenarnya di sini banyak guru-guru sejati, tetapi para petinggi di negeri ini (mungkin) belum sempat melirik mereka.

Bagaimanakah bentuk penghargaan yang layak untuk para guru sejati itu? Berupa selembar “sertifikat” sertifikasikah? Menurut penulis, –jika dasar penilaian sertifikasi masih seperti isu yang beredar selama ini–, tentulah itu sangat tidak tepat diberikan sebagai penghargaan untuk guru-guru sejati tadi. Mengapa? Karena mereka guru yang berkarakter dan beradab. Guru seperti ini biasanya tidak mau berebut untuk “membeli” sertifikat. Mereka umumnya lebih memilih “hidup nyaman”  walaupun tanpa sertifikat sertifikasi. Anak muda kita, kini ternyata banyak yang berpendirian seperti ini. Benarkah? Ini sebuah pertanyaan yang layak diwujudkan menjadi sebuah penelitian ilmiah, terutama oleh kalangan akademikus.

Contoh guru sejati dalam bidang bahasa di UK, antara lain adalah Ayib Rosidi ( putra Majalengka, Jawa Barat), seorang tokoh sastra. Beliau tercatat sebagai siswa yang konon tidak menamatkan pendidikan Taman Siswanya di Jakarta (1956) , tetapi sejak 1981  beliau dipercaya menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka). Di samping sebagai guru besar di Osaka, beliau juga dipercaya mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daigaku (1982-1994) (http://sentrablog.blogspot. com/2010/12/tokoh-tokoh-yang-meraih …).

Begitulah dunia menghargai guru sejati, tidak selalu hanya “berbasis ijazah” atau sertifikat. Apakah Indonesia berani melakukan hal serupa itu, minimal di dunia pendidikan? Entahlah. Konon, untuk mendapatkan sertifikat sertifikasi saja guru harus pusing tujuh keliling, padahal katanya itu sebagai “penghargaan” untuk guru yang berdedikasi. Akibatnya demi memenuhi persyaratan, sebagian guru “menghalalkan segala cara” hanya demi selembar kertas sakti itu. Jadi nyaman atau jadi susahkah guru karena penghargaan yang diberikan oleh pemerintah kepadanya? Apalagi untuk dosen, disyaratkan harus memiliki ijazah Magister terlebih dahulu. Bagaimana dengan guru-guru dan dosen-dosen yang sudah terlanjur tua sebelum aturan sertifikasi itu ada? Apakah pemerintah juga berupaya memikirkan nasib mereka?

Realita itu sepatutnya dijadikan bahan renungan, terutama oleh para pengambil kebijakan di negara kita yang hingga kini ternyata masih “berbasis ijazah”. Ini berbeda dengan tuntutan kurikulum kita. Kurikulum menuntut guru agar mengajar dan menilai siswa dengan “berbasis kompetensi dan performansi” seperti tersurat dan tersirat di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Mengapa penilaian untuk guru masih harus (hanya) berbasis ijazah, tidak berbasis kompetensi dan performansi?

Itulah (mungkin) perbedaan kita dengan negara lain yang sudah lebih maju, dalam bidang pendidikan. Mereka kelihatannya lebih mengutamakan kompetensi dan performansi gurunya. Buktinya, warga negara kita yang tidak memiliki ijazah Taman Siswa –seperti Ayib Rosidi– tadi pun tetap   diakui oleh dunia sebagai tokoh yang sukses sehingga diakui sebagai “guru besar” di negara mereka.  

Kalau demikian, apakah di masa yang akan datang kita (baca: pemerintah dan para pemimpin di lembaga pendidikan) akan menjadikan “guru sejati” sebagai syarat “pengakuan” ataukah mungkin justru lebih memilih guru yang memiliki setumpuk ijazah dan segudang sertifikat?. Atau mungkinkah kita akan mampu belajar berani melakukan terobosan seperti yang dilakukan orang asing terhadap bapak kita Ayib Rosidi dan sederetan tokoh dunia lainnya? Entahlah. Kita tunggu saja, semoga para petinggi di negara yang kita cintai ini akan belajar untuk “melangkah dengan hati” sesuai tuntutan sila-sila terkait dalam Pancasila.

MENUJU PENDIDIKAN UNGGUL: Bagaimana caranya?     

Sajian sebelumnya sudah menjelaskan bahwa keinginan untuk memajukan pendidikan seyogianya diawali dengan melihat secara seksama sejarah panjang percaturan pendidikan kita. Dengan begitu mudah-mudahan “profil pendidikan” akan terlihat dengan lebih nyata. Oleh karenanya pelaku pendidikan dan semua pihak terkait, idealnya siap bersinergi untuk membangun anak-anak bangsa di negara yang sangat kita cintai ini yakni “Indonesia cerdas yang berkarakter dan beradab”.

Mengapa kita harus bersinergi? Dasar pemikirannya sederhana. Terlepas dari pro-kontra terhadap Presiden kita, Susilo Bambang Yudoyono (SBY) penulis masih meyakini ucapan beliau yang antara lain berbunyi “Bersama kita bisa”. Prinsip ini sudah terlebih dahulu dibuktikan oleh saudara-saudara kita dari Minangkabau dengan “Gebu Minangnya”, walaupun itu terutama untuk pembangun fisik.

Bagaimana dengan urusan pembangunan pendididikan? Untuk ini penulis meyakini pula pandangan yang mengatakan bahwa sesungguhnya  “Tidak seorang pun yang mengetahui segala sesuatu, tapi setiap orang tentulah mengetahui tentang sesuatu”.  Prinsip seperti  ini juga sudah sejak dulu membudaya di dalam masyarakat Minangkabau. Ini terlihat dalam pepatah mereka yang berbunyi, “Bagaikan tungku nan tigo sajarangan”. Dalam masyarakat Minang, tungku nan tigo sajarangan ini biasanya berupaya meluangkan waktunya untuk “duduk bersama” merancang segala sesuatu demi kemaslahatan umat. Ketika duduk bersama ini, mereka menghimpun ide-ide cemerlang dari semua pihak yang peduli. Ide-ide yang dihimpun ternyata berhasil membangun “menara ide” yang kemudian mereka olah menjadi sebuah blue-print.

Jika blue-print sudah ada, mereka pun memonitor implementasinya sesuai adat yang berlaku di sana. Ini terlihat antara lain melalui ungkapan mereka yang berbunyi Adat basandi sarak, sarak basandi Kitabullah. Jadi, ketika tanda-tanda akan ada penyimpangan mulai terdengar dan terbaca,  mereka segera bekerja sesuai perintah Allah, “Katakanlah walaupun pahit sekali pun”. Bertemali dengan ini maka semua pihak dituntut berjiwa besar manakala ada yang “disapa” oleh Tim Monitoring.

Mungkin karena sifat dan kebiasaan “siap menyapa” itu pulalah makanya banyak orang mengatakan bahwa “Rendang Padang itu pedas”. Akan tetapi, jika ada yang mau mengunyahnya sampai tiga puluh tiga kali, insya-Allah dia akan merasakan bahwa Rendang Padang itu ternyata hampir semanis gula jawa, he heee. Tidak percaya? Cobalah! Bertemali dengan ini menurut penulis monitoring itu penting artinya. Bagaimana pun bagusnya sebuah perencanaan, jika tidak diimplementasikan dengan sebaik dan setepat mungkin, hasilnya akan mengecewakan hati pihak-pihak tertentu.

Kembali kepada upaya mengubah wajah pendidikan, kini mari kita lihat dulu faktor penentu keberhasilan pendidikan. Seperti sudah disinggung sebelumnya, ada beberapa komponen yang seharusnya diperhatikan. Di antara komponen ini adalah: (1) falsafah pendidikan yang harus jelas, (2) kurikulum yang baik, (3) guru yang profesional, (4) fasilitas pendidikan yang memadai,  (5) lingkungan yang kondusif dan (6) biaya pendidikan yang murah tentunya. Kecuali yang enam ini, (7) adanya murid yang memiliki keinginan untuk berubah merupakan faktor penentu yang tidak kalah pentingnya.

Hal-hal yang berkaitan dengan itulah yang seyogianya dipertanyakan dalam bagian  selanjutnya. Mengingat keterbatasan ruang yang disediakan, tidak semua faktor itu diulas tuntas di sini. Sajian selanjutnya akah lebih banyak menyinggung perihal guru profesional dan hal-hal yang terkait dengannya.

SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA: Seperti apakah?

Untuk mengulas tentang guru masa depan tentu tidak dapat dipisahkan dengan pembicaraan tentang sistem pendidikan. Pertanyaan yang muncul kini adalah, sistem pendidikan seperti apakah yang sedang dan akan diterapkan di Indonesia guna menjawab tantangan zaman, seperti yang dideskripsikan sebelumnya? Jawaban untuk pertanyaan ini tentulah sangat bertemali dengan dasar falsafah pendidikan yang kita anut.  Jika kita akan mengacu kepada falsafah pendidikan Islam, tentu saja tujuan pendidikan yang seharusnya dicapai haruslah sejalan dengan tujuan ajaran Islam  itu. Tujuan pendidikan Islam secara lengkap dan jelas dapat kita baca dalam rumusan hasil kongres se-Dunia ke-2 yang diadakan tahun 1980 di Islamabad. Inilah antara lain isi rumusan tujuan pendidikan Islam itu.

Tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia secara menyeluruh…. Karena itu, pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik: aspek spritual, intelektual, imanajinasi, fisik, ilmiah dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif;  dan mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah, baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia. (http://anan-nur.blogspot. com/2010/08/filsafat-pendidikan-islam-mengem- bangkan_03.html).

Bagaimana dengan sistem pendidikan di Indonesia? Jika penulis tidak keliru memaknainya, Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) kita ternyata sangat sejalan dengan tujuan pendidikan Islam itu.  Kita sudah mengetahui bahwa pendidikan di Indonesia bertujuan untuk  mencerdaskan bangsa dan mengembangkan manusia lndonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan. Bukankah ini yang dimaksud dengan “ketundukan yang sempurna kepada Allah, baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia” dalam kutipan di atas?

Pendidikan juga diharapkan mampu menghasilkan pembelajar yang memiliki kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap masyarakat, bangsa, negara, dan terhadap dirinya sendiri. Siswa yang bertanggung jawab terhadap dirinya diharapkan berkeinginan untuk terus maju dan berkiprah di kancah dunia. Inilah antara lain ciri insan yang berkarakter (lihat: Arief Rachman, 2010).

Andai memang begitu, mengapa kita belum mampu mengungguli negara lain di bidang pendidikan? Menurut penulis, sangat mungkin –satu di antaranya– karena “kita kalah pada tataran implementasi”. Jika kita mengintip sistem pendidikan di negara tetangga seperti Singapura, tenyata mereka sejak 1965 sudah menjadikan pendidikan sebagai kata kunci. Keunggulan mereka, antara lain karena mereka mengimplementaskan rancangan yang sudah dibuat dengan susah payah dan dengan modal yang tidak sedikit, sementara masyarakat Indonesia konon tergolong sangat “berbakat melanggar aturan yang dibuat sendiri”. Bahkan terkadang kita melaggar aturan secara berjamaah melalui sebuah “kesepakan yang belum tentu disepakati”.

Tentang itu Adian Husaini (2010:5) pun dengan tegas mengungkapkan bahwa     “ … orang Indonesia dikenal piawai dalam menyiasati kebijakan dan peraturan …”. Ketua Program Studi Pendidikan Islam, Program Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun, Bogor ini mengangkat “Kebijakan Sertifikasi Guru” sebagai salah satu contohnya. Menurut beliau kebijakan ini bagus, tetapi pada tataran implementasi ternyata muncul tradisi berburu sertifikat. Waooow! Guru yang seperti inikah yang diberi pengakuan sebagai “guru profesional” selama ini?

Kembali kepada keunggulan yang diraih Singapura, konon kabarnya selama bertahun-tahun mereka berkembang dari satu sistem pendidikan ala Inggris yang tradisional menjadi sistem pendidikan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan individual guna mengembangkan bakat siswanya. Hasilnya seperti yang kita dengar sekarang. Sekolah-sekolah di Singapura kini terkenal dengan standarnya yang tinggi dalam kegiatan belajar mengajar.

Oleh karena itu sangatlah wajar  jika pendidikan di Singapura memperoleh penghargaan dari hampir seluruh dunia. Tidak hanya itu, lulusan sekolah Singapura diakui terbaik oleh negara Timur maupun negara Barat. Benarkah demikian adanya? (Silakan lihat antara lain di http://edukasi.kompas.com read/2010/09/17/22040792/Daya.Saing.Pendidikan. Indonesia Naik.) Ini pun merupakan satu lahan empuk yang tentunya layak diteliti. Apa pun hasilnya, penulis yakin akan ada manfaatnya untuk pengembangan pendidikan di Indonesia.

GURU PROFESIONAL: Bagaimanakah kiat membangunnya?

Dalam reformasi pendidikan, menurut Dede yang dikutip oleh Fuad Abdul Hamied (2009:329) “kunci perbaikan pendidikan itu ada pada guru”. Para gurulah yang berkewajiban membimbing murid-murid mereka menjadi insan terdidik seperti yang dikatakan Wibowo sebelumnya. Untuk dapat melaksanakan tugas mulia ini secara lebih profesional, Hamied menegaskan bahwa ,  “ … guru perlu secara terus menerus memperoleh pendidikan dan pelatihan”. Ini penting dan harus dilakukan, demi peningkatan profesionalitas diri guru-guru kita di masa mendatang. Dunia pendidikan kita kini sangat memerlukan sentuhan tangan-tangan halus dari para guru profesional ini.

Berkaitan dengan itu, Unifah (2010, dalam http://masa-depan.blogspot.com/ ) mencontohkan kebijakan yang diambil oleh Singapura yang mengharuskan guru mendapat pelatihan 100 jam per tahun. Para guru mendapat pelatihan mendasar agar mereka bisa mengembangkan metodologi dan bahan ajar untuk mendorong prestasi siswa-siswa mereka. Apakah Indonesia sudah melakukan ini?

Ternyata juga sudah. Penulis pernah mengikuti kegiatan sejenis ini sebanyak tiga kali. Pertama, dalam Penataran-Lokakarya Proyek Pengembangan Pendidikan Guru (Penlok P3G), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang diselenggarakan di senter Jakarta, 8 September s.d. 4 Oktober 1980. Dalam kegiatan ini dosen-dosen utusan dari berbagai perguruan tinggi di tanah air kita dibimbing dan dilatih sambil diberi kesempatan menikmati hidup nyaman di Hotel Kemang, Jakarta. Saat itu, penulis tercatat sebagai peserta termuda. Kedua, dalam Penlok P3G Tahap II Gelombang IV di BPG Padang. yang diselenggarakan 30 November s.d. 19 Desember 1981. Ketiga pada Program Tahap II Penataran-Lokakarya Latihan Dalam Negeri, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (Penlok P2LPTK). Yang terakhir ini diselenggarakan di Wisma Harapan, Bandung. Mulai 27 September s.d. 15 Oktober 1983.

Pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan selama lebih kurang satu bulan untuk setiap kegiatan itu menurut penulis sangatlah bermanfaat. Apakah kegiatan seperti ini masih dilanjutkan kini untuk dosen? Penulis kurang mengetahuinya karena memang tidak pernah mengikutinya lagi. Demi kokohnya fondasi ilmu tentu saja kegiatan seperti ini masih diperlukan oleh dosen-dosen, terutama dosen-dosen muda.

Bekaitan dengan itu Hamied menegaskan bahwa guru di semua bidang studi,  saat ini berada dalam  dunia pendidikan yang  ditandai dengan “basis kokoh” pada ilmu pengetahuan. Dengan tegas beliau mengungkapkan bahwa guru yang kokoh dalam ilmu pengetahuan yang dimilikinya akan mampu berkompetisi dengan baik dalam pertarungan dunia pendidikan dewasa ini. Kalau kita melihat kunci sukses pendidikan di Finlandia ternyata guru yang kokoh ini memang sangat mempengaruhi keberhasilan pendidikan di sana. Ini terlihat dari pernyataan yang berbunyi,  kunci sukses Finlandia adalah pada “gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi” (http:// http://www.papantulisku.com/2010/11/pendidikan-di-newzealand-adalah-yang-html).

 

GURU MASA DEPAN: Apakah yang diharapkan darinya?

 Guru yang  berkarakter, inilah dambaan dunia pendidikan kita dewasa ini.  Selain berkarakter, guru tentu perlu memiliki fondasi yang kokoh dalam ilmu.  Dalam Seminar Nasional yang mengusung tema Menggagas Profil Guru Masa depan” (2011), Didin merinci ciri guru masa depan sebagaimana dimaksudkan dalam tema tersebut. Menurutnya guru masa depan merupakan idealisasi postur guru modern yang mampu berperan sebagai planner, innovator, motivator, dan curriculum developer. Kecuali ciri yang dituliskan Didin ini, tentu saja ciri lain yang sudah dikedepankan sebelumnya, sangat patut diperhatikan, terutama (1) panggilan jiwa dan (2) keikhlasan untuk berkorban demi bangsa dan negara.

Sebagai planner, guru masa depan seyogianya memiliki perencanaan kerja yang jelas, sehingga setiap proses pembelajaran (learning process) yang dilakukan diharapkan akan berhasil maksimal. Guru masa depan seyogianya memiliki keyakinan diri bahwa rencana yang dibuatnya dapat diimplementasikan dengan baik dan tepat- sasaran. Untuk ini tentu saja program alternatif haruslah tersedia lengkap dalam perencanaan itu.

Selanjunya Didin pun menegaskan bahwa “Sebagai inovator, guru masa depan mesti memiliki kemauan (will) untuk melakukan pembaharuan terkait dengan pola pembelajaran, metode mengajar, media pembelajaran, sistem dan alat evaluasi, serta nurturant effect lainnya.” Guru masa depan harus mampu membelajarkan murid dalam suasana yang menyenangkan. Di sinilah peran utama panggilan jiwa tadi. Guru yang hadir di kancah pendidikan atas dasar panggilan jiwa, biasanya akan melayani murid dengan hati. Mereka akan melakukan segala cara dengan ikhlas, demi lahirnya insan-insan yang cerdas dan berkarakter. Sudahkah kita mampu menghadirkan diri seperti ini?

Selanjutnya “Sebagai motivator, guru masa depan harus memiliki motivasi untuk terus belajar dan belajar karena sejatinya setiap orang termasuk guru, bukan sesuatu yang sudah jadi tetapi proses untuk terus menjadi (process of becoming). Atas dasar pemikiran seperti inilah mungkin munculnya motto yang berisi himbauan agar kita terus  “Belajar sepanjang hayat”. Sebagai motivator, guru juga harus mampu memotivasi siswa untuk belajar dan terus belajar agar cita-cita serta harapan mereka dapat tercapai melalui proses belajar yang efektif dan produktif.

Terakhir, guru masa depan seyogianya juga sebagai curriculum developer, Artinya, guru masa depan dituntut mampu berperan sebagai agen perubahan atas kurikulum pembelajaran yang ternyata sudah tidak mampu lagi merespons tantangan zamannya,” ungkap Didin. Sudah sama-sama kita ketahui bahwa di era globalisasi ini, jarak tidak lagi menjadi penghambat bagi terlaksananya pembelajaran. Oleh karena itu kini kita dapat saling membalajarkan, di dunia nyata atau pun di alam maya. Fasilitas sudah lumayan memadai. Mengapa kita belum memanfaatkannya secara maksimal?

Jika kita mampu menghadirkan diri sesuai tuntutan yang dikedepankan sebelumnya, insya-Allah profil guru dan dosen masa depan yang diamanatkan oleh UU Guru dan Dosen No. 14/2005 dapat diwujudkan. Ada empat ciri guru dan dosen masa depan yang diharapkan, yaitu (1) professional, (2) sejahtera, (3) terlindungi, dan  (4) bermartabat. Semoga suatu saat kelak guru dan dosen di Indonesia mampu sampai ke sana. Amin ya rabbil alamin.

BAS Bandung, 6 Juni 2011

 
4 Komentar

Posted by pada Juni 6, 2011 in Uncategorized

 

AYAH: Nyanyian hati sang petualang cinta *)

Karya: Isna Sulastri


Ayah, seumur hidupmu …

hanya sekali kumelihatmu menghapus air mata

Itu pun dari kejauhan … di saatku akan berlayar

Ada apa Ayah, adakah yang membuatmu merasa getun?


Ayah, seumur hidupmu  …

hanya sekali kumelihatmu mengapus air mata

Itu pun dari kejauhan … di saatku akan berlayar

Ada apa ayah, apakah kau merisaukan keselamatanku?


Ayah, seumur hidupmu  …

hanya sekali kumelihatmu mengapus air mata

Itu pun dari kejauhan … di saatku akan berlayar

Ada apa ayah, apakah kau tahu banyak onak dan duri di seberang sana?


Ayah, seumur hidupmu  …

hanya sekali kumelihatmu mengapus air mata

Kini … la tahzan, Ayah …  la tahzan …. Ikhlaskan kepergianku, Ayah

Bukankah  kau sudah membekaliku dengan fondasi yang kokoh?


Ayah, seumur hidupmu  …

hanya sekali kumelihatmu mengapus air mata

Kini … la tahzan, Ayah … La tahzan … . Ikhlaskan kepergianku, Ayah

Bukankah pemimpin yang saleh telah kau minta tuk selalu mendampingiku?


Ayah … setelah berpuluh tahun kemudian … kini kusemakin menyadari …

Ridamu … ya … ridamu telah menjadi bibit bagiku tuk mendapatkan rida Allah

Walau onak dan duri begitu tajam di sini, al hamdu lillah … kumampu melewatinya

Kendati sering  terasa ada luka-luka kecil yang menyayat hati, tapi itu tak mengapa


Ayah … setelah berpuluh tahun kemudian … kini kusemakin menyadari …

Ridamu … ya … ridamu telah menjadi bibit bagiku tuk mendapatkan rida Allah

Walau onak dan duri begitu tajam di sini, al hamdu lillah … kumampu melewatinya

Berkat didikanmu, hingga kini kumasih mampu memanfatkan ranjau  itu sebagai guruku


Ayah … ranjau-ranjau itu sudah menjadi guru terhebat dalam hidupku

Mereka telah berjasa membuatku menjadi kuat dan tegar, Ayah

Mereka telah mendidikku  tuk selalu melakukan yang terbaik, Ayah

Karena itu … la tahzan, Ayah … tapi … tersenyumlah dalam pelukan cinta-Nya



BAS Bandung, 01 April 2011

_____

*) Terima kasih dan salam rinduku untumu guru. Ku selalu berharap dan berdoa

semoga di alam sana kau senantiasa  berada dalam pelukan cinta Sang Khalik.

Amin yaa rabbil alamin.


 
8 Komentar

Posted by pada April 1, 2011 in Uncategorized

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.