RSS

GURU YANG HEBAT: Seperti apakah profil idealnya?

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 3, 2012 in Uncategorized

 

ANDA INGIN MENJADI PENULIS? Bacalah ini!

Terimakasih telah menyalakan api, telah menyediakan transfortasi paling nyaman untuk menjemput rinduku pada kata-kata. Bacalah walau satu kata, tulislah walau satu huruf. Walau angin tak lagi mengantarkan suara,tapi pena dapat berkata-kata dalam bisu… . ( Komentar Eka Susilawati dalam http://jendelailmumedia untukberbagi.blogspot.com/2012/03/mari-membaca. html#comment-form )

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 30, 2012 in Uncategorized

 

MENULIS: Silabus

Isna Sulastri
FKIP Uninus

DESKRIPSI MATA KULIAH
Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki oleh setiap mahasiswa. Melalui perkuliahan ini mahasiswa dibimbing agar mereka memiliki kompetensi dan performansi  yang memadai dalam menulis karangan ilmiah. Untuk ini, mereka harus mengetahui: tujuan dan manfaat menulis karangan ilmiah, proses penulisan karangan ilmiah, peran sumber bahan dalam karangan ilmiah dan kaidah bahasa dalam karangan ilmiah. Setelah memahami teori terkait keempat hal tersebut secara rinci dan mendalam, diharapkan mereka pun mampu mengimplementasikan teori-teori yang dipelajarinya dalam menulis karangan ilmiah, Dengan demikian insya-Allah mereka pun dapat menghadirkan dirinya sebagai “Guru Bahasa Indonesia yang Profesional” kelak.

KOMPETENSI DASAR
Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan: (1) tujuan dan manfaat menulis karangan ilmiah, (2)  proses penulisan karangan ilmiah, ( 3) peran sumber bahan dalam karangan ilmiah, dan (4)  kaidah-kaidah penggunaan bahasa dalam karangan ilmiah ( terkait dengan ejaan, diksi, kalimat dan paragraf ). Berbekal pencapaian keempat tujuan itu, mahasiswa diharapkan (5) mampu membuat karya ilmiah sederhana, dalam rangka berlatih menerapkan teori yang sudah dipelajari. Setelah itu mahasiswa pun diharapkan (6) mampu menyunting naskah sendiri, sehingga menghasilkan karya ilmiah yang lebih baik.

INDIKATOR
Sesuai tuntutan kompetensi dasar di atas, diharapkan  mahasiswa mampu mencapai indikator berikut:
1)    menjelaskan hakikat karangan ilmiah;
2)    menjelaskan tujuan menulis karya ilmiah;
3)    menyebutkan tiga langkah pokok penulisan karangan ilmiah;
4)    menjelaskan langkah-langkah merancang karya ilmiah;
5)    berlatih merancang karangan karangan ilmiah;
6)    menjelaskan peranan sumber bahan dalam penulisan karya ilmiah;
7)    menjelaskan aturan dalam mengutip sumber bahan;
8)    menerapkan kaidah pengutipan dalam penulisan karya ilmiah;
9)    menjelaskan kaidah bahasa dalam karangan ilmiah;
10)    berlatih menerapkan kaidah bahasa Indonesia dalam karya ilmiah sendiri;
11)    menjelaskan hakikat menyuting karya ilmiah;
12)    menjelaskan tujuan menyunting karya ilmiah;
13)    berlatih menyunting karya ilmiah sendiri;
14)    berlatih menyunting kesalahan ejaan pada karya ilmiah sendiri;
15)    berlatih menyuntingnya kesalahan diksi pada karya ilmiah sendiri;
16)    berlatih menyuntingnya kesalahan kalimat pada karya ilmiah sendiri;
17)    berlatih menyuntingnya kesalahan paragraf pada karya ilmiah sendiri;
18)    menghasilkan karya ilmiah yan baik.

MATERI PERKULIAHAN
Agar mahasiswa memperoleh pengetahuan yang memadai tentang tulis-menulis karangan ilmiah, mereka perlu mempelajari  materi berikut.

1.    Tujuan Perkuliahan  Menulis di Perguruan Tinggi
2.    Proses Penulisan Karangan Ilmiah
2.1  Merancang
2.2  Mendraf
2.3  Menyunting
3.    Merancang Karya Ilmiah
3.1  Pengertian Merancang
3.2  Langkah Merancang
3.3  Hasil Akhir Kegiatan Merancang
3.4  Latihan Membuat Rancangan
3.5  Manfaat Kegiatan Merancang

4.    Ihwal Sumber Bahan dalam Penulisan Karya Ilmiah
4.1  Peran Sumber Bahan dalam Penulisan Karangan Ilmiah

  • Pengertian Sumber Bahan
  • Jenis Sumber Bahan
  • Manfaat Sumber Bahan
  • Hubungan Sumber Bahan dengan Daftar Pustaka

4.2  Kiat Memanfaatkan Sumber Bahan
4.3  Mengutip Bahan

  • Pengertian mengutip
  • Jenis kutipan
  • Kaidah Pengutipan
  • Latihan Memanfaatkan Kutipan dalam Karya Ilmiah

5.    Kaidah Bahasa dalam Karangan Ilmiah
5.1  Ihwal Paragraf

  • Pengertian paragraf
  • Jenis paragraf
  • Ciri paragraf yang baik

5.2  Ihwal Kalimat Efektif

  • Pengertian kalimat efektif
  • Syarat kalimat efektif
  • Contoh kalimat efektif

5.3  Ihwal Diksi

  • Pengertian diksi
  • Ketepatan dan kesesuaian diksi

5.4  Ihwal Ejaan

  • Kaidah pemakaian dan penulisan huruf
  • Kaidah penulisan kata
  • Kaidah penulisan unsur serapan
  • Kaidah tanda baca

6.    Menulis Karya Ilmiah
6.1  Sikap Ilmiah yang Perlu Dimiliki Penulis Karya Ilmiah
6.2  Latihan Menulis Karya Ilmiah sesuai Kaidah

7.    Menyunting Karangan Ilmiah
7.1  Pengertian Menyunting
7.2  Proses Menyunting
7.3  Latihan Menyunting
7.4  Manfaat Menyunting

8.     Manfaat Menulis Karya Ilmiah

PENILAIAN
Nilai akhir untuk mata kuliah Menulis ini akan diberikan jika mahasiswa sudah memenuhi semua komponen penilaian yang disajikan di bawah ini:
1)    kehadiran, minimal 75 %;
2)    tugas/latihan/kuis;
3)    Ujian Tengah Semester (UTS);
4)    Ujian Akhir Semester (UAS).
5)    Partisipasi dan kontribusi selama kegiatan tatap muka
Selain keempat komponen di atas, partisipasi dan kontribusi mahasiswa selama kegiatan tatap muka berlangsung akan diberi penghargaan dengan bobot paling tinggi.

RUJUKAN
Semua buku yang memuat materi yang tersaji dalam silabus ini, dapat digunakan sebagai rujukan. Semakin banyak dan semakin beragam buku yang dibaca oleh mahasiswa, tentunya akan semakin luas dan semakin dalam pula wawasan mereka tentang hal-hal yang terkait dengan tulis-menulis karangan ilmiah. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut siap berburu buku, terutama buku baru baru yang bermutu.
Sekedar pegangan awal, mahasiswa dapat memanfaatkan buku-buku di bawah ini. Silakan cari! Sebaiknya mahasiswa mencari buku terbitan terbaru.

* Akhadiah, S., dkk. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga
* Efendi S. Panduan Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar. Bandung: Remaja Rosdakarya
* Keraf, G.. Komposisi. Ende-Flores: Nusa Indah
* Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta: Balai Pustaka

Selamat, semoga bermanfaat

BAS, Bandung, Pebruari 2012

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 18, 2012 in Uncategorized

 

PERAN DAN TANGGUNG JAWAB GURU BAHASA INDONESIA DALAM BIDANG FONOLOGI

oleh: Isna Sulastri
FKIP Uninus

 

ABSTRAK

Era globalisasi menuntut setiap guru agar senantiasa meningkatkan kompetensi dan performansinya terutama dalam bidang keahlian masing-masing. Salah satu bidang keahlian guru bahasa Indonesia adalah yang terkait dengan fonologi. Kompetensi dan performansi dalam bidang ini sangat diperlukan oleh guru bahasa Indonesia yakni sebagai fondasi baginya dalam mempelajari tatabahasa Indonesia. Wacana ini menyajikan ulasan singkat berkaitan dengan fonologi dan peran serta tanggung jawab guru bahasa Indonesia terkait dengannya.

Kata kunci: guru, fonologi, bahasa Indonesia

 

PENGANTAR

Fonologi atau  ilmu bunyi merupakan satu bidang ilmu yang  mempelajari bunyi-bunyi bahasa dari suatu bahasa pada umumnya. Para pengguna bahasa terutama guru dan atau calon guru bahasa sangat perlu   mempelajari ilmu bunyi ini karena  bahasa pertama-tama bersifat bunyi. Bagi pengguna bahasa, pengetahuan tentang bunyi-bunyi bahasa ini sangat diperlukan sebagai fondasi utama dalam mempelajari tata bahasa, dalam hal ini morfologi dan sintaksis bahasa tertentu.

Dengan pengetahuan yang memadai tentang fonologi itu, diharapkan setiap pengguna bahasa akan memiliki fondasi yang kokoh di bidang ilmu bunyi. Hal ini penting artinya bagi guru bahasa, karena menurut profesor kita, Fuad Abdul Hamied (2009),   “ … guru bahasa, seperti halnya guru mata pelajaran lainnya berada dalam  dunia pendidikan yang saat ini ditandai dengan basis kokoh pada ilmu pengetahuan”. Menurut beliau, guru yang kokoh dalam ilmu pengetahuan yang dimilikinya akan mampu berkompetisi dengan baik dalam pertarungan dunia pendidikan di abad 21  ini.

Jika para guru dan pengguna bahasa sudah membekali dirinya dengan kompetensi dan performansi di bidang fonologi itu, diharapkan mereka akan terhindar dari kesulitan dalam mempelajari tatabahasa. Dengan fondasi yang kokoh dalam bidang fonologi, para pengguna bahasa akan dapat meminimalkan kekeliruan dan atau kesalahan dalam melafalkan dan atau menuliskan fonem-fonem bahasa tertentu.

Kekeliruan dalam melafalkan dan menuliskan bunyi bahasa, adakalanya  akan mengakibatkan makna kata yang dibangun oleh bunyi bahasa tersebut akan berubah. Dalam hubungan ini, Miftahul Khairah (2009) mengatakan bahwa,  “Dengan mengubah satu bunyi, kita dapat mengubah kata dan maknanya”. Untuk membuktikan pandangannya ini, beliau mengangkat contoh meat dan beat di dalam bahasa Inggris. Hanya dengan mengganti satu bunyi /m/ dalam meat dengan bunyi /b/ dalam beat menjadikan makna kedua kata itu langsung berubah. Beat bermakna “rute, dentuman gendrang, denyut” sedangkan kata benda meat  berarti “daging” (Echols dan Shadily, 1982: 52 dan 376). Berdasakan contoh tersebut, kita mengetahui bahwa kekeliruan dalam mengucapkan dan atau menuliskan satu bunyi saja ternyata membuat makna kata yang dibangun oleh bunyi-bunyi itu menjadi jauh berbeda, bukan? Oleh karenanya, guru harus mampu membimbing murid agar selalu cermat dalam mengucapkan dan menuliskan kata tertentu.

Dalam bahasa Indonesia, dapat pula diangkat beberapa contoh sejenis itu, misalnya kata “fonemik” dan “fonetik”. Kekeliruan dalam mengucapkan dan atau menuliskan satu bunyi, yakni dari bunyi /m/ dalam istilah “fonemik” menjadi bunyi /t/,  dalam “fonetik” akan mengakibatkan maksud yang ingin disampaikan oleh pembicara dan atau penulisnya akan sampai kepada pendengar atau pembaca dengan makna yang berbeda sekali. Sajian singkat mengenai  “fonetik” dan “fonemik”  ini antara lain dapat  dilihat pada http://uniisna.wordpress.com/2011/07/13/467/.

Kekeliruan-kekeliruan seperti  itulah yang tidak boleh terjadi. Guru bahasa harus  mampu menumbuhkan kesadaran di hati siswa akan akibat yang ditimbulkan oleh kekeliruan itu. Dengan demikian diharapkan murid-murid kita akan berusaha untuk selalu berhati-hati dalam melafalkan dan atau menuliskan setiap lambang bunyi yang membangun kata.

Untuk keberhasilan para pembelajar bahasa Indonesia, tentu saja tuntutan seperti itu terutama dibebankan ke pundak guru, terutama guru bahasa Indonesia. Mengapa harus guru? Karena dalam reformasi pendidikan, menurut Dede (2006) yang dikutip oleh Hamied (2009:329) “kunci perbaikan pendidikan itu ada pada guru”. Oleh karena pembicaraan sebelumnya menyangkut pembelajar bahasa Indonesia, tentu saja tanggung jawab itu berada  di pundak guru bahasa Indonesia. Karenanya guru bahasa Indonesia berkewajiban membimbing murid mengenal bunyi-bunyi bahasa Indonesia dan melatih mereka melafalkan dan atau menuliskan bunyi-bunyi tersebut dengan tepat.

Untuk itu, menurut Hamied, “ … guru perlu secara terus menerus memperoleh pendidikan dan pelatihan”. Nah, Anda yang kini membaca wacana ini, sebenarnya secara tidak langsung tengah menjalani salah satu bentuk pendidikan dan pelatihan dimaksud, bukan? Oleh karena itu, wahai para guru bahasa Indonesia, mari membaca, mari kita belajar menjadi penggali dan pencinta ilmu, terutama ilmu bunyi. Mari kita jadikan fonologi ini sebagai fondasi yang kokoh bagi keberhasilan kita dalam belajar dan mengajar bahasa Indonesia. Jika ilmu bunyi sudah menjadi milik kita, selanjutnya marilah kita –dengan ikhlas– membagikan ilmu tersebut kepada murid-murid, sebagai wujud infak kita kepada insan-insan penerus yang sangat kita cintai. Dengan begitu insya-Allah –pelan tapi pasti– dunia pendidikan dan pengajaran bahasa Indonesia di masa mendatang akan lebih berkualitas dan siap bersaing di era globalisasi ini.

REALITA BAHASA DI BIDANG FONOLOGI

Kalau kita lihat kenyataan di lapangan, rupanya masih ada pengguna bahasa yang belum melafalkan dan menuliskan bunyi-bunyi bahasa tertentu sesuai pelafalan dan penulisan yang seharusnya. Di antara bunyi dimaksud adalah bunyi /f/ dalam kata  “fakir”. Kata “fakir” ini terdiri atas bunyi: /f/, /a/, /k/, /i/, dan /r/. Kata tersebut  oleh sebagian pengguna bahasa Indonesia sering diucapkan dan dituliskan menjadi “pakir” yang dibangun oleh bunyi-bunyi /p/, /a/, /k/, /i/, dan /r/, seperti dalam “pakir miskin”. Begitu pula dengan bunyi /f/ dalam kata “sifat” sering diucapkan atau dituliskan menjadi “sipat”. . Lagi-lagi, bunyi /f/ mereka ubah menjadi bunyi /p/. Hal yang sama juga terjadi pada saat pengguna bahasa melafalkan dan menuliskan kata “lafal” yang sering diubah menjadi “lapal”. Walau kekeliruan ini tidak mengubah makna kata, tetapi seyogianya tetap menjadi perhatian guru.

Tidak hanya itu.  Kalau kita dengarkan tuturan saudara-saudara kita yang berasal dari tanah Jawa, mereka sering pula mengubah bunyi /a/ menjadi bunyi /e/, misalnya dalam kata jadian “mengucapkan” yang terdiri atas bunyi /m/, /e/, /n/, /g/, /u/, /c/, /a/, /p/, /k/, /a/, /n/ seringkali mereka ucapkan menjadi “mengucapken” yang terdiri atas bunyi-bunyi “/m/, /e/, /n/, /g/, /u/, /c/, /a/, /p/, /k/, /e/, /n/”. Hal yang sama juga mereka lakukan pada sederetan kata lainnya.

Contoh:

mengharapkan menjadi mengharapken

mendengarkan menjadi mendengarken

menerangkan menjadi menerangken

Sehubungan dengan contoh di atas, professor kita,  J.S. Badudu, (1979) selaku salah seorang pakar bahasa Indonesia, mengingatkan bahwa “… tidak ada huruf dalam bahasa Indonesia yang boleh dilafalkan dua macam”. Kalau kita rajin mencermati kenyataan di lapangan, mungkin saja Anda selaku pembaca wacana ini akan menemukan banyak sekali penyimpangan jenis lainnya yang dilakukan oleh para pengguna bahasa di seantero negeri ini. Tentu saja tidak terkecuali di kalangan para guru dan murid-murid kita di sekolah, bukan? Untuk meyakinkan pembaca, silakan lakukan survei kecil-kecilan tentang ini. Setelah itu … tindaklanjutilah.

Jika realita seperti itu memang banyak ditemukan di lapangan maka selaku guru bahasa Indonesia seharusnya kita segera mengambil sikap, sebab kebiasaan seperti itu tidak boleh dibiarkan tumbuh subur di kalangan  murid-murid, apalagi di kalangan para guru. Kebiasaan seperti itu seharusnya dikurangi dan jika mungkin dihilangkan sedini mungkin, mulai dari jenjang Sekolah Dasar ( SD ).

Mengapa harus mulai dari SD? Karena Sekolah Dasar merupakan fondasi / peletak dasar segala ilmu pengetahuan yang harus dipelajari murid, termasuk ilmu bunyi sebagai bagian dari isi pelajaran bahasa Indonesia. Agar murid-murid kita memiliki kemampuan melafalkan dan menuliskan lambang bunyi dengan tepat maka pembenahan untuk ini haruslah dimulai dari kalangan para guru di jenjang yang paling dasar pula, yakni guru-guru SD.

Guru-guru pada jenjang Sekolah Dasar harus betul-betul berupaya dengan segala cara untuk membekali dirinya dengan kompetensi dan performansi tentang bunyi-bunyi bahasa. Ini sangatlah penting, guna membangun fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan dan keterampilan murid-murid di bidang bahasa Indonesia, khususnya fonologi. Inilah satu dari sekian banyak “peer” yang seharusnya diselesaikan sesegera mungkin oleh para guru bahasa Indonesia.

Jika upaya itu dilakukan, insya-Allah mutu pendidikan bahasa Indonesia di masa yang akan datang tidak akan terus terpuruk, seperti yang sering didengungkan dewasa ini. Andai kita (baca:guru bahasa Indonesia) mampu mewujudkan harapan ini, sangat mungkin di masa yang akan datang  murid-murid kita akan  siap dan mampu berkompetisi dengan siswa dari kawasan lain di era globalisasi ini.   Benarkah demikian? Jawabannya tentu saja “ya”, terutama  jika kita percaya pada pandangan Samsuri (1994:91) yang mengatakan bahwa “Orang yang sudah terlatih dalam ilmu bunyi biasanya mempunyai pengetahuan dan kemahiran menganalisis dan menghasilkan setiap bunyi bahasa, karena ia telah tahu tentang struktur dan fungsi peralatan ujar…”

Selanjutnya, kalau kita cermati tuntutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 mata pelajaran bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar, di dalamnya akan ditemukan Kompetensi Dasar (KD) yang menuntut murid-murid SD mampu melafalkan dengan tepat bunyi-bunyi bahasa Indonesia. Kompetensi dasar ini tentu harus dapat dicapai oleh murid-murid, sebab pembelajar yang sukses adalah pembelajar yang mampu mencapai kompetensi dasar yang terdapat di dalam kurikulum. Sudahkah kita membimbing murid sesuai tuntutan KD tersebut?

Persoalannya sekarang, siapakah yang seharusnya membimbing para murid di Sekolah Dasar mencapai tuntutan itu? Tanggung jawab utamanya tentulah berada di pundak guru-guru  bahasa Indonesia yang mengajar di SD bukan? Di antara guru dan atau calon guru dimaksud, termasuk Anda yang kini mempelajari fonologi melalui wacana ini. Anda setuju? Jika ya, marilah kita berpacu untuk mencerdasi diri masing-masing, dalam rangka membangun citra guru bahasa Indonesia di era kesejagatan ini.

Setelah itu mari berlomba pula membekali murid-murid kita dengan kompetensi dan performansi berbahasa melalui bimbingan dan latihan-latihan ringan di bidang fonologi ini. Dengan begitu kita dapat berharap kiranya mereka kelak akan mampu melafalkan dan menuliskan bunyi-bunyi bahasa Indonesia sesuai pelafalan dan penulisan baku yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Jika dikaitkan dengan kepentingan penelitian, khususnya penelitian tentang bahasa. Samsuri (1994:91)  pun mengatakan bahwa “Penyelidik bahasa yang ingin memperoleh hasil yang sebaik-baiknya, perlu menguasai ilmu bunyi dan pemakaiannya. Tanpa menguasai ilmu bunyi, ia akan kandas pada hasil yang tidak sempurna dan tidak memuaskan, karena bahasa pertama-tama bersifat bunyi.” Jadi, sebelum seseorang meneliti bahasa, seharusnya mereka mendalami ilmu bunyi ini terlebih dahulu, sampai dia mampu membedakan bunyi-bunyi bahasa yang terdapat dalam bahasa yang ditelitinya. Tidak hanya itu, dia harus mampu pula  mengucapkan dan menuliskannya sesuai bunyi yang didengarnya. Dengan begitu, diharapkan dia akan berhasil melaksanakan tugasnya sebagai penyelidik bahasa yang sukses. Insya-Allah.

BAS Bandung, 6 Januari 2012

______

Pembaca yang budiman,

Komentar dan kritik Anda saya tunggu dengan senang hati. Terima kasih sebelumnya.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 5, 2012 in Uncategorized

 

PSIKOLINGUISTIK: Silabus

oleh: Isna Sulastri

DESKRIPSI MATA KULIAH

Mata kuliah Psikolinguistik ini membahas hubungan  bahasa dengan faktor kejiwaan seseorang ( Pedoman FKIP Uninus, 2010:77 ). Materi perkuliahan  mencakup ihwal pemerolehan dan pemelajaran bahasa, khususnya bahasa Indonesia. Bertemali dengan ini maka mahasiswa selaku calon guru bahasa Indonesia perlu berusaha semaksimal mungkin untuk menguasai teori sesuai tuntutan kompetensi dasar dan indikator yang ditetapkan. Setelah itu diharapkan mahasiswa pun mampu mengimlementasikan teori yang dipelajarinya.

KOMPETENSI DASAR

Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan dapat memperoleh wawasan yang memadai tentang hal-hal berikut:

1)      bahasa, berpikir dan berbahasa;

2)      posisi psikolinguistik dalam kajian bahasa;

3)      konsep dasar psikolinguistik;

4)      pemerolehan bahasa dan seluk beluknya;

5)      pemelajaran bahasa dan seluk beluknya;

6)      hubungan bahasa dengan faktor kejiwaan;

7)      manfaat mempelajari psikolinguistik.

 

MATERI PERKULIAHAN

Untuk pencapaian tujuan sesuai tuntutan indikator di atas, seyogianya mahasiswa mempelajari dan memahami materi di bawah ini.

1.    Posisi Psikolinguistik dalam Kajian Bahasa

1.1  Hakikat Bahasa, Berpikir dan Berbahasa

1.2  Bahasa dalam Kajian Internal

1.3  Bahasa dalam Kajian Eksternal

2.   Konsep Dasar Psikolinguistik

2.1   Pengertian Psikolinguistik

2.2   Sejarah Lahirnya Psikolinguistik

2.3   Tujuan Mempelajari Psikolinguistik

2.4   Tujuh Subdisiplin Psikolinguistik

2.5   Dua Bidang Kajian Utama Psikolinguistik

3.   Ihwal Pemerolehan Bahasa

3.1  Pengertian Pemerolehan Bahasa

3.2  Proses Pemerolehan Bahasa

3.3  Perbedaan Pemerolehan Bahasa dengan Pemelajaran Bahasa

3.4  Beberapa Hipotesis tentang Pemerolehan Bahasa

3.5  Beberapa Jenis Gangguan Berbahasa

4.   Ihwal Pemelajaran Bahasa

4.1  Hakikat pemelajaran Bahasa

4.2  Sejarah Pemelajaran Bahasa

4.3  Dua Tipe Pemelajaran Bahasa

4.4  Beberapa Teori tentang Pemelajaran Bahasa

4.5  Faktor-faktor  yang Mempengaruhi Keberhasilan Pemelajaran Bahasa

4.6  Pengaruh Faktor Kejiwaan terhadap Bahasa Seseorang

 5.   Manfaat Mempelajari Psikolinguistik

5.1  Manfaat bagi pengguna bahasa pada umumnya

5.2  Manfaat bagi guru dan atau calon guru bahasa Indonesia

MODEL PERKULIAHAN

Selama mengikuti perkuliahan ini  setiap mahasiswa seyogianya  melakukan upaya maksimal untuk mendalami materi perkuliahan melalui kegiatan mandiri dan diskusi kelompok, dengan mengacu kepada buku sumber utama yang disepakati. Dengan cara seperti ini diharapkan mahasiswa dapat saling asah dan saling asuh. Setelah itu,– untuk meningkatkan penguasaan materi– maka dalam forum tatap muka akan dilakukan tanya jawab, presentasi individual/kelompok, debat, ceramah terbatas dan aneka jenis kegiatan lainnya yang memberi peluang kepada mahasiswa untuk menunjukkan kompetnsi dan performansinya.

 

PENILAIAN

Sesuai ketentuan yang tertuang dalam buku Pedoman FKIP Uninus Bandung (2010:42) maka nilai akhir untuk mata kuliah ini hanya akan diberikan jika mahasiswa sudah memenuhi semua komponen penilaian berikut:

1)      kehadiran;

2)      tugas/latihan/kuis;

3)      Ujian Tengah Semester (UTS);

4)      Ujian Akhir Semester (UAS).

Dalam penentuan nilai akhir, selain keempat komponen di atas partisipasi dan kontribusi mahasiswa selama kegiatan tatap muka berlangsung akan mendapat penghargaan paling besar dengan bobot paling tinggi di dalam mata kuliah ini.

BUKU PEGANGAN

Buku pegangan utama yang dipakai dalam mata kuliah ini adalah Psikolinguistik karangan Abdul Chaer yang diterbitkan oleh Rineka Cipta. Untuk memperluas wawasan mahasiswa maka semua buku yang memuat materi yang tersaji dalam Silabus ini juga dapat dipergunakan. Semakin banyak dan semakin beragam buku yang dibaca mahasiswa, tentunya akan semakin luas dan semakin dalam pula wawasan mereka tentang psikolinguistik dan seluk beluknya, bukan?. Oleh karena itu, seyogianya setiap  mahasiswa rajin berburu buku, terutama buku baru yang bermutu.

Selamat, semoga sukses dan bermanfaat!

CATATAN

Silabus ini masih berifat tentatif. Oleh karena itu masukan dan usul dari mahasiswa untuk penyempurnaan silabus ini sangat ditunggu. Terima kasih.

BAS Bandung,   Agustus 2011

Isna Sulastri

Tugas 1: ( dikerjakan secara berkelompok, satu kelompok maksimal lima orang )

Baca dan pahamilah isi bab satu dan dua buku Psikolinguistik karagan Abdul Chaer. Setelah itu, tulislah rangkuman isi kedua bab itu dengan ketentuan sebagai berikut. (1) Tugas ini diketik rapi di atas kertas HVS ukuran A-4 dengan jarak dua spasi. (2) Hasilnya diserahkan langsung kepada dosen Anda pada pertemuan kedua. (3) Sistematika isi rangkuman sebagai berikut.

  1. Pengertian Psikolinguistik
  2. Tujuan Mempelajari Psikolinguistik
  3. Sejarah Kelahiran Psikolinguistik
  4. Posisi Psikolinguistik dalam Kajian Linguistik
  5. Pentingnya Psikolinguistik  dalam Studi Linguistik
  6. Tujuh Subdisiplin Psikolinguistik
  7. Fokus Kajian Psikolinguistik pada Fakultas Pendidikan
  8. Pokok Bahasan Psikolinguistik
  9. Manfaat Mempelajari Psikolinguistik bagi Guru dan atau Calon Guru Bahasa Indonesia

Selamat, semoga bermanfaat.

BAS Bandung,  Agustus 2011

Isna Sulastri

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 17, 2011 in Uncategorized

 

Taman Hati 244343*)

 

Ada satu taman, yang jika ia indah,
keseluruhan hidup kita akan indah.

Taman itu bernama “taman hati”.                                                                                                          Taman hati yang indah itu
berisikan bunga yang namanya syukur,                                                                                                      yang dipupuk dengan tanggung-jawab,

dan … disirami dengan pengakuan
bahwa semua hasil adalah pemberian Tuhan,                                                                                 Taman hati itu seyogianya                                                                                                                            kita siangi dengan kejujuran

dan … kita pagari serta kita gerbangi pula …
dengan keikhlasan menerima apa pun
sebagai keadaan yang terbaik yang masih bisa diperbaiki.

maka,                                                                                                                                                 Janganlah kita menanami hati
dengan ilalang kemarahan.                                                                                                                     Agar hati kita bisa bersatu dalam damai

Sahabatku yang baik hati …                                                                                                             Terimalah aku apa adanya                                                                                                                           Itulah harapan sang hati

 

 

 

 

 

 

 

—–

*) Karya Mario Teguh dengan sedikit modifikasi oleh Isna Sulastri

Gambar: From http://mustoni.blogdetik.com/files/2012/03/hati-748940.jpg

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada September 9, 2011 in Uncategorized

 

FONOLOGI BAHASA INDONESIA ( Bagian 1 )

oleh: Isna Sulastri

          

PENGERTIAN FONOLOGI: Uraian dan contoh

Istilah “fonologi” berpadanan dengan  phonology di dalam bahasa Inggris. Ia merupakan satu bidang khusus dalam linguistik. Fonologi ini dulu di Amerika lebih dikenal dengan  sebutan phonemics tetapi belakangan mereka sering menggunakan istilah phonology (J.W.M. Verhaar: 1984:36). Jika kita lihat kesepakatan tim penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1988:244), fonologi dimaknai sebagai  ilmu tentang bunyi bahasa, terutama yang mencakup sejarah dan teori perubahan bunyi.

Menurut Abdul Chaer (2003:102), secara etimologi istilah “fonologi” ini dibentuk dari kata “fon” yang bermakna “bunyi” dan “logi”  yang berarti “ilmu”. Jadi, secara sederhana dapat dikatakan bahwa fonologi merupakan ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa pada umumnya. Objek kajiannya adalah “fon” atau bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.

Berdasarkan uraian sebelumnya dapat dikatakan bahwa fonologi sesungguhnya merupakan satu sub disiplin linguistik yang membicarakan tentang bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan teori-teori perubahan bunyi itu. Fonologi juga membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa dan cara menganalisnya. Dengan demikian, kegiatan mempelajari bunyi bahasa idealnya tidak hanya sebatas upaya pengenalan bunyi-bunyi itu, tetapi juga harus diiringi dengan latihan menganalisis bunyi-bunyi bahasa tersebut dari segala segi.

Sejalan dengan pandangan sebelumnya,  Verhaar (1984:36) mengatakan bahwa fonologi  merupakan bidang khusus dalam linguistik yang mengamati bunyi-bunyi suatu bahasa tertentu sesuai dengan  fungsinya untuk membedakan makna leksikal dalam suatu bahasa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, leksikal artinya bersangkutan dengan kata (Depdikbud, 1988:510). Jadi bunyi bahasa yang dimaksud oleh Verhaar di sini adalah bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi membedakan makna kata.

Perbedaan tersebut menurut Verhaar selalu terdapat dalam kata sebagai konstituen, yakni unsur bahasa yang merupakan bagian dari unsur yang lebih besar.  Oleh karena itu fonologi dipandangnya  sebagai satu cabang ilmu yang menyelidiki tentang “perbedaan minimal / minimal differences /  pasangan minimal antara ujaran-ujaran. Selanjutnya  Verhaar ( 1984:36) menjelaskan pula bahwa, “Pasangan minimal adalah seperangkat kata yang sama, kecuali dalam satu bunyi”. Pakar lainnya menyebut pasangan minimal ini dengan istilah “kata berkontras”, yaitu dua kata mirip yang memiliki satu bunyi yang berbeda dan menghasilkan makna yang berbeda pula. Bunyi yang berfungsi membedakan makna ini disebut “fonem” dan bunyi yang tidak berfungsi sebagai pembeda makna dinamai “fon”.

Untuk membuktikan apakah sebuah bunyi bahasa tergolong fonem  atau fon, terlebih dahulu harus dicari pasangan minimalnya.

Contoh pasangan minimal:

  • lupa dan rupa
  • fonemik dan fonetik
  •  putra dan putri

Dalam contoh tersebut, /l/ dan /r/ pada kata “lupa” dan “rupa”  berbeda secara fungsional. Artinya, /l/ dan /r/ merupakan fonem-fonem yang berbeda. Kata “lupa” terdiri atas bunyi /l/, /u/, /p/, dan /a/, sedangkan kata “rupa” dibangun oleh bunyi /r/, /u/, /p/, dan /a/. Kalau kita cermati kedua kata tersebut, ternyata yang berbeda hanyalah bunyi /l/ dalam kata “lupa” dengan bunyi /r/ dalam kata “rupa”. Dengan begitu,  /l/ dan /r/ di dalam bahasa Indonesia dipandang sebagai fonem, yaitu lambang bunyi yang berfungsi sebagai pembeda makna. Begitu pula dengan /m/ dan /t/ dalam kata “fonemik” dan “fonetik” serta /a/ dan /i/ dalam kata “putra” dan “putri”.  Sehubungan dengan ini, Verhaar dan Chaer menegaskan bahwa sejauh dapat dibuktikan bahwa suatu bunyi mempunyai fungsi untuk membedakan kata yang satu dari kata yang lainnya  maka lambang bunyi tersebut disebut fonem.

Perlu diketahui bahwa setiap bahasa memiliki khasanah fonem.Yang dimaksud dengan khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam suatu bahasa. Fonem yang dimiliki satu bahasa dengan bahasa yang lain tidak sama jumlahnya. Dalam hubungan ini Samsuri (1994:93) menegaskan bahwa “ … tidak ada dua bahasa yang memakai bunyi-bunyi yang sama benar”. Kalau begitu, berapakah jumlah fonem dalam bahasa Indonesia?  Silakan diskusikan dengan teman-teman Anda, dan berlatihlah menghitung serta mencari contoh-contohnya.

BIDANG KAJIAN FONOLOGI: Uraian dan contoh

Berdasarkan hierarki satuan bunyi, fonologi mencakup fonetik dan fonemik. Berkaitan dengan  ini, Verhaar (1984) mengatakan bahwa banyak ahli linguistik dewasa ini yang menganggap bahwa fonetik termasuk dalam fonologi. Walau Verhaar mengakui ini tetapi dalam bukunya yang berjudul Pengantar Linguistik Umum,  beliau  justru memberi penjelasan yang terkesan menganggap fonetik berbeda dari fonologi. Menurutnya, fonetik menyelidiki bunyi sebagaimana terdapat dalam parole sebagai objek kongkret untuk para ahli linguistik. Bagaimana dengan artikel ini? Di sini fonetik dan fonemik dibicarakan sebagai dua bidang kajian yang sama-sama berada dalam payung fonologi seperti dijelaskan dalam bagan awal tulisan ini.

SEKILAS TENTANG FONETIK

Sependek yang penulis ketahui, fonetik merupakan studi tentang bunyi-bunyi ujar. Maksudnya,  fonetik yang merupakan cabang studi fonologi  ini mempelajari bunyi bahasa tanpa menghiraukan apakah bunyi-bunyi tersebut berfungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Dalam fonetik, bunyi bahasa dipelajari menurut perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Objek kajiannya adalah  “fon “ yakni bunyi bahasa pada umumnya.

Menurut Samsuri (1994:91), “Sebagai ilmu, fonetik berusaha menemukan kebenaran-kebenaran umum dan memformulasikan hukum-hukum tentang bunyi-bunyi itu dan pengucapannya; sebagai kemahiran fonetik memakai data deskriptif daripada fonetik ilmiah guna memberi kemungkinan pengenalan dan produksi (pengucapan) bunyi-bunyi ujar itu”

SEKILAS TENTANG FONEMIK

Berbeda dengan fonetik maka fonemik sebagai cabang studi fonologi mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna. Objek kajiannya terbatas pada fonem/ bunyi bahasa yang berfungsi membedakan makna kata.

Dalam uraian sebelumnya  sudah dicontohkan bahwa  /l/ dan  /r/ dalam kata “lupa” dan “rupa” berbeda secara fungsional. Kata “lupa” terdiri atas bunyi /l/, /u/, /p/, dan /a/ selanjutnya kata “rupa” dibangun oleh bunyi /r/, /u/, /p/, dan /a/. Kalau kita cermati kedua kata tersebut ternyata yang berbeda hanyalah bunyi /l/ dalam kata “lupa” dengan bunyi /r/ dalam kata “rupa”. Oleh karena itu,  bunyi /l/ dan /r/ di dalam bahasa Indonesia, dapat dipandang sebagai fonem yaitu lambang bunyi yang berfungsi membedakan makna.

Oleh karena itu orang Indonesia – bahkan juga orang asing – yang mengerti ilmu bunyi dalam bahasa Indonesia, tidak akan pernah mengacaukan penggunaan kedua lambang bunyi itu. Mengapa? Tentu saja  karena mereka mengetahui bahwa kedua lambang bunyi itu berbeda secara fungsional.

Lain halnya dengan bahasa Jepang. Menurut Verhaar (1984: 8) “ … dalam bahasa Jepang perbedaan  [l] dan [r] tidak fungsional, karena tidak ada pasangan kata yang mengandung kedua bunyi itu yang dapat dipertentangkan”. Sehubungan dengan ini, Verhaar pun menegaskan pula bahwa “ … dalam bahasa Jepang, perbedaan antara [l] dan [r] adalah perbedaan fonetis saja”. Ini berarti bahwa dalam bahasa Jepang, [l] dan [r] bukanlah fonem, tetapi hanya merupakan lambang bunyi atau fon.

Terima kasih, semoga bermanfaat. Komentar, kritik dan saran dari pembaca sangat penulis nantikan untuk penyempurnaan isi dan bahasa wacana ini.

BAS Bandung, 13 Juli 2011

 
14 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 13, 2011 in Uncategorized

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.